Sri Agustini, Ikon Penjual Rujak Cingur Khas Situbondo

Sri Agustini bersama kerabatnya saat meracik rujak cingur khas Situbondo di teras rumahnya di Jalan Mawar, Kelurahan Patokan, Kecamatan Kota Situbondo. [sawawi]

Melanjutkan Usaha Orang Tua, Dikenal Para Pelanggan Biasa hingga Pejabat
Sawawi, Kab Situbondo, Bhirawa
Rujak cingur merupakan salah satu makanan khas Jatim. Di Situbondo, ada salah satu keluarga yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam usaha penjualan rujak cingur, yakni ibu Buriya. Kini Buriya sudah meninggal karena sakit. Meski telah tiada, usaha rujak cingur Buriya bukan berarti ikut tutup. Sebab usaha tersebut dilanjutkan oleh anak kandungnya, Sri Agustini. Bagaimana kisahnya ?.
Seperti hari-hari biasanya, rumah Sri Agustini di Jalan Mawar, Kelurahan Patokan, Kecamatan Kota Situbondo, selalu dipadati pembeli. Mulai remaja, dewasa, anak-anak pria dan wanita terlihat sabar menanti giliran dilayani Sri. Meski cuaca siang itu sangat panas, tak menyurutkan semangat orang-orang yang ingin menikmati racikan rujak cingur buatan Sri.
Contohnya seperti Slamet yang selalu sabar menanti. Saat tiba gilirannya, Slamet meminta menu rujak yang agak berbeda dibanding pelanggan Sri lainnya. Yakni meminta rujak dengan lombok yang cukup banyak. Sri, yang sudah lama menjajakan rujak cingur hafal betul keinginan Slamet. Tanpa banyak kata Sri memasukkan puluhan butir cabe rawit ke dalam cobek yang sudah ditata di meja depan rumahnya.
Bagi Slamet, rujak cingur sudah menjadi menu makanan rutin disaat cuaca panas seperti saat itu. Selain bisa mengeluarkan keringat, dengan mencicipi rujak dengan rasa pedas bisa menambah semangat dalam menjalani kegiatan sehari-hari. “Saya ketagihan menu rujak cingur bikinan mbak Sri karena rasanya yang mantap. Disamping racikan rempah sempurna juga memiliki kecocokan dengan lidah. Makanya saya selalu ketagihan,” paparnya.
Slamet mengatakan, setiap ada kunjungan teman, sahabat, kolega dan saudara, ia tak segan selalu mengajaknya untuk menikmati menu rujak cingur buatan Sri. Menu ini bertambah nikmat jika dibumbuhi lontong dan tambahan kerupuk serta disudahi dengan minuman es. “Saya dengan mbak Sri sudah seperti saudara. Ini karena dari seringnya saya membeli rujak cingurnya,” ujarnya.
Sementara itu, di mata Sri, Slamet tercatat sebagai pelanggan tetap rujak cingur hasil racikannya. Bahkan setiap pekan Slamet dua sampai tiga kali memesan rujak cingurnya. Bagi dia, banyak Slamet Slamet lain yang ada di Kota Santri menjadi langganan utama rujak cingur hasil olahan tangannya.
Sri mengakui, sejak melanjutkan usaha rujak cingur ibu kandungnya, tak terhitung berapa jumlah para pelanggan tetapnya. Yang jelas, para pelanggan tersebut berasal dari masayarakat biasa hingga menjadi langganan kalangan pejabat pemerintah. “Ada salah satu kepala dinas Pemkab Situbondo yang rutin membeli rujak cingur buatan saya setiap habis salat Jumat,” ungkapnya.
Menurut Sri, kisah awal rujaknya bisa dikenal warga Kota Situbondo dimulai sejak ibunya membuka rujak cingur di kawasan Pasar Pering, Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Kota Situbondo, puluhan tahun silam. Dilokasi tersebut awalnya usaha rujak cingurnya masih sepi.
Seiring dengan bertambahnya waktu, lama-kelamaan pelanggan mulai bertambah. Tak terkecuali para ibu rumah tangga yang hendak berbelanja ke Pasar Puring ikut mampir ke usaha rujak cingurnya Buriya. “Namun karena suatu masalah, akhirnya ibu saya membeli sebuah lahan yang sampai sekarang ditempati menjadi rumah disini (Jalan Mawar, red). Hingga ibu meninggal, akhirnya saya yang melanjutkan usaha ini,” katanya.
Oleh para pelanggannya, sosok Buriya dikenal sebagai panggilan Nde. Akhiranya nama Nde ini, urai Sri, bisa melegenda keberbagai kalangan, terutama bagi warga yang hobi kepada makanan rujak cingur. Oleh ibunya, usaha rujak cingur tersebut dibantu oleh ayahnya bernama Asmadin.
Sejak ibu dan bapaknya tiada, kini Sri bersama suaminya bernama Bambang Maryanto berhasil melanjutkan usaha rujak cingur rintisan ibunya. “Saat ini satu porsi rujak cingur disini dijual Rp10.000. Meski harga sedikit mahal, pelangggan tidak ada yang berpaling. Yang penting rasa tetap saya jaga,” sebut Sri.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Situbondo, Endar Siswanto, juga mengakui sebagai salah satu pelanggan tetap rujak cingur buatan Sri. Bagi Totok-panggilan akrab Endar Siswanto-rujak cingur hasil olahan Sri sangat pas bila dinikmati bersama sanak keluarga.
Bahkan, lanjut Totok, dirinya tak jarang membeli rujak cingur untuk dibungkus sebagai pesanan istri dan anak-anaknya sepekan sekali. “Saya juga rutin membeli rujak rujak cingur disini. Bagi saya ini merupakan salah satu ikon rujak yang paling enak di Situbondo. Tak rugi dengan hanya Rp10 ribu sudah bisa memanjakan lidah,” pungkasnya. [sawawi]

Tags: