Tak Sekadar Main Game, e-Sport Juga Asah Konsentrasi

Lukman Hakim

Lukman Hakim
Fenomena elektronik sport (e-Sport) kini menjadi ketertarikan bagi pemuda di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Bahkan peminat untuk olahraga ini pun meningkat. eSport sendiri merupakan permainan video game yang bersifat global. Dijelaskan pengamat eSport Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Lukman Hakim, ke depan perkembangan eSport di Indonesia akan semakin popular. Mengingat pemerintah sendiri telah menyiapkan inkubator atlit eSport untuk diajangkan di skala international. Mulai asian games, olimpiade dan world eSport.
“Tidak hanya millenials yang menggandrungi olahraga ini. Bahkan orangtua dan anak-anak pun turut bermain,” ungkap pria yang akrab disapa Lukman ini.
Ia menilai, eSport tidak melulu soal bermain games. Tapi lebih pada adu otak dan adu strategi. Karena itu, yang diperlukan justru adalah latihan fisik dalam meningkatkan konsentrasi. Pria yang kesehariannya sebagai Asisten Dosen Teknik Elektro UMSurabaya ini menambahkan perkembangan eSport nantinya akan menyediakan peluang profesi baru. Tidak hanya sebagai atlet dan wasit, melainkan juga menggali dari sisi bisnis eSport. Dia mencontohkan seperti pengelola event organizer pertandingan games.
“Ada juga yang membuat tim professional eSport. Dari segi bisnis ini sangat menjanjikan sekali untuk kompetisi eSport kedepannya,” tambah anak pertama dari dua bersaudara ini.
Sayangnya, peluang tersebut masih belum mampu ditangkap menjadi sesuatu yang menjanjikan bagi sebagian besar masyarakat di Indoensia. Sebab, paradigma tradisional dan institusi pendidikan yang masih menganggap eSport sebagai hal yang memicu dampak buru.
“Jadi memang paradigma itu harus lebih diubah lebih dulu. Banyak yang beranggapan bahwa bermain game elektronik ini berdampak buruk bagi kehidupan anak-anaknya. Tapi kita juga harus melihat sisi positifnya,” kata pria kelahiran Trenggalek, 4 September 1990 ini.
Misalnya saja, tambah dia, game dapat digunakan untuk hal-hal yang menambah wawasan, contohnya game berbahasa inggris. Ketika memainkan itu, akan secara otomatis juga akan menambah kosakata di dalam belajar berbahasa inggris. Selain itu, ia menilai bermain game strategi juga kan merubah kecerdasan seseorang dalam mengambil keputusan. “Jadi masih banyak yang perlu digali akan manfaat dan ilmu yang diperoleh dalam bermain game itu sendiri,” urainya.
Di samping itu, memberikan edukasi dan pilihan game untuk anak-anak yang masih awam terhadap dunia game juga sangat diperlukan. “Jadi memang perlu dipahamkan jika game ini bukan hanya digunakan untuk bermain atau mengisi waktu luang. Tapi juga mengasah konsentrasi ataupun belajar bermain strategi,” pungkasnya pria yang tengah menuntaskan thesis S2 nya di Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini untuk jurusan rekayasa gambar dan analisa gambar ini. [ina]

Tags: