Siswa SDN Ngaglik 1 Panik Mengetahui Ada Bencana Alam

Para siswa SDN Ngaglik 1 berkumpul di lapangan sekolah dalam sebuah simulasi bencana.

Kota Batu, Bhirawa
Setelah beberapa kali Kota Batu diterpa musibah bencana alam angin puting beliung dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), hingga badai pasir. Pemerintah Kota (Pemkot) melalui BPBD Kota Batu memperkuat kesiapsiagaan dan pengetahuan mitigasi bencana kepada para pelajar. Sabtu (26/10), mereka menggandeng SDN Ngaglik 1 Kota Batu untuk menggelar simulasi bencana alam di sekolah.
Tentu saja kesiapsiagaan dan pengetahuan mitigasi bencana tidak hanya sebatas puting beliung maupun Karhutla saja. Sebelum dilakukan simulasi, para guru di SDN Ngaglik 1 sudah mengikuti pelatihan mitigasi bencana selama dua hari. Kemudian mereka juga tidak memberitahu kepada para siswa kalau yang terjadi hanyalah simulasi.
Para siswa langsung kaget ketika di tengah proses belajar – mengajar, tiba – tiba mereka dikejutkan bunyi alarm di sekolah yang meraung-raung. Para siswa kebingungan namun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka baru sadar ketika ada yang teriak gempa – gempa. Kemudian mereka diminta oleh para guru untuk bersembunyi di bawah kolong meja.
“Saya pun mengikuti perintah itu. Setelah kondisi aman, kami diminta keluar dari ruangan kelas, sambil melindungi kepala dengan menggunakan tas,” ujar salah satu siswa kelas IV, Ayla, saat berkumpul di halaman sekolah, Sabtu (26/10).
Selama proses simulasi, tak sedikit siswa yang ketakutan hingga menangis akibat panik. Ketika para siswa telah berkumpul di titik aman dalam hal ini di lapangan sekolah, para guru menenangkan siswa yang ketakutan. Mereka menjelaskan, kejadian itu hanya simulasi bencana alam yang hanya dilakukan di SDN Ngaglik 01.
Pelaksanaan simulasi di sekolah ini memang didesain kejadiannya sesuai dengan kondisi sebenarnya. Semua guru dan siswa terlibat. Dan saat itu sebanyak 498 siswa tidak mengetahui jika yang terjadi hanya simulasi.
Kepala SDN Ngaglik 1, Dra Ninit Catur Meindyawati menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan agar para siswa selalu tanggap terhadap bencana yang datangnya tiba-tiba. ”Supaya anak anak dan bapak ibu guru tanggap, terutama melindungi siswa dan siswinya ketika terjadi bencana alam,” ujar Ninit.
Siswa memang sengaja tidak diberitahu untuk melatih kewaspadaan dan kesiapsiagaan anak. Dan Pagi sebelum pelajaran dimulai, diputarkan lagu edukasi bencana. ”Kalau ada gempa lindungi kepala,” begitu bunyi lagu edukasi mitigasi bencana. Lagu ini yang menjadi petunjuk satu-satunya, para siswa saat menghadapi simulasi bencana.
Sementara, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho mengatakan, simulasi ini dilaksanakan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman kepada warga sekolah. Dan dengan simulasi ini diharapkan mampu melatih kesiapsiagaan dan pengetahuan para pelajar terhadap bencana alam.
Simulasi ini akan menjadi investasi bagi ke depan untuk para pelajar. Kalau sewaktu ada ancaman bencana, secara individu para siswa sudah siap menghadapi. ”Oh ya kita pernah dilatih dalam kondisi bencana alam harus melakukan ini. Mereka tahu bagaimana harus menyelamatkan diri,” ujar Gatot. [nas]

Tags: