Wagub Tekankan Pentingnya Pemetaan Daerah Bencana

MoU Penanggulangan Bencana Kepala BPBD Jawa Timur Suban Wahyudiono dengan Ketua IABI Jawa Timur Dr. Moh. Fauzi disaksikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak dan Prof. Dr. Syamsul Arif.

Kota Malang, Bhirawa
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, saat membuka rapat koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kota se Jawa Timur di Hotel Atria Gajayana Malang, Rabu 13/3 kemarin mengatakan, jika Pusat Data Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Jawa Timur ini, paling rajin membuat laporan kejadian bencana.
Karena itu, di Jawa Timur selalu mendominasi angka tertinggi laporan bencana di seluruh Indonesia, tetapi kenyataan tersebut menurut Emil bukan berarti di Jawa Timur itu rawan bencana, karena di tempat lain yang masih belum dilaporkan juga banyak.
“Asumsinya bukan seperti itu, justeru Jawa Timur ini, memiliki personil yang tangguh dan rajin, mencatat seluruh kejadian. Ini merupakan prestasi tersendiri, sehingga apapun kejadian yang berpotensi bencana tercatat dengan baik,”tutur Emil Dardak.
Pihaknya, menegaskan jika mengasumsikannya salah, maka orang akan beragapan di Jawa Timur rawan bencana, ini dampaknya tidak baik bagi perkembang dan pertumbuhan ekonomi. Tetapi pada kenyataanya investasi di Jawa Timur tidak pernah berkurang.
Secara logika menurut Emil Dardak, luas wilayah Indonesia mulai Sabang sampai Merauke, memiliki geografis yang berpotensi untuk menjadi bencana, hanya saja tidak dilaporkan sehingga tidak masuk dalam catatan daftar daearah rawan bencana.
Yang lain tidak dilaporkan hanya Jawa Timur yang selalu dilaporkan sehingga jika dijumlah kesannya akan lebih banyak. Kalau saja ditempat lain semua kejadian dilaporkan saya yakin jumlahnya juga banyak,”tukansya.
Menurut mantan Bupati Trenggalek itu, laporan kejadian bencana di Jawa Timur itu, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Seperti laporan kejadian banjir, mulai yang tingginya satu mata kaki, sampai setinggi orang dewasa dicatat secara rinci.
“Banjir yang satu RT, sampai satu Kecamatan bahkan yang menimpa beberapa Kabupaten ini, dicatat, tanpa ada klasifikasinya, ini kesannya jumlah bencananya banyak. Tapi dengan laporan yang rinci, menadakan jika Jawa Timur memiliki pusat pengendalian operasi yang sangat baik,”tukasnya.
Pihaknya lantas mencontohkan, ada 11 banjir yang terjadi, secara kuantiti itu, tidak mencerminkan skala penanganan bencana. Tapi pihaknya tidak mungkin meremehkan satupun kejadian.
“Tetapi ini, harus bisa kita memetakan skala prioritas, yang disesuaikan dengan Sumber Daya Manusia, dan anggaran. Sehingga respon tim dari mana yang harus turun. Tentunya dengan yang logistiknya peralatanya yang memadai,”tambahnya.
Kalau kejadian itu, kecil dan cukup ditangani oleh tim kecil maka tidak perlu mendatangkan tim besar. Mungkin bisa saja diselesiakan hanya tim BPBD di tingkat Kecamtan atau tingkat desa. Disinilah kata dia peranan dan keterlibatan Bakorwil diperlukan.
Sementara itu, pihaknya juga meminta kedepan kertlibatan Karang Taruna sebagai potensi sosial di sebuah desa, yang punya kemampuan fisik, juga dibekali dengan kemampuan penanggulangan bencana.
“Ini penting, para anggota Karang Taruna harus tahu apa yang harus dilakukan apabila ada bencana dan tanda-tanda kejadian bencana, mereka harus sigab, misalnya ada tanda-tanda longsor mereka harus mampu melakukan evakuasi pada korban bencana,”urainya.
Karena itu, program Kampung Siaga Bencana, ataupun desa tangguh bencana, akan menjadi perhatian dia dan Gubernur Jawa Timur Khofiah Indar Parawansa, karena ini juga merupakan pemanasan dari program 99 hari kerja Gubernur.
Sementara itu, Kepala BPBD Jawa Timur Suban Wahyudiono, melaporkan bahwa Rapat Kordinasi BPBD se Jawa Timur itu, mengambil tema Sinergitas Pentahelix Dalam Penanggulangan Bencana, menghadirkan narasumber Prof. Dr. Syamsul Arif, dari Univeritas Pertahanan, Lilik Kurniawan Sekjen IABI, Ketua IABI Jatim Dr. Moh. Fauzi, Ketua Pusat Studi Bencana Hendro Wardhono, CSR Fasilitas PT HM Sampoerna Sri Widyowati Sugih Hastuti, dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Jatim Joko Tetuko. [mut]

Tags: