Wali Kota Sutiaji Bakal Evaluasi Kinerja KONI Kota Malang

Sutiaji.

(Hasil Jeblok di Porprov Jatim VI)

Kota Malang, Bhirawa
Kegegalan Kota Malang dalam memenuhi target di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI, menjadi perhatian serius Wali Kota Malang Sutiaji. Pasalnya Kota Malang hanya mampu menempati peringkat empat.
Hasil itu tak sesuai dengan target yang ditetapkan sebelum menuju arena pertadiangan awal Juli lalu, yakni runner up. Prestasi yang diukir kontingen kota Malang, berada dibawah Sidoarjo dan Kediri, diposisi posisi tiga dan kedua perolehan medali.
Pemerintah Kota Malang bersiap untuk melakukan evaluasi terhadap kepengurusan Koni. Apalagi selama ini kontingen kota Malang merupakan langganan runner up Porprov sejak even besar itu digelar.
“Tentu saja ini harus dievaluasi. Sebab, saya mendapat informasi bahwa Sidoarjo dan Kediri mampu melampaui perolehan kota Malang. Selisihnya juga cukup jauh, ini tidak boleh dibiarkan,” beber Sutiaji.
Sutijai menambahkan bahwa seharusnya kota Malang bisa mencapai target. Pasalnya selama ini persiapan yang dilakukan dirasa sudah cukup lama. Belum lagi masalah pendanaan juga dirasa sudah cukup lancar.
“Kalau masalah pendanaaan kami rasa tidak ada masalah. Malah untuk Kediri sebenarnya hibah dananya hanya 10 Milyar. Begitu juga dengan Sidoarjo, tetapi mereka bisa lebih unggul dari kita. Kalau di sini untuk hibah dananya mencapai 12,5 Milyar,” tambahnya.
Selain itu, kontingan yang dibawa ke arena lokasi Porprov, Kota Malang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Kota Kediri, Kota Malang Kontingen yang dikerahkan mencapai 570 orang sedangkan Kota Kediri hanya membawa 370 kontingen.
Ini kata Sutiaji ada kesalahan dalam pemetaan, seharusnya dalam membawa kontingen tidak boleh hanya mengandalkan jumlahnya saja kelihatan banyak sementara kualitasnya tidak dipertimbangkan. “Jangan hanya sekedar dibawa ke lokasi tetapi ngak bisa bertanding, ini akan sia-sia,”tuturnya,
Sementara itu, Ketua KONI Kota Malang, Edy Wahyono mengakui bahwa kegagalan kota Malang memenuhi target adalah karena beberapa sebab. Salah satunya adalah kurang jeli dalam memetakan kekuatan lawan. Belum lagi persiapan yang dilakukan dinilai terlalu terburu-buru.
“Perubahan Porprov dari dua tahun sekali menjadi empat tahun sekali juga cukup berpengaruh,” paparnya.
Lebih jauh, Edy menjelaskan bahwa KONI kota Malang juga dirasa terlalu lunak terhadap cabor. Untuk itu, dirinya akan segera mengumpulkan para pengurus cabor. Evaluasi terhadap kegagalan tersebut juga menjadi hal utama yang akan dibahas. [mut]

Tags: