Suarakan Ketimpangan Pendidikan Tinggi di Forum Triangle Sci

Rizky Amelia Zein SPsi

Rizky Amelia Zein SPsi
Menjadi satu-satunya delegasi Indonesia di Triangle Sci di Chapel Hill, North Carolina, Amerika. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Rizky Amelia Zein SPsi MSc, mempunyai pengalaman berharga.
Salah satunya mengikuti forum diskusi yang menyinggung soal ketidakseimbangan atau ketidakadilan yang terjadi di komunikasi kesarjanaan. Triangle Sci sendiri merupakan organisasi yang didirikan tiga perpustakaan dari tiga universitas yang berada pada satu area. Yaitu, Duke University, University of North Carolina, dan North Carolina State University.
Menurut wanita yang akrab disapa Amel ini, kini kondisi yang dialami para ilmuan di bagian Selatan cukup tidak adil. Para ilmuan dipaksa untuk bersaing dengan situasi yang sangat timpang.
“Dalam kegiatan itu kami berdiskusi terkait cara agar ilmu pengetahuan bisa mengakomodasi semua konteks dan semua orang. Karena selama ini para ilmuan dari daerah bagian Selatan seperti kita tidak terdengar suaranya. Kami berdiskusi bagaimana cara agar suara kami terdengar di dunia global,” jelasnya.
Ketimpangan yang dimaksud Amel, antara lain pada sumber daya yang dimiliki ilmuan dari Barat. Menurutnya, jauh lebih bagus dibanding ilmuan dari Selatan. Dari segi mentoring yang dimiliki ilmuan dari Barat pun juga jauh lebih baik dari yang ada di bagian Selatan. Bahkan, belum tentu ilmuan dari Selatan memiliki mentoring seperti yang ada di Barat.
“Pada diskusi itu, kami mengidentifikasi sebenarnya ketimpangan terjadi pada bagian apa dan bagaimana strategi untuk mengatasi ketimpangan itu,” lanjutnya.
Tak hanya berhenti pada hasil diskusi, Tim Amel juga berencana untuk mengajukan dana bantuan guna melakukan kegiatan community outreach sebagai tindak lanjut jangka panjang dari strategi yang telah dihasilkan.
Persoalan lain yang dia soroti juga perihal kondisi universitas yang ada di Chapel Hill. ”Saya jujur merasa takjub sekaligus miris ketika mengunjungi Duke University. Meskipun bukan masuk pada Ivy League, namun universitas tersebut cukup prestige disana. Dan fasilitas yang ada disana jauh berkali kali lipat lebih baik dari di Indonesia,” ucap Amel.
Amel menegaskan, hal menarik adalah kenyataan bahwa universitas yang ada di Indonesia dituntut untuk berkompetisi dengan universitas sekelas Duke University, Havard, Stanford atau universitas dunia yang lain. Sementara, jika dilihat dari sumber daya yang ada Indonesia masih jauh dari universitas itu.
Amel menambahkan, sebaiknya Indonesia bisa melakukan definisi ulang terkait universitas seperti apa yang dibutuhkan Indonesia. Dampak seperti apa yang perlu dihasilkan universitas untuk bisa berkontribusi kepada masyarkat Indonesia. Karena apabila menggunakan tolak ukur yang sama dengan universitas kelas dunia, maka jelas kebutuhan masyarakat dan kondisi di Indonesia dan disana berbeda.
“Saat ini perguruan tinggi dituntut untuk mengejar ranking universitas dunia. Namun, perlu direfleksi ulang apakah kompetisi tersebut sudah adil dan benar untuk dilakukan? Atau ada hal yang lebih substansial yang bisa dilakukan bersama selain mengejar ranking dunia,” pungkasnya. [ina]

Tags: