Usai Dipindah ke Desa Dengkol Kab Malang, Omset Pedagang Hewan Turun

Para pedagang hewan saat aktifitas jual beli hewan sapi, di Pasar Hewan Singosari yang baru, Desa Dengkol, Kec Singosari, Kab Malang. [cahyono/bhirawa]

Kab Malang, Bhirawa
Pemindahan Pasar Hewan Singosari yang sebelumnya di Desa Baturetno dan kini dipindah di Desa Dengkol, Kec Singosari, Kab Malang, banyak dikeluhkan pedagang hewan setempat. Pemindahan pasar hewan ini karena pasar hewan lama terdampak pembangunan Jalan Tol Pandaan – Malang. Akibatnya pedagang menempati pasar hewan baru mengalami penurunan omzet penjualan.
Penurunan omzet pedagang ini, kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Hewan Singosari, Kab Malang, H Yunus Fauzan, Minggu (17/3), disebabkan minimnya fasilitas yang ada di Pasar Hewan Singosari ini. Diantaranya, tempat jual beli hewan sapi dan kambing tidak ada atap untuk berteduh. Sehingga ketika hujan tiba sapi dan kambing, serta para pedagang kehujanan. Sehingga ketika hujan para pedagang langsung pulang.
”Selain fasilitas juga terjadi penurunan omzet sejak satu tahun terakhir ini, karena saat di pasar hewan yang lama, setiap hari pasaran jual beli ternak didatangi pedagang hingga seribu orang pedagang, dan setelah pindah di pasar hewan yang baru, pedagang hewan yang datang disini tak lebih dari 500 orang pedagang,” jelas Yunus.
Sehingga Yunus meminta kepada instansi yang berwenang untuk segera memenuhi fasilitas Pasar Hewan Singosari yang baru. Dan jika tak segera dibangun, maka penurunan omzet akan semakin bertambah, karena saat ini penurunan omzet mencapai 50%.
”Lahan pasar hewan yang baru ini, lebih luas jika dibangkan pasar hewan yang lama. Karena pasar hewan yang baru ini luasnya mencapai 11 ribu meter persegi, sedangkan yang lama luasnya hanya 6 ribu meter persegi. Meski lahan yang baru lebih luas, tapi sangat minim fasilitas baik bagi pedagang sendiri maupun hewan,” papar Yunus.
Minimnya fasilitas, mulai dari bangunan hingga tiang untuk mengikat hewan. Sehingga mempengaruhi aktifitas jual beli hewan, serta berkurangnya pedagang yang datang di pasar hewan ini. Padahal sebelumnya, pedagang sapi maupun kambing datang dari berbagai daerah, diantaranya dari Blitar, Jombang, Pasuruan, Probolinggo, serta dari daerah Malang Raya ini.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kab Malang, H Hadi Mustofa, yang juga Penasehat Paguyuban Pedagang Pasar Kabupaten Malang (P3KM) mengatakan, dirinya sangat prihatin adanya keterlambatan pembangunan dan pembenahan Pasar Hewan Singosari yang baru. Sebelumnya, Pasar Hewan Singosari ini sebagai rujukan pasar-pasar hewan lain di Jatim.
”Kami berharap kepada PT Jasa Marga selaku pelaksana pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang, yang juga menukar guling lahan Pasar Hewan Singosari, agar segera merespon keluhan pedagang. Karena Pasar Hewan ini merupakan kegiatan ekonomi kerayakyatan yang benar-benar sudah berjalan,” pintahnya.
Menurut Hadi, perputaran uang di pasar hewan ini cukup besar, hingga mencapai ratusan juta rupiah setiap hari pasaran. Sementara, sebagian pedagang hewan dalam beberapa hari lalu sudah melakukan studi banding ke Pasar Hewan Sleman, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Karena hasil studi banding di Pasar Hewan Sleman bisa sebagai referensi pembangunan Pasar Hewan Singosari yang baru.
”Ada apa PT Jasa Marga yang hingga kini belum membangun pasar hewan yang baru?. Padahal, pembangunannya itu tanggungjawab mereka, dan Jasa Marga sendiri juga harus terbuka terkait nilai uang dari hasil tukar guling lahan itu. Maka kami akan membawa persoalan ini ke rapat Komisi di DPRD Kab Malang,” tegas Mustofa. [cyn]

Tags: