Tolak Rektor Baru, Demo Mahasiswa Undar Jombang Ricuh

Aksi demo mahasiswa Undar Jombang menolak rektor baru berjalan ricuh, mahasiswa sempat memblokade akses jalan masuk dan keluar kampus setempat, Kamis (25/10). [Arif Yulianto/ Bhirawa]

Jombang, Bhirawa
Aksi unjuk rasa (demo) mahasiswa Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, di dalam area kampus universitas setempat Kamis (25/10) berlangsung ricuh. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh penolakan mahasiswa terhadap rektor baru yang dipilih oleh pihak yayasan Undar.
Unjuk rasa rasa yang digelar oleh ratusan mahasiswa di dalam kampus ini awalnya berjalan dengan damai dan tertib. Sejumlah mahasiswa saling bergantian melakukan orasi di depan gedung Pasca Sarjana Undar, sembari membentangkan sejumlah spanduk penolakan terhadap rektor yang baru.
Setelah kurang lebih satu jam aksi berjalan, kericuhan mulai terjadi ketika seluruh massa unjuk rasa memaksa masuk ke ruang Pasca Sarjana Undar untuk menemui pengurus yayasan. Sementara untuk meredam aksi mahasiswa tersebut, Ketua Yayasan Undar Jombang, Ahmada Faidah memilih untuk melakukan audiensi dengan sejumlah perwakilan mahasiswa dan dosen Undar, serta mantan rektor, HM Mudjib Mustain, di dalam gedung Pasca Sarjana Undar.
Usaha audiensi yang dilakukan oleh Yayasan tampak tidak berjalan mulus. Terlihat aksi mahasiswa makin memanas. Bahkan, mahasiswa sempat menutup akses pintu masuk dan pintu keluar kampus. Ketua Yayasan Undar yang berusaha meninggalkan kampus dengan mengendarai mobil dihadang oleh puluhan mahasiswa di depan gerbang keluar kampus.
Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undar Jombang, Sofyan Ubaidillah mengatakan, aksi mahasiswa yang berujung ricuh itu disebabkan adanya rencana pelantikan rektor baru yang dinilai cacat hukum oleh mahasiswa.
“Kemarin itu sudah membentuk senat. Hasil rapat senat itu muncul empat calon rektor. Yang tiga mundur, tinggal satu yakni, Gus Mudjib (HM Mudjib Mustain), otomatis Gus Mudjib. Tapi pihak yayasan untuk saat ini malah mau melantik rektor baru, dari orang luar. Dan itu pasti tidak ada kekuatan hukumnya, karena tidak dari senat,” ujar Sofyan saat diwawancarai sejumlah wartawan.
Disinggung mengenai pemblokiran pintu gerbang kampus, Sofyan menjelaskan, hal tersebut sengaja dilakukan mahasiswa untuk menahan Ketua Yayasan agar tidak meninggalkan kampus sebelum ada penyelesaian tentang permasalahan seperti yang diminta oleh mahasiswa.
“Karena dari pihak yayasan sendiri mau kabur, mau menghindar dari kita dari pertemuan itu. Tidak ada itikat baik,” tambahnya.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Kuasa Hukum Yayasan Undar Jombang, Sholikin Rusli mengatakan, proses pemilihan rektor yang dilakukan sudah sesuai aturan yang ada. Dikatakannya, tidak ada hukum yang dilanggar oleh pihak yayasan.
“Yayasan itu di statuta pasal 16 ayat 2c, yayasan punya fungsi memilih dan menetapkan rektor. Di dalam Permen (Peraturan Menteri) juga diatur, jabatan rektor itu tidak boleh lebih dari dua periode. ‘Lha’ Gus Mudjib sudah dua periode lebih,” jawab Sholikin Rusli.
Ditanya lebih lanjut mengenai aksi unjuk rasa mahasiswa, Sholikin Rusli yang juga dosen di Fakultas Hukum Undar ini menyampaikan, pihak yayasan akan tetap menghargai pendapat mahasiswa. Untuk sementara, lanjut Sholikin, pihak yayasan menunda pelantikan rektor.
“Kita kan juga harus menghargai pendapat mahasiswa. Ya sementara kita cooling down dulu,” pungkasnya.
Hingga Kamis siang (25/10) sekitar pukul 13.00 WIB, masih belum ada kesepakatan antara pihak mahasiswa dengan pihak yayasan terkait persoalan ini. Sementara di dalam Kantor Yayasan Undar Jombang masih terjadi pertemuan antara pihak dosen, yayasan, mantan rektor serta mahasiswa.(rif)

Tags: