Uji Bebas Psikotropika

S. Mahargono (1)Oleh :
S. Mahargono
Staf di Setwan  DPRD Jawa Timur.

Sebuah “burung besi” kecil menabrak gedung Flight Safety Internasional di bandara di Wichita, Kansas, Amerika Serikat (AS), akhir Oktober 2014. Bagian kepala pesawat terhunjam masuk atap gedung. Akibat kecelakaan pesawat tersebut, 4 orang tewas dan 5 lainnya terluka. Tiga diantara korban tewas merupakan staf yang bekerja di dalam gedung. Satu korban lagi, pilotnya.
Kecelakaan pesawat  jenis Beechcraft  itu dipastikan bukan disebabkan oleh human error (kesalahan pilot). Juga bukan disebabkan kerusakan pada pesawat. Juga tidak melanggar rute, melainkan dihempas badai yang datang tiba-tiba. Pesawat ingin kembali ke landasan pacu, tetapi  “dikejar” dan dihempaskan oleh badai siklon. AS memang dikenal sebagai negeri badai yang bisa datang kapan saja, tanpa memandang musim. Tetapi kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi.
Sejatinya moda transportasi udara memiliki sistem (regulasi) yang lebih baik. Diantaranya melalui UU Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. Yang diatur bukan hanya saat di udara, melainkan srana dan prasarana di bandara juga diatur sangat baik. Termasuk di dalamnya faktor KKOP (Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan). Lebih lagi terhadap kru pesawat, diatur pada pasal 59 ayat (1), di dalamnya terdapat kewajiban pemeriksaan kesehatan. Juga syarat menjaga kemampuan (tetap ketrampilan).
Sehingga setiap kru angkutan udara mestilah siap, trampil, sehat dan profesional. Setiap kru (pilot, dan petugas kabin) masing-masing memiliki lisensidengan kewajiban pembaruan secara periodik. Plus pertanggungan asuransi dengan premi sangat memadai. Maka (jika ditegakkan benar), sangat sulit untuk menerobos “celah” regulasi, kecuali dilakukan secara berjamaah.Yakni oleh pejabat pada Ditjen Perhubungan Udara, pengelola bandara, maskapai, serta kru pesawat.
Misalnya, sudah beberapa kali ditemukannya pilot dalam keadaan terpengaruh obat-obatan psikotropika. Memang penggunaan obat-obatan psikotropika tidak dilakukan di udara, melainkan di darat beberapa saat sebelum masuk bandara. Karena itu diperlukan uji bebas narkoba, sesaat sebelum bertugas. Untuk ini (pemeriksaan) diperlukan waktu sekitar 1,5 jam (dengan metode cepat).
Sudah kelewat banyak korban harta, raga dan jiwa, terbuang sia-sia dalam tragedi transportasi publik. Di darat (jalan raya) di laut dan di udara selama setengah tahun terakhir, sampai menjadikan trauma berkendaraan umum. Ironisnya, kecelakaan lalulintas di darat, di luat dan di udara hampir seluruhnya (95%) disebabkan faktor human error.
Tertinggi di Dunia
Kini, penyebab kecelakaan transportasi publik bertambah lagi. Yakni, management error, kesalahan tata-kelola sistem transportasi. Umumnya berupa pelanggaran regulasi yang dilakukan oleh per-orangan atau sindikasi.Pada jenis moda angkutan umum, tragedi kecelakaan seluruhnya disebabkan oleh kru. Kesalahan manusia dibalik stir kendaraan, bisa berupa tidak terampil, ugal-ugalan, sampai dibawah pengaruh narkoba dan miras.
Secara umum, kecelakaan lalulintas di Indonesia tergolong paling tinggi di dunia. Lebih lagi jumlah korban meninggal, tiada yang menandingi di se-antero lima benua. Misalnya, hanya dalam waktu tiga hari pelaksanaan Operasi Lilin 2014 (24-26 Desember), korban tewas tercatat 74 orang. Itu tidak termasuk kecelakaan AirAsia yang merenggut 155 jiwa penumpangnya. Jawa Timur menjadi daerah dengan jumlah kecelakaan tertinggi, bersama-sama dengan Jawa Barat.
Tingginya angka kecelakaan dan korban jiwa di Jawa Timur dapat dilihat dari dua pekan Operasi Ketupat Semeru 2014 (untuk arus mudik lebaran). Jumlah korban jiwa akibat kecelakaan di darat sebanyak 64 orang. Yang luka berat 111 orang. Korban jiwa ini sudah menurun, karena tahun lalu (juga hanya selama dua pekan) yang meninggal sebanyak 84 orang.  Ini berarti setiap hari terdapat 2-3 orang korban jiwa, meninggal akibat kecelakaan lalulintas.
Jumlah kecelakaan juga tergolong spektakuler. Selama dua pekan Operasi Ketupat terjadi laka-lantas sebanyak 559. Jadi selama sebulan, kira-kira bisa terjadi  lebih dari 1.200 kasus kecelakaan. Atau sehari 40 kasus kecelakaan. Ini tentu sangat memprihatinkan.Setiap detik di jalanan, faktor human error bisa mengancam siapa saja, sesama pengendara, penumpang angkutan umum, pejalan kaki atau bahkan yang sedang duduk-duduk di warung kopi.
Agaknya, Polisi perlu menambahkan syarat, yakni bebas alkohol dan zat psikotropika pada setiap pengurusan SIM (Surat Izin Mengemudi). Metodanya bisa melalui pemeriksaan darah, dilakukan oleh bidang kedokteran kepolisian. Manakala ditemukan kandungan alkohol dan psikotropika, Polisi wajib membatalkan permohonan SIM, sekaligus mengantar calon pemilik SIM ke panti rehab atau ke ruang tahanan.
UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalulintas telah banyak mengatur berbagai hal sekitar pengemudi dan kendaraan. Tetapi yang diatur hanya “penampakan” luar. Misalnya pasal 310 ayat (1) hingga ayat (4) memang telah merinci orang (pengemudi) dan kendaraan yang mengakibatkan kecelakaan. Begitu pula pasal 287 ayat (5) telah merinci batas kecepatan terendah dan tertinggi. Serta pasal 283 yang melarang ugal-ugalan dalam mengemudi.
Hukuman Terberat
Kondisi “dalam” tubuh pengemudi belum diatur. Padahal kondisi “dalam” tubuh lebih sangat menentukan. Misalnya pengaruh obat-obatan serta minuman keras. Tragedi kecelakaan di Tugu Tani (Jakarta) yang merenggut korban jiwa 10 orang, nyatanya, tak cukup hanya memberlakukan UU Lalulintas. Sungguh tidak adil apabila pengemudi yang menyebabkan meninggalnya 10 orang hanya dihukum maksimal 6 tahun.
Pengadilan di berbagai negara saat ini menerapkan UU lain (tambahan)  untuk membuat efek jera pengemudi busuk secara luar-dalam. Di China, pada Juli 2009 menjatuhkan hukuman seumur hidup terhadap Sun Weiming yang menyeruduk beberapa orang dan menewaskan 4 korban. Hukuman yang sama dijatuhkan terhadap seorang anggota DPRD (pada Juni 2010), Yang Shunzhong, yang mengemudikan BMW menyerduduk belasan orang dan menewaskan 4 korbannya.
Hukuman lebih berat dijatuhkan oleh Pengadilan San Antonio (Amerika Serikat) kepada pengemudi perempuan, Sandra Brigss. Vonis hukuman penjara 45 tahun dijatuhkan walau hanya menyebabkan 1 orang (polisi) tewas. Vonis lebih berat (51 tahun penjara) dijatuhkan kepada Thomas Gallo yang menabrak seorang atlet dan seorang mahasiswa.Pengadilan di berbagai penjuru dunia itu namaknya sangat geregetan terhadap pengemudi mabuk. Namun sesungguhnya tragedi pencabutan nyawa secara sia-sia di jalan, bisa dicegah. Tak lain dengan persyaratan bebas alkohol dan zat psikotropika pada saat mengurus SIM. Begitu juga untuk memperpanjang SIM, manakala pengemudi mulai berhubungan dengan “zat setan” pasca memperoleh SIM.
Uji kir, juga harus dilaksanakan secara rigid. Misalnya, emisi gas buang kendaraan umum (bus dan truk) rata-rata buruk. Begitu juga kelayakan fisik yang mestinya tidak merekomendasi kendaraan bermotor untuk berlalu-lalang di jalan raya. Tapi toh kendaraan-kendaraan buruk tetap digunakan untuk menaikkan penumpang. Uji kir periodik satu tahunan atau enam bulanan yang tidak valid itupun masih diperparah dengan pemeriksaan asal-asalan kendaraan di bengkel perusahaan otobus (PO).
Sedemikian  pentingnya, sampai Dirjen Perhubungan Darat menerbitkan surat edaran berisi “tanpa kompromi” (di jembatan timbang maupun di jalan raya). Dalam suat bertanggal 12 Januari 2012 itu ditegaskan, bahwa UU Lalulintas tidak mengenal sanksi administratif. Melainkan langsung sanksi pidana.

                                                                       ————— *** —————

Rate this article!
Uji Bebas Psikotropika,5 / 5 ( 1votes )
Tags: