Udara Bersih, Modal Penting Peradaban Masa Depan

Oleh
Ida Wahyuni
Penulis Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Secara riil, ada pemahaman bahwa bisnis perdagangan dan lingkungan hidup adalah dua kondisi yang tidak dapat berjalan secara bersamaan. Dalam pelaksanaannya, salah satunya sering harus dikorbankan demi eksisnya yang lain. Sementara itu, saat ini globalisasi dengan geliat liberalisasi perdagangan yang bermotif kapitalistik justru semakin menampakkan keberadaannya.
Perkembangan yang tidak terkendali bisa menjadi ancaman besar bagi keberadaan lingkungan hidup yang notabene ancaman besar bagi keberlangsungan hidup manusia dimuka bumi.
Tata ekonomi dunia dewasa ini yang pro pasar (industrialisasi), kerap dianggap sebagai pemicu kerusakan lingkungan. Seperempat perdagangan barang di dunia ini melibatkan barang-barang yang langsung diturunkan dari basis sumber daya alam yang menyangga perekonomian global.
Sejak tahun 70-an masalah lingkungan telah dirasakan umat manusia sebagai persoalan bersama yang menuntut pengelolaan bersama pula baik oleh negara-negara maju maupun negara-negara berkembang.
Berbagai fenomena seperti pemanasan global, lubang pada ozon, naiknya air laut, hujan asam justru kini menjadi sumber ketakutan manusia. Lalu muncul kesadaran, bahwa kegiatan manusia di muka bumi berikut dampaknya secara rapih terkotak-kotak dalam negara-bangsa. Misalnya, dalam sektor-sektor (energi, pertanian perdagangan) dan dalam bidang yang menarik perhatian (lingkungan, ekonomi, sosial). Pengkotak-kotakan itu akhirnya mulai mencair, seakan menghadapi musuh bersama bernama “krisis global” diantaranya krisis lingkungan, pembangunan dan energi.
Komitmen Negara
Masalah krisis global ini bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah negara. Bahkan ini menjadi agenda penting negara dalam usahanya melestarikan lingkungan hidup global. Berbagai pertemuan dan kebijakan pun sudah dilakukan.
Beberapa langkah yang sudah dilakukan antara lain dengan membangun kembali keterkaitan erat antara pembangunan dengan perlindungan lingkungan hidup, komitmen negara maju untuk meningkatan kerjasama internasional melalui program peningkatan pembangunan di negara-negara berkembang. Masyarakat internasionalpun menilai bahwa perlindungan lingkungan hidup menjadi tanggung jawab bersama dan perlindungan lingkungan hidup tidak terlepas dari aspek pembangunan ekonomi dan sosial.
Bagi negara maju, persoalan lingkungan terutama disebabkan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan (over exploitations) dalam rangka pembangunan di negara-negara berkembang. Sedangkan bagi negara berkembang sumber permasalahan terutama ada pada negara-negara maju dengan revolusi industrinya, dengan gaya hidup mewah dan boros telah menguras persediaan energi dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Dibandingkan dengan negara-negara berkembang yang masih berkutat pada pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya.
Faktor lingkungan dianggap sebagai penghalang bagi perdagangan internasional oleh negara maju dengan adanya ecolabelling. Juga, penerapan ISO 14000 dan banyak lagi produk ramah lingkungan dengan dalih tekanan konsumen (consumer’s drivern).
Relokasi industri maupun masuknya arus investasi dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang dilakukan pula demi menghindari persyaratan lingkungan yang relatif lebih ketat di negara-negara maju. Dalam hal ini dikuatirkan menjadi “pollution havens” (sampah polusi, tempat polusi). Dengan demikian liberalisasi perdagangan justru akan mengganggu upaya perlindungan kualitas lingkungan global.
Kebutuhan Penting
Tuntutan adanya suatu lingkungan yang bersih adalah alasan yang estetik dan sehat agaknya memengaruhi elastisitas pendapatan yang sangat tinggi. Misalnya, orang miskin akan hidup dalam lingkungan yang kotor dan beracun yang dapat mempercepat kematian mereka.
Ada argumen lain yang membenarkan pembuangan limbah ke negara miskin. Udara bersih adalah barang mewah atau sekadar masalah “estetika” yang belum dibutuhkan oleh mereka yang miskin. Sebagian besar perhatian mengenai limbah industri berkutat pada pengaruh-pengaruhnya di masa mendatang dan dampak langsung limbah tersebut terhadap kesehatan mungkin sangat sedikit.
Contoh kasus adalah orang sering hanya perlu mengamati data statistik tentang penyakit radang saluran tenggorokan, asma dan pneumonia pada anak-anak. Hal ini pernah terjadi di di negara berkembang seperti Mexico City dan Sao Paulo. Walaupun bagi sebagian pelancong, limbah atmosfir itu tampak “estetik”; namun bagi sebagian besar orang yang mudah terserang penyakit, limbah itu menjadi ancaman terhadap hidup mereka sendiri.
Di negara berkembang lain, kedatangan industri tersebut disambut “hangat” oleh sebagaian kalangan. Kita ambil contoh di Indonesia. Hadirnya tempat industri yang secara normal mengemisikan” relatif lebih besar zat-zat pencemar dibandingkan industri bersih. Sementara kaum environmentalis berangkat dari idealisme untuk menjaga lingkungan agar tetap harmonis dengan kehidupan manusia dan makhluk lainnya.
Konflik-konflik yang terjadi antara negara-negara maju, berkenaan dengan isu persaingan menjadikan negara-negara berkembang sebagai tumbal, akibat penerapan standar yang ketat diantara mereka. Negara maju kemudian “melemparkan” industrinya ke negara berkembang. Alasannya, untuk meningkatkan pendapatan negara. Hal itu justru disambut hangat oleh negara berkembang, tanpa menyadari kerugian ekologis yang ditimbulkannya.
Kapan, dimanapun, dan bagaimanapun wacana ekologis harus terus-menerus dikonstruksikan paling tidak untuk meminimalisir kerusakan lingkungan bagi peradaban di masa datang. Masih ada celah tanpa lagi harus berfikir sinis atau mungkin “sembrono” mengatakan bahwa si miskin di negara berkembang dapat lebih baik jika tidak pernah lagi bersentuhan dengan semua “bantuan” si kaya negara maju.
Maka, mulailah berfikir bagaimana mengubah cara mencapai pertumbuhan ekonomi atau meningkatkan pendapatan. Itu semua tidak harus lewat jalur ekonomi atau bisnis semata, tetapi juga lewat pemanfaatan jalur sosial dan lingkungan. Artinya faktor biaya lingkungan dan sosial harus masuk ke dalam biaya produksi. Mengapa? Karena selama ini biaya lingkungan dan sosial kerap diberikan ke rakyat. Inilah bentuk baru ekonomi pembangunan yang disebut ekonomi berkelanjutan. Dan sekali lagi jangan pernah berhenti untuk membicarakannya.

———- *** ———–

Tags: