Tongam Lumban: OJK Imbau Masyarakat Waspadai Jasa Pinjaman Online

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam Lumban Tobing didampingi Kepala OJK Jember Azilsyah Nurdin usai sosialisasi terkait fintech ilegal Jember Roxy Square, Selasa sore (27/8) kemarin.

(Ada 1.230 Fintech Online Ilegal)

Jember, Bhirawa
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menyosialisasikan bahaya jasa pinjaman online ilegal (fintech ilegal) kepada masyarakat. Berdasarkan data, tercatat 1.230 fintech ilegal yang saat ini beroperasi di Indonesia. Sedang fintech yang legal atau tercatat di OJK hanya 127 fintech.
‘Fintech yang tidak mengatongi ijin dari OJK tidak akan menjamin keamanan si peminjam, bahkan cenderung menjadi sasaran intimidasi dan pelecehan jika terlambat untuk mengangsur atau melunasinya. Karena fintech ilegal ini dapat mengakses seluruh kontak yang ada di ponsel si peminjam, ” ungkap Ketua Satgas Waspada Investasi (SWi) Tongam Lumban Tobing dalam sosialisasi terkait fintech ilegal Jember Roxy Square, Rabu (28/8) kemarin.
Selain itu, menurut Tongam, fintech ilegal menerapkan besaran bunga yang lebih tinggi dari ketentuan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). “AFPI menerapkan bunga hanya 0,8 persen/hari. Dan penerapan denda maksimal 90 hari sejak peminjam tidak membayar. Sementara dendanya maksimal 100 persen dari jumlah pinjaman pokoknya,” ujarnya.
Oleh karena itu, jika terjadi adanya intimidasi dan pelecehan, Tongam menghimbau agar masyarakat yang merasa terintimidasi dan dilecehkan oleh fintech ilegal tersebut untuk melaporkan ke polisi. “Masyarakat harus melapor ke polisi agar bisa diusut. Ini agar memberikan efek jera kepada mereka (fintech ilegal),” imbau Tongam yang saat ini menjabat Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan OJK kemarin.
Tongam juga mengatakan, bahwa fintech ilegal kuat dugaan dananya dari hasil kejahatan (proses pencucian uang) karena sumbernya tidak jelas dari mana.” Masyarakat tdak tahu asal modal fintech ilegal itu darimana. Indikasinya mereka tidak mau beroperasi secara legal,” paparnya pula.
Oleh sebab itu, Tongam meminta masyarakat untuk lebih cerdas saat melakukan pinjaman online dengan memberikan kiat-kiat khusus kepada masyarakat. Pertama, saat akan melakukan pinjaman, pastikan fintech yang akan dipilih terdaftar dalam OJK.
Kedua, masyarakat diminta melakukan peminjaman sesuai dengan kemampuan membayar cicilan. Ketiga, masyarakat diminta menggunakan dana pinjaman untuk kebutuhan produktif bukan konsumtif. Keempat, masyarakat diminta memahami aturan main dan risiko dari pinjaman online tersebut. “Jika ingin mengetahui mana fintech yang legal dan fintech ilegal bisa melihat di website resmi OJK atau tanya langsung ke hotline kami di 157,” pungkasnya pula.(efi)

Tags: