Unusa Siapkan 454 Tenaga Kesehatan

Prosesi pengambilan sumpah dan pelantikan Ahli Madya, Sarjana dan Ners Fakultas Keperawatan dan Kebidanan serta Fakultas Kesehatan.

Persagi: Jatim Butuh 43% Tenaga Ahli Gizi di Puskesmas
Surabaya, Bhirawa
Kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia cukup tinggi. hampir setiap tahun jumlah tenaga kesehatan terus meningkat. Terlebih hal tersebut juga dibarengi dengan penyebaran tenaga kesehatan yang merata. Khususnya di Jawa Timur. Salah satunya yakni ahli gizi.
Dikatakan Ketua DPD Persatuan Gizi Indonesia (Persagi) wilayah Jawa Timur, Agus Sri Wardoyo, saat ini kebutuhan tenaga kesehatan ahli gizi mencapai 43 persen. Dan baru 54 persen puskemas memiliki tenaga ahli gizi. Itu pun yang tersebar hanya berada di kota-kota besar.
“Kita masih kekurangan 43 persen. Dan ini menjadi target kami untuk bisa terpenuhi. Baru kemudian bisa dilakukan pemerataan dan penyebaran tenaga ahli di seluruh puskesmas di Jatim,” kata dia.
Dikatakan Agus, ahli gizi sangat diperlukan keberadaanya di puskesmas. Itu karena, masalah gizi di Jawa Timur cukup tinggi. terutama persoalan stunting, yang belakangan membuat resah masyarakat Jawa Timur.
“Sehingga tenaga ahli gizi ini perlu disebar ke desa-desa. Dengan program pendampingan para ahli gizi. Jadi harapannya dapat membantu pemerataan dan perbaikan gizi terutama soal stunting,” urai dia.
Oleh karena itu, Agus berharap adanya tenaga ahli gizi lulusan Unusa yang telah dilantik, bisa segera memenuhi kebutuhan gizi di masyarakat.
Selain ahli gizi, kebutuhan tenaga kesehatan keperawatan masih cukup tinggi. Menurut Sekretaris DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Misutarno, salah satu faktor kekurangan perawat di Jawa Timur, karena mayoritas SDM perawat masih keberatan jika ditaruh di daerah. Karena itu, ia menilai jika kondisi itu perlu campur tangan pemerintah dalam penataan bidang kesehatan. “Harapannya bisa menunjang pelayanan kesehatan merata di seluruh pelosok negeri,” lanjutnya.
Menyikapi hal itu, dalam prosesi pengambilan sumpah dan pelantikan Ahli Madya, Sarjana dan Ners Fakulyas Keperawatan dan Kebidanan serta Fakultas Kesehatan, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof Achmad Jazidie mengatakan lulusan Unusa di bidang kesehatan diharapkan segera terjuan ke masyarakat. dan memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan yang saat ini masih deficit. Terlebih peran tenaga kesehatan ke depan semakin penting. Apalagi dengan adanya bonus demografi yang didapatkan Indonesia.
“Bicara bonus demografi, rasio angkatan kerja terhadap keseluruhan penduduk Indonesia akan benar dirasakan manfaatnya kalau sektor kesehatan dan pendidikan digarap dengan baik,” katanya. Kendati begitu, Jazidie menyatakan jika kualitas pendidikan dan kesehatan tidak digarap dengan baik maka bonus demografi akan menjadi bencana.
“Oleh sebab itu profesionalitas dan etika moral dalam mengabdikan diri di bidang masing-masing harus ditanamkan. Lulusan Unusa juga harus membiasakan diri bekerja dalam sebuah tim. Pentingnya kemampuan untuk berkomunikasi,” ujarnya.
Jazidie mengungkapkan lulusan tenaga kesehatan Unusa yang mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah tahun ini sebanyak 454 orang dari enam prodi. Yakni, terdiri dari 124 lulusan prodi Ners, 104 lulusan D3 perawat, 99 lulusan D3 bidan, 36 lulusan kesehatan masyarakat, 33 lulusan ahli gizi dan 58 lulusan analis kesehatan.
Prof Jazidie menambahkan usai dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah, Unusa menyerahkan para lulusan kepada organisasi profesi masing-masing. Seperti Ikatan Bidan Indoensia (IBI), dan Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNI). Selain itu Persatuan Analis Laboratorium Kesehatan Indonesia (Patelki), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). [ina]

Rate this article!
Tags: