Tawarkan CFD, Raih Medali Perunggu di INIIC Series II 2019

Tim CFD ITS usai menerima pengahargaan dalam ajang INIIC Series 2 2019 di Selangor, Malaysia.

Masker Asap Kebakaran Hutan Turunkan Kadar CO2 hingga 38 Persen
Surabaya, Bhirawa
Tawarkan CO2 Free Air Device (CFD) sebagai solusi inovatif, Ferdi Saepulah, Filo Sofia Kamila, Ahmad Imam Fatoni, Hafiz Salam, dan Naufal Allam sukses meraih penghargaan perunggu dalam ajang International Invention and Innovative Competition (INIIC) Series 2 2019 di Palace of The Golden Horses, Selangor, Malaysia, Sabtu (2/11) lalu.
Menurut Ketua Tim CFD, Ferdi Sepulah, ide itu muncul berkenaan dengan persoalan asap kebakaran hutan yang belakangan terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Masker yang ada di pasaran kurang efektif dalam menyaring kadar CO2 (karbon dioksida) yang berbahaya bagi pernapasan. Apalagi masker biasa hanya bisa menahan partikel padatan yang ada di udara. Padahal partikel CO2 jika terhirup terlalu banyak akan membahayakan bagi tubuh.
“Dampaknya darah sulit untuk mengirimkan oksigen ke seluruh bagian tubuh. Tapi berbeda dengan CFD yang dapat menurunkan kandungan zat CO2 yang menggunakan prinsip pengotakan udara kotor dengan larutan kapur,” jelas mahasiswa Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini.
Ferdi mengklaim, jika alat inovasi CFD ini efektif dalam menurunkan CO2 hingga 38%. Tidak hanya itu, karya timnya juga diakui cukup terjangkau dan efektif. ”Kelebihan utamanya low cost with high efficiency. Yang dibuat dengan mengutamakan pembersihan CO2 dari udara dengan teknik yang bisa dilakukan pada seluruh kondisi,” jabar mahasiswa Fakultas Teknik Kimia ITS ini.
Dengan persiapan yang terbilang singkat, Ferdi dan tim berhasil mengalahkan beberapa kompetitornya dari berbagai negara. Keberhasilan itu, aku Ferdi, tak luput dari kinerja tim yang maksimal dan pembagian kerja yang efektif. Pemilihan anggota yang berlatar belakang angkatan yang berbeda menjadi salah satu trik. Tim ini memiliki anggota dari angkatan 2019, 2018, hingga 2017.
“Perbedaan tahun angkatan memiliki poin saling melengkapi, setiap angkatan dan umur memiliki perbedaan pengalaman, di mana angkatan baru lebih berfikir kreatif dan angkatan lama lebih berpengalaman menyusun paper dan perakitan alat,” papar mahasiswa kelahiran 1999 itu.
Ditambahkan Ahmad Imam Fatoni, kini timnya tengah fokus dalam pengurusan hak paten dari alat inovatif CFD. Selain itu, juga fokus dalam pembuatan jurnal ilmiah ayang akan dipublikasikan. Pihaknya pun sudah berancang – ancang dalam menyiapkan kompetisi kedepan.
“Kami telah menganalisa bagaimana criteria – kriteria dan cara yang harus dilakukan untuk memperbesar peluang kemenangan mencapai gold medal nantinya,” pungkasnya. [ina]

Tags: