Waspada Dua Bulan Hadapi Puncak Musim Kemarau

Foto: ilustrasi

Surabaya, Bhirawa
Kewaspadaan terhadap berbagai akibat dari musim kemarau harus semakin ditingkatkan pada September hingga Oktober mendatang. Sebab, di dua bulan tersebut puncak musim kemarau akan menyelimuti seluruh wilayah Jatim.
Puncak musim kemarau tersebut diperkirakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan mulai berakhir pada November mendatang. Kepala Stasiun BMKG Malang Aminudin Al Roniri menjelaskan, musim penghujan diperkirakan baru mulai awal November dan semakin besar intensitasnya pada Desember. Hal tersebut membutuhkan antisipasi khusus, baik dalam menghadapi puncak musim kemarau maupun peralihan ke musim penghujan.
“Dampaknya tentu ketersediaan air yang berkurang hingga kekeringan. Karena ada beberapa daerah yang sudah tidak hujan hingga 140 hari atau hampir lima bulan,” tutur pria yang akrab disapa Amin tersebut saat dikonfirmasi kemarin, Selasa (3/9).
BMKG mencatat, terdapat 21 titik di Jatim yang Hari Tanpa Hujan (HTH)-nya telah melebihi 100 hari. Titik dengan HTH yang cukup tinggi tersebut tersebar di sejumlah daerah seperti Malang, Sampang, Bangkalan, Mojokerto, Blitar, Tulungagung, Jember, Nganjuk, Lumajang, Banyuwangi, Pasuruan, Magetan dan Kediri. Di wilayah tersebut, HTH mencapai 124 – 144 hari.
Pada wilayah-wilayah yang telah menjadi langganan kekeringan, lanjut Amin, semestinya sudah memiliki antisipasi khusus ketika menghadapi musim kemarau. “Semestinya pemerintah daerah yang langganan kekeringan sudah memilki kebijakan khusus untuk menghadapi puncak musim kemarau. Apakah membuat sumur bor atau embung penyimpanan air,” tutur Amin.
Selain puncak musim kemarau, peralihan musim juga memiliki fenomena alam yang harus diantisipasi. Yakni datangnya putting beliung dan hujan disertai angin kencang. “Pada peralihan musim tentunya intensitas hujan mungkin tidak terlalu tinggi. Tetapi akan diiringi angin kencang bahkan puting beliung,” ungkap dia.
Fenomena tersebut, oleh BMKG telah diantisipasi dengan adanya radar simon untuk peringatan dini. Kepala BMKG Kelas I Juanda Bambang Hargiyono menuturkan, radar simon akan mendeteksi hujan dengan potensi angin kencang hingga puting beliung. Peringatan itu akan keluar satu jam sebelum peristiwa terjadi. “Radar simon juga akan mengupdate informasi pergerakan arah angin dan perluasannya hingga ke wilayah mana,” pungkas dia. [tam]

Tags: