Tak Ada Bangku, Belajar dengan Cara Lesehan, Konsentrasi pun Buyar

Siswi kelas X di SMKN 1 Tulungagung yang belajar di Ruang Laboratorium dengan cara lesehan karena tidak ada bangku. [Wiwieko]

Nestapa Siswa SMKN 1 Tulungagung
Tulungagung, Bhirawa
Di tengah gencarnya kepedulian terhadap dunia pendidikan, ternyata masih ada saja sekolah-sekolah yang minim fasilitas. Contohnya seperti di SMKN 1 Tulungagung yang kekurangan bangku belajar. Kondisi ini mengakibatkan proses belajar mengajar dengan cara lesehan.
Selama hampir satu semester ini, sebagian siswa kelas X di SMKN 1 Tulungagung terpaksa belajar dengan cara lesehan. Mereka belajar beralaskan tikar karena belum mendapat fasilitas bangku di sekolah. Saat ini jumlah murid di SMKN 1 Tulungagung sebanyak 1.300 siswa. 600 siswa di antaranya merupakan siswa baru di kelas X.
Sejumlah siswa-siswi yang belajar tanpa bangku di ruang laboratorium tersebut mengaku tidak nyaman harus belajar sembari lesehan. Mereka merasa konsentrasinya terganggu saat belajar di kelas. “Sehari-hari begini belajarnya. Soalnya belum ada bangkunya,” ujar salah seorang di antaranya, Rabu (24/10).
Wakasek Humas SMKN 1 Tulungagung, Santika SPi MSi, mengakui jika ada tiga kelas di sekolahnya yang siswa-siswinya harus rela belajar sembari lesehan karena kekurangan bangku. “Kekurangan bangku ini karena jumlah siswa kelas X bertambah dari tahun sebelumnya. Sekarang kami menerima siswa dengan delapan jurusan. Sebelumnya hanya enam jurusan saja,” katanya.
Sejauh ini, menurut dia, belum ada realisasi pengadaan bangku baru untuk mengatasi siswa-siswi yang belajar dengan lesehan itu. Kendati diakuinya sudah ada rencana untuk penambahan bangku tanpa meminta sumbangan dari orangtua atau wali murid.
“Yang jelas untuk sementara di kelas yang tidak ada bangkunya itu dilakukan rolling. Jadi ada perputaran siswa yang sebelumnya duduk dibangku kemudian gantian dengan siswa yang belajar dengan lesehan,” tuturnya.
Santika tidak menjelaskan berapa hari atau berapa minggu sekali terjadi rolling antara siswa yang duduk dibangku dan yang lesehan. “Kami sedang menunggu adanya bangku baru. Ini tergantung pimpinan,” timpalnya.
Pantauan Bhirawa di ruang laboratorium yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar itu tidak dibatasi oleh sekat. Sehingga antara kelas yang satu dengan kelas lainnya terlihat terbuka dan bisa membuat konsentrasi belajar siswa terganggu.
Sementara itu, terkait siswa-siswi yang juga harus belajar di ruang aula, Santika juga mengakuinya karena keterbatasan ruang kelas. “Yang di aula itu dipakai untuk dua kelas. Namun ada bangkunya semua,” katanya.
Soal kabar siswa SMKN 1 Tulungagung juga belajar di saung-saung bukannya di kelas, Santika menandaskan kegiatan di saung tersebut sebagai hal yang wajar dalam pembelajaran di sekolah kejuruan. Apalagi SMKN 1 Tulungagung merupakan sekolah kejuruan bidang pertanian, perikanan dan peternakan. “Jadi wajar saat KBM (kegiatan belajar mengajar) praktik di sawah kemudian siswa berada di saung-saung. Siswa SMK itu praktiknya 75 persen bahkan nanti sampai 80 persen,” paparnya. [wiwieko]

Tags: