SMKN 1 Buduran Ditunjuk Jadi SMK Pariwisata

Chef Jepang Hiroto Akama sedang memberi pelatihan memasak anak-anak tata boga, SMKN 1 Buduran.

Sidoarjo, Bhirawa
Mulai tahun ajaran 2019/2020 ini, ada tiga sekolah SMK di Jawa Timur ditunjuk oleh Direktorat Kemendikbud menjadi sekolah Pariwisata. Yaitu kelompok Tata Boga, Perhotelan, Usaha Perjalanan Wisata dan Spa Beauty Terapy. Salah satunya adalah SMK Negeri 1 Buduran, Sidoarjo.
Untuk mempersiapkan program tersebut, SMKN 1 Buduran Sidoarjo telah menghadirkan Chef dari Belanda dan Jepang, yakni Chef Pipiet dari Belanda dan Chef Hiroto Akama dari Jepang. Kedua Chef tersebut memberikan pembelajaran kedisiplinan dalam hal memasak yang sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) Internasional.
“Karena dalam mempromosikan pariwisata Indonesia, persaingannya sudah Internasional. Maka standar pelayanan kita juga harus menggunakan standar Internasional,” tutur Kepala SMKN 1 Buduran Sidoarjo Dra Agustina, MPd disela-sela memantau proses kegiatan cooking class untuk siswa tata boga.
Menurutnya, siswa sudah mempunyai skill, atau mempunyai keahlian dalam membuat produk makanan, namun masih kurang memperhatikan SOP nya. Diantaranya sebelum melakukan masak harus cuci tangan terlebih dahulu. Begitu juga sesudah proses memasak harus bersih semuanya, dalam penyajian menunya juga harus terlihat rapi dan indah.
“Oleh karena itu kami telang menghadirkan Chef dari Belanda dan Jepang, tujuannya untuk memberikan pelatihan kepada anak-anak tata boga mengetahui prosesnya secara langsung,” jelas Agustina, kemarin (13/8).
Makanya dengan penerapan SOP internasional ini, harapannya bila ada turis dari luar negeri, tentu saja pelayanan juga harus menggunakan standar internasional.
“Bagaimana kebersihannya, sanitasi higienisnya. Harapannya, mereka makan itu tidak ragu, bahwa makanan tersebut adalah tidak mengandung makanan yang berbaya,” tegasnya. Lanjutnya, mereka, turis luar negeri itu sudah mengetahui kalau produk makanan tersebut kurang berkualaitas bisa terlihat dari lingkungannya. Maka yang kita harapkan bisa memberikan makanan yang sehat, termasuk gizi dan higienisnya.
“Supaya warga asing itu makan tanpa ragu-ragu lagi, bahwa dia nanti akan sakit perut dan lain sebagainnya. Jadi kita harus jaga mutu, jaga kualitas yang sebaik-baiknya,” ujar Bu Agustin sapaan akrabnya.
Ia juga menambahkan kalau kurikulum yang diterapkan di sekolah tidak boleh dikurangi, tetapi harus di match kan dengan kurikulum ASEAN tersebut. Kurikulum ASEAN itu sudah benar, dan sudah kami diterapkan di sekolah ini.
“Hanya saja anak-anak ini butuh mempunyai kemampuan bahasa Inggris yang bagus, dan bagaimana mereka harus mentaati SOP yang harus dilaluinya,” pungkas Agustina. [ach]

Tags: