Usai di Telepon Wagub Jatim, UB Beri Klarifikasi Soal Camaba Mundur

Kota Malang, Bhiraws
Salah satu calon mahasiswa baru (Camaba) Univeritas Brawijaya (UB) Peter Ananthaputra Judianto, yang hampir mundur jalur SNMPTN, lantaran UKT-nya terlampau tinggi. Pihak UB sempat ditelpon oleh Wakil Gubernur (Wagub) Emil Dardak akhirnya pihak UB memberikan klarifikasinya.
Rektor UB Prof. Dr. Nuhil Hanani, kepada wartawan mengutarakab, pihaknya sempat ditelpon Wagub Emil Dardak untuk kebenaran berita yang beredar tersebut.
“Setelah kami telusuri, Peter memang anak seorang dokter ASN di RSSA. Namun kini sedang sakit dan tak memungkinkan praktek dokter. Waktu itu dia tak mengajukan keringanan, karena kebingungan,”tuturnya, Rabu 15/5 kemarin.
Ternyata dia sudah membayar penuh karena sudah ditanggung rekan kerabat ayahnya. Kemungkinan untuk semester depan akan diajukan, untuk mendapat penangguhan.
Penegasan itu disampaikan oleh  Nuhfil Hanani, kepada awak media, dalam acara Bonsai, Bincang dan Obrolan Santai, di Ruang Jamuan, Gedung Rektorat kampus setempat.
Bahkan ia.lantas menyampaikan Merujuk Peraturan Rektor nomor 17/2019 tentang Penundaan, Penurunan Kategori, Keringanan, dan Pembebasan UKT, SPP, dan SOFP bagi mahasiswa program pendidikan vokasi dan program sarjana.
Nuhfil menjelaskan bahwa ada dua jenis beasiswa, yakni beasiswa Bidik Misi, dimana biaya UKT dan biaya hidup ditanggung; Dan beasiswa lain bagi mahasiswa tidak mampu, pandai, dan kriteria lainnya yang ditetapkan dari pendonor/pemberi beasiswa.
“Kuota bidik misi sekitar 10 persen, sedangkan beasiswa lain lebih dari 10 persen. Total beasiswa lebih dari 20 persen,” jelas Nuhfil.
Sebagai informasi, Peter Ananthaputra Judianto, merupakan siswa SMAN 3 Kota Malang peraih nilai Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) terbaik jurusan IPA tingkat SMA se-Kota Malang. Peter diterima melalui jalur SNMPTN pada jurusan Teknik Kimia UB. Usai melalui proses daftar ulang, peraih nilai sempurna tiga mapel UNBK tersebut, memperoleh UKT Rp. 7.6 juta per semester. Atas besaran tersebut, Peter sempat memilih mundur.
Sementara itu, Wakil Rektor II Gugus Irianto, menambahkan bahwa penundaan tidak berarti tidak ada pembayaran. Penundaan bisa dilunasi sekali atau beberapa kali di semester tersebut.
“Bahkan karena dianggap berat sekali, dengan beberapa data baru tambahan, maka bisa jadi dibebaskan,” terang Gugus Irianto
Gugus lantas menambahkan, Peraturan Rektor nomor 17/2019 tentang Penundaan, Penurunan Kategori, Keringanan, dan Pembebasan UKT, SPP, dan SOFP bagi mahasiswa program pendidikan vokasi dan program sarjana, dapat dilihat di website Universitas Brawijaya. [mut]

Tags: