Terdakwa Tegaskan Perjanjian PO Hanya Dilakukan Sekali

Terdakwa Wong Daniel Wiranata usai menjalani sidang di ruang Candra PN Surabaya, Rabu (13/2). [abednego/bhirawa]

(Sidang Dugaan Perkara Pemalsuan Dokumen) 

PN Surabaya, Bhirawa
Persidangan dugaan perkara pemalsuan dokumen serta penggelapan dengan terdakwa Wong Daniel Wiranata kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (13/2). Sidang yang diketuai Majelis Hakim Maxi Sigarlaki beragendakan pemeriksaan saksi.
Sidang di ruang Candra ini, menghadirkan saksi Soetrisno Diharjo Alias Fredi (saksi pelapor). Dalam keterangannya, Fredi mengatakan jika perkara ini bermula adanya kesepakatan antara Wong Daniel Wiranata dan saksi Prabo Wahyudi terkait kerjasama Proyek Pengadaan Kran dan Valve dari Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kota Balikpapan pada Oktober 2014 lalu.
“Pada saat itu, Daniel (terdakwa) ke rumah saya dengan menunjukkan beberapa lembar foto copy Purchase Order (PO) dari perusahaan air minum Kota Balikpapan,” kata saksi Soetrisno.
Dari nominal proyek ratusan miliar yang diperlihatkan kepadanya, pihaknya mengaku jika pada saat itu dirinya tak mempunyai dana sebanyak itu. Namun dia mengenalkan terdakwa kepada temannya, Prabo Wahyudi yang beralamat di Kalijudan MERR Kota Surabaya. Pada pertemuan itu, terdakwa menyampaikan jika PDAM Kota Balikpapan telah menunjuk CV Sarana Sejahtera yang berada di Surabaya.
Saat itu terdakwa mengaku sebagai Dirut pada CV tersebut. Selain itu, terdakwa memberikan mempresentasikan keuntungan 50% dari hasil proyek. Dari nominal kerjasama Rp 7,5 miliar sesuai Akta Notaris No 26 pada 10 Januari 2015 di hadapan notaris Eny Wahyuni berdasarkan PO pada 2 Oktober 2014 dengan nilai Rp 4,3 miliar serta penyerahan uang kepada terdakwa dengan nilai Rp 7,5 miliar.
Kerjasama lainya, sambung Soetrisno, berupa Purcase Order (PO) tanggal 2 Oktober 2014 dengan nilai Rp 19,5 miliar dan penyerahan uang kepada terdakwa sebesar Rp 12 miliar yang diberikan secara bertahap. Dokumen penyerahan uang secara bertahap dari saksi Prabo Wahyudi kepada saksi Soetrisno Diharjo untuk diteruskan kepada terdakwa Wong Daniel Wiranata dengan 6 lembar kuitansi.
Usai mendengarkan keterangan saksi, terdakwa Wong Daniel Wiranata menyangkal keterangan yang disampaikan saksi Soetrisno. Sebab, menurut terdakwa perjanjian PO hanya ada satu perjanjian sesuai Akte Notaris No 26 pada 10 Januari 2015.
“Perjanjian saya terkait PO tadi, itu cuma satu yaitu yang ada di notaris dan tidak ada perjanjian yang lain,” tegas terdakwa.
Usai sidang, penasihat hukum terdakwa, Nizar Fikri saat dikonfirmasi mengatakan jika pada kasus ini terdapat keganjalan. Sebab pada perjanjian Rp 7,5 miliar telah diikat dalam sebuah perjanjian di hadapan notaris. Sedangkan perjanjian Rp 12 miliar hanya melalui PO.
“Uang Rp 7,5 miliar nominal yang lebih kecil saja melalui transfer dan diikat dengan perjanjian di notaris. Nah ini ada nominal yang lebih besar Rp 12 miliar hanya melalui PO,” pungkas Nizar Fikri. [bed]

Tags: