Terkait Tuntutan Mundur, Kadispendikbud Pasrah Bupati

Kadispendikbud Kabupaten Situbondo Dr Fathor Rakhman bersama pejabat fungsional saat mengunjungi Filial Kerpang SDN 8 Curahtatal Kecamatan Arjasa. [sawawi]

Soal Terlantarnya Siswa di SDN 8 Curahtatal
Situbondo, Bhirawa
Setelah lama tidak terdengar, saat ini kembali berhembus tudingan lalai kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadispendikbud) Kabupaten Situbondo Dr Fathor Rakhman, Sabtu (17/8). Ada banyak elemen di Kota Santri yang meminta Fathor Rakhman ikut bertanggung jawab atas kejadian terlantarnya puluhan siswa Filial Kerpang SDN 8 Curahtatal Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo, tanpa menerima kegiatan belajar mengajar (KBM) serta tanpa ada pendampingan guru selama 8 bulan lebih.
Ketika dikonfirmasi Bhirawa kemarin, Fathor Rakhman menanggapi santai banyaknya desakan tersebut. Dimata Fathor, ada tidaknya kejadian lalai dalam sistem pendidikan di SDN 8 Curahtatal, sudah ia serahkan sepenuhnya kepada Sekda Syaifullah atau Bupati Situbondo Dadang Wigiarto, selaku atasan langsung Fathor.
“Soal itu (lalai, red) di Dispendikbud Situbondo, kan sudah ada pejabat diatas saya yang menilai. Bisa Pak Sekda atau Bupati. Silahkan anda tanyakan soal itu,” pinta Fathor Rakhman.
Menurut Fathor, sebelumnya tengara adanya kelalaian di SDN 8 Curahtatal sudah didiskusikan pihak BKPSDM dan Inpektorat sehingga sampai mencuat ke ranah publik. Sebenarnya, kupas Fathor lagi, dibawah dirinya ada pejabat fungsional dan setelah dilakukan investigasi di lapangan ada kepatutan Kasek SDN 8 Curahtatal untuk dievaluasi. “Sudah kami sampaikan kepada bupati dan kami sudah punya keputusan untuk dievaluasi. Jadi langkah bupati mencopot jabatan kasek itu sudah benar. Itu sebagai tindakan tegas kepada yang bersangkutan dengan keputusan tersebut (dicopot),” beber Fathor.
Lebih jauh Fathor menegaskan, masa kerja Kasek SDN 8 Curahtatal ternyata sangat lama sekitar 20 tahun lebih. Padahal jabatan seorang kasek itu, akunya, tidak diperbolehkan lama menempati di satu titik sekolah. Nah, lanjut Fathor, setelah pihaknya melakukan pengecekan dilapangan, tingkat kehadiran kasek di sekolah ternyata sangat minim. “Bayangkan saja siswa hanya menerima pelajaran satu pekan sekali. Itu sangat kami sayangkan. Padahal GTT-nya sebanyak 9 orang dan salah satunya merupakan menantu kasek,” terang Fathor.
Masih kata Fathor, secara lebih detail akhirnya diketahui satu GTT ternyata merupakan menantu kasek dan sudah berhenti mengajar cukup lama. Yang ironis, kupas Fathor, data satu GTT tersebut tetap muncul dalam data didapodik sekolah. Berarti, tengara Fathor, disekolah tersebut ada sebuah kolusi antara Kasek dan menantu sebagai salah satu penyelenggara pendidikan. “Setelah kami beri penjelasan, kasek langsung kami beri tindakan secara tegas (dicopot),” pungkas Fathor seraya mengakui dibawah dirinya masih ada pengawas korwil dan Bidang Pendidikan Dasar yang sepatutnya mengetahui peristiwa tersebut.
Diungkapkan sebelumnya sebanyak empat GTT merasa tak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) selama mengajar di Filial Kerpang SDN 8 Cutahtatal Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo. Ke empat GTT tersebut lalu nekat meninggalkan siswa-siswinya tanpa mendampingi dalam proses KBM (kegiatan belajar mengajar).
Akibatnya puluhan siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 di SD setempat terlantar tidak bisa bersekolah seperti SD pada umumnya. Kasus ini kemudian bergulir deras ke berbagai lembaga, termasuk satu diantaranya mencuat di kantor wakil rakyat di Jalan Kenanga Nomor 1 Situbondo. [awi]

Tags: