Smamda Gelar Acara Perpisahan Pelajar Asing

Wakil Kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Sulaiman dan Koordinator Rotary Youth Excharge Distrik 3420 Surabaya, Enny Ambarsari, Theodor Schonning Frandsen, serta Tais Suchara Staloch berfoto bersama teman – temannya usai Farewell Party. [trie diana]

Surabaya, Bhirawa
SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menggelar Farewell Party (pesta perpisahan) terhadap dua siswa Program Pertukaran Pelajar, yakni Theodor Schonning Frandsen (asal Negara Denmark) dan Tais Suchara Staloch (asal Negara Brasil) setelah dua siswa asing ini belajar di Indonesia selama sembilan bulan.
Wakil Kepala Sekolah Smamda Sulaiman mewakili Kepala Sekolah Aastajab mengatakan, atas nama sekolah, pimpinan, para staf pengajar, semua karyawan dan seluruh siswa serta teman – teman Theo-sapaan Theodor Schonning Frandsen siswa kelas XII MIPA 4 dan Tais-sapaan akrab Tais Suchara Staloch siswa kelas XI MIPA 1, bila ada ucapan dan perbuatan keluarga besar Smamda yang dinilai tidak cocok dengan budaya Negara Brasil dan Denmark.
“Saya mewakili Kepala Sekolah mengucapkan permohonan maaf kepada Theo dan Tais, bila ada perkataan dan perbuatan kami keluarga besar Smamda yang tidak berkenan karena tidak sesuai dengan budaya dan kebiasaan di negara kalian berdua,” ujar Sulaiman.
Namun, Sulaiman berharap kepada Theo dan Tais tetap menikmati dan senang selama belajar dalam program pertukaran pelajar di Smamda.
Koordinator Rotary Youth Excharge Distrik 3420 Surabaya, Enny Ambarsari yakni pihak yang menjembatani antara pihak Smamda dengan para siswa asing yang ikut pertukaran pelajar mengatakan, setelah Program Pertukaran Pelajar untuk Theo dan Tais selama sekitar 11 bulan selesai maka keduanya akan kembali lagi ke negara asalnya. Untuk periode selanjutnya siswa usia 15 sampai 17 tahun yang lulus tes bisa memilih pergi ke negara yang menjadi pilihannya dan menetap selama satu tahun di negara itu, dan yang lulus akan berangkat pada Bulan Agustus mendatang dan kembali lagi Bulan Juni tahun 2020. Program ini rutin setiap tahun dan ada dampak yang bagus buat negara.
“Jadi anak – anak ini menjadi yang akan menjadi agent of change yang mewartakan bahwa Indonesia itu seperti ini. Sebab statementnya anak – anak itu lebih jujur ya, karena tidak ada tunggangan kepentingan lain,” jelas Enny Ambarsari.
Sedangkan untuk Theo dan Tais diharapkan menyampaikan sesuatu yang baik di negaranya. Dan kedua anak ini yang manis dan baik sehingga diharapkan selalu mengingat Negara Indonesia sebagai bagian dari kurikulum mereka, sedangkan kemampuan Bahasa Indonesia bisa membantu Cross Culture What Ever konsepnya untuk Negara Indonesia dan Negara masing-masing. [fen]

Tags: