Tingkatkan Pemahaman STEM Melalui Eksperimen

Siswa SDN Siwalankerto II bersama mahasiswa UK Petra dan perwakilan Goetche-Institute melakukan eksperimen membuat gelembung di dalam gelembung dalam SSF 2018, Kamis (25/10).

Surabaya, Bhirawa
Memahami materi pembelajaran tidak cukup hanya berdasarkan pada sebuah teori. Dibutuhkan sebuah pembuktian yang disebut dengan praktikum dan eksperimen untuk mengetahui kebenaran teori tersebut. Seperti yang dilakukan Perpustakaan Universitas Kristen Petra Surabaya bekerjasama dengan Goetchs-Institute dalam meningkatkan rasa ketertarikan pelajar di Surabaya dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics).
Menurut penjelasan Kepala Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya Dian Wulandari, berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan oleh PISA dari Organisation for Economic Coorporation and Development (OECD) pada periode 2012-2015 yang mengungkapkan jika Indonesia berada pada ranking 62 dunia untuk nilai siswa dibidang Sains dan Matematika. Dari hasil survey tersebut, pihaknya menilai jika pemahaman anak-anak Indonesia dalam STEM masih sangat rendah.
“Jika saya bandingkan dengan Singapura, peringkatnya jauh di bawah Singapura. Ini karena value masyarakat Singapura terhadap Math dan Sains berada di peringkat satu. Benar jika ada indicator yang berbunyi jika nilai STEM suatu bangsa tinggi, juga akan berpengaruh terhadap kemajuan bangsa,”ungkap Dian Wulandari.
Oleh karenanya, untuk menumbuhkan dan meningkatkan ketertarikan siswa terhadap STEM pihaknya mengajak pelajar di Surabaya pada jenjang SD dan SMA dengan mengemasnya kedalam Science Film Festival (SSF) 2018.
“Di tahun kelima ini, kami berupaya meningkatkan minat dan ketertarikan siswa terhadap STEM ini, melalui SSF 2018. Pada jenjang SD, mereka kami ajak untuk bereksperimen setelah sebelumnya menonton -pemutaran film eksperimen, story telling dan game makanan sehat. Ada empat eksperimen yang dilakukan siswa dan kaitannya erat dengan Sains dan Math,”ungkap
Hal yang sama juga dilakukan pada jenjang SMA. Hanya saja, ada penambahan pembahasan seperti workshop menjadi youtuber pemula, talkshow dan pameran food revolutions. Kegiatan tersebut, diungkapkan Dian Wulandari merupakan hasil kerjasama yang dibangun dengan Goutceh Institut Indonesia untuk fokus pada Food Revolution. “Jadi seperti pemutaran film, story telling, dan eksperimen semuanya terkait dengan Food Revolutions,”lanjut dia.
Oleh karena itu sambung dia, jika minat dan ketertarikan terpupuk sejak dini para siswa akan terus termotivasi untuk mempelajari STEM dengan berbagai cara yang inovatif. “Jadi melalui film kan bisa divisualisasikan secara menarik nah diharapkan minat itu akan tumbuh,” tutur dia.
Dengan begitu, Indonesia bisa mencetak insinyur sebanyak-banyaknya sesuai dengan apa yang dicita-citakan sebelumnya di bidang STEM.
Salah satu peserta dari SDN Siwalankerto II Surabaya, Fathonah Muizzu Alwasii’atul (10 tahun) yang berkesempatan dalam mengikuti eksperimen gelembung. Eksperimen tersebut bertujuan untuk mengetahui proses pembentukan gelembung baik secraa fisika, biologi dan kimia. Serta berbagai faktor yang mempengaruhi gelembung meletus.
Syifa sapa siswa kelas IV ini mengaku jika eksperimen yang dilakukan seperti membuat gelembung dalam gelembung dengan media yang sederhana seperti sabun cukup menarik bagi dia.
“Sebelumnya aku nggak pernah melakukan eksperimen gelembung dalam gelembung. Jadi agak susah. Tapi suka dengan eksperimen itu,” kata siswa kelas empat SD ini.
Susahnya imbuh dia, ketika mulai memasukkan gelembung didalam gelembung yang tidak bisa utuh dan meletus. “Tadi bikin gelembungnya dari sabun cuci. Jadi pengen nyoba dirumah sendiri,” ujar dia.

Hadapi Food Revolutions, Tekankan Olahan Sisa Pangan
Dalam menghadapi food revolutions yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2050, di mana jumlah manusia akan membludak sedangkan satu sisi berpengaruh pada fungsi lahan pertumbuhan pangan yang semakin sempit, maka Universitas Kristen (UK) Petra mempersiapkan diri dengan mensosialisasikan olahan pangan sisa.
“Kita bekali mereka bagaimana cara dalam menyikapi dan menghadapi fenomina ini. ini akan kita sampaikan dalam bentuk pameran teknologi pangan maupun pameran olahan pangan,” tutur Ketua Panitia SSF 2018, Vincent Prasetyo.
Seperti lanjut dia, pemanfaatan dan penggunaan hidangan sisi makanan. Contohnya, ampas kopi yang diolah menjadi media tanaman jamur dan jembatan hidrolis. Selain itu, pembuatan pudding yang berbahan dari kulit roti dan teknik pemotongan sayur agar bisa tumbuh dengan subur.
“Misalnya panen sawi putih, ini harus sesuai teknik agar tanaman bisa tumbuh subur. Jadi tidak hanya mengkonsumsi tapi juga konservasi,” jelas dia.
Lebih lanjut, pameran makanan sebagai sumber energi juga ditunjukkan dalam buah lemon. Di mana bahan makanan lemon bisa menghasilkan sumber energi. Menurut Vincent,tiga buah lemon mampu menghasilkan sumber energi listrik sebesar 3 volt. Sebab lemon memiliki kandungan senyawa sitrat yang dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik.
Di samping itu, pada SSF 2018 pihaknya juga mengajak siswa SDN Siwalankerto II untuk mengikuti game plan your plate untuk membedakan jenis makanan yang tergolong, protein, vitamin, mineral dan karbohidrat.
“Anak-anak yang maish duduk dibangku SD ini kan suka jajan sembaranagn dan cenderung mengkonsumsi fast food. Jadi kami ingin mengajari mereka sejak dini untuk mengetahui makanan 4 sehat 5 sempurna sebagai penunjang kualitas hidup mereka,” pungkas dia. [ina]

Tags: