Tindakan Kurang Terpuji Oknum Dokter Berdampak Nama Baik RSUD Dr Soedomo Trenggalek

Saeroni

Trenggalek, Bhirawa
Pasca viral oknum Dokter yang di duga melakukan pungusiran terhadap salah satu aktivis pejuang disabilitas yang mendampingi pengurusan surat keterangan di Poli Umum RSUD Dr.Soedomo Trenggalek, Maka Direktur Rumah sakit akhirnya angkat bicara. Dan berimbas pada pemindahan jabatan sang Dokter.
Saeroni Direktur RSUD dr.Soedomo Kabupaten Trenggalek dalam keterangannya menyatakan bahwa Dokter yang bersangkutan untuk sementara waktu di pidah tugaskan ke bagian Administrasi.
“untuk mendudukan persoalan yang sebenarnya seperti apa tindakan dokter tersebut untuk sementara kita pindahkan ke bagian Admninistrasi dulu sambil kita proses” katanya selasa (19/3).
Saeroni lantas menjelaskan ,jika memang dokter yang melakukan kesalahan atau keliru, pihaknya meminta agar dokter yang bersangkutan sudilah kiranya meminta maaf pada pasien maupun pengantar pasien tersebut .
Di katakan oleh Saeroni, apapun bentuknya satu tindakan yang kurang baik di lakukan oleh petugas di RSUD, maka akan berdampak pada Organisasi Rumah Sakit itu sendiri secara keseluruhan termasuk berdampak pada nama baik Kabupaten Trenggalek.
” kalau memang salah harus berjiwa besar untuk minta maaf, saya kira dengan meminta maaf itu bukan suatu hal yang jelek , sebaiknya harus merasa berbesar hati bahwa kita memang berniat untuk melaksanakan atau memberikan pelayanan publik itu dengan lebih baik lagi” tandasnya.
Menurut Saeroni munculnya keributan ini berawal antara dokter dengan pengantar pasien disabilitas. Bertepatan pada hari sabtu tanggal 16 maret 2019, pasien disabilitas yang diantar oleh seseorang aktivis Disabilitas Taryaningsih, ke Poli Umum Trenggalek guna meminta surat keterangan sehat yang akan di gunakan untuk melamar pekerjaan.
Kemudian saat giliran mendapat layanan, yang bersangkutan ternyata minta surat keterangan disabilitas. Permintaan tersebut belum bisa di penuhi, karena pihak Rumah Sakit tidak memiliki blanko yang di maksud.
Mendengar pernyataan tersebut si pengantar lantas menyodorkan contoh blanko, mendapati contoh blanko tersebut, pihak Rumah Sakit akhirnya mengakomodir permintaan tersebut. Dari situ persoalan mulai muncul ketika dokter melakukan pengisian data dalam blanko tersebut. Si pengantar mengatakan dokter ada kesalahan dalam pengisian blanko, Katanya.
“Pengantar tidak terima kalau pengisian blanko itu adalah gangguan sensorik atau tuna wicara. dokter ini mengisi bahwa terdapat gangguan tuna wicara karena memang bicaranya kurang lancar. sehingga dari situ timbul percekcokan, pengantar dibentak menurut keterangan perawat”.jelasnya (wek)

Tags: