Warga Bantaran Rel KA Mojokerto Tunggu Relokasi

Foto Ilustrasi

Sebanyak 90 keluarga di sepanjang bantaran rel kereta api (KA) Kota Mojokerto akan kehilangan tempat tinggal. Sebab, ada proyek jalur ganda (double track) Jombang-Wonokromo. Tak sekadar ganti rugi, mereka menginginkan adanya relokasi ke tempat yang lebih layak.
Salah seorang penghuni tanah PT KAI adalah Sukesi (50), warga Lingkungan Kedungkwali. Dia bersama suami dan 1 anaknya tinggal di tanah negara itu sejak 20 tahun silam. Dia nekat menempati tanah tersebut lantaran saat itu tak mempunyai tanah sendiri.
Dulu daerah sini masih rawa, daripada tidak terpakai ditempai warga, saya ikutan menempati,” kata Sukesi selaku penghuni tanah PT KAI. Ibu satu anak ini mengaku telah mengetahui adanya rencana pembangunan jalur ganda yang bakal membuat tempat tinggalnya tergusur. Sukesi mengaku tak keberatan jika harus meninggalkan tempat tinggalnya. Namun, dia berharap pemerintah memberikan ganti rugi terhadap bangunan rumah permanen yang kini dia tinggali.
Hal senada dikatakan Suroto (61), warga Lingkungan Kedungkwali. Sejak tahun 1981 dia bersama keluarganya menempati tanah PT KAI. Selain untuk tempat tinggal, rumah permanen itu juga dia gunakan untuk berdagang nasi pecel. Harapan saya dikasih untuk biaya bongkar rumah ini, terserah dikasih berapa. Soalnya saya bersyukur sudah boleh menempati tanah ini selama puluhan tahun, kata suroto warga lingkungan kedungkwali.
Namun, tak semua warga terdampak proyek jalur ganda bersikap legowo seperti Sukesi dan Suroto. Selain berharap ganti rugi, warga juga menginginkan tempat tinggal yang layak. Seperti yang dikatakan Sumari (53), penghuni bantaran rel KA di Lingkungan Prajurit Kulon IV. Sumari berharap dapat tempat di rusunawa karena Dia tidak punya tempat tinggal lainnya.
Sebagai tukang sepatu, penghasilan Sumari rata-rata hanya Rp 40 ribu per hari. Dengan penghasilan itu, dia tak mampu untuk membeli tanah sendiri. Oleh sebab itu rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang dibangun pemerintah di dekat rumahnya menjadi harapan satu-satunya bapak 3 anak ini.

Efa Nofianti
Program Studi Ilmu Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Tags: