Siswa Difabel Kabupaten Probolinggo Tampilkan Karya Batik dan Rajut

Tampilkan karya batik dan rajut, siswa difabel demonstrasikan mencanting. [wiwit agus pribadi]

Probolinggo, Bhirawa
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Car Free Day (CFD) terus memfasilitasi tumbuhnya aneka potensi ekonomi kreatif, kreatifitas dan inovasi masyarakat di bidang seni, budaya, olahraga dan kegiatan sosial. Pada pelaksanaan CFD ketiga kalinya ini diantara deretan ratusan stand produk UKM dan IKM masyarakat Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan, ada satu stand yang menarik untuk dikunjungi yakni stand produk para penyandang difabel.
Sedikitnya enam orang penyandang difabel yang bertugas menjaga stand. Tiga orang penyandang tuna rungu dan tiga orang lainnya adalah penyandang tuna daksa. Tidak hanya piawai memasarkan produk andalan mereka, namun kali ini mereka juga mendemonstrasikan nyanting, salah satu proses penting dalam pembutan batik tulis.
“Sebelumnya mereka telah mengikuti Program CSR PT PJB UP Paiton berlatih membatik di galeri batik tulis Ronggomukti selama 25 hari. Alhamdulillah mereka kini bisa membuat karya batik tulis, seluruh display produk disini adalah hasil karya mereka, mulai dari seni rajut sampai kain dan pigora berhias kain batik,” ungkap Mahrus Ali, Owner Galeri Batik Tulis Ronggomukti saat mendampingi kelompok difabel, Senin (4/11).
Mahrus menjelaskan, sebenarnya para penyandang difabel ini memiliki tingkat kecerdasan dan jiwa seni yang tinggi, sehingga tidak menyulitkan pihaknya pada saat memberikan pelatihan. Bahkan pada praktek cantingan pertama ada beberapa diantara mereka yang langsung bisa dan seolah – olah sudah terbiasa mencanting.
“Atas kemampuan itu saya sangat yakin mereka juga bisa mewarnai perbatikan di Kabupaten Probolinggo, dalam waktu dekat kami akan ajak mereka ke Asosiasi Pengrajin Batik Bordir dan Asesoris (APBBA) Kabupaten Probolinggo, sehingga nantinya mereka lebih berperan lagi di kancah Kabupaten Probolinggo, luar daerah dan kalau bisa Internasional,” tandasnya.
Sementara Fini Rahmi Alfiani, selaku guru keterampilan di SLB Negeri Kraksaan mengaku sangat bersyukur atas perhatian dari Pemkab Probolinggo, maupun stakeholder untuk turut memberikan bekal hidup kepada para penyandang difabel melalui pelatihan – pelatihan yang sangat berguna.
Fini menyebutkan bahkan perhatian ini juga diberikan sampai mereka telah mampu menghasilkan karya, dengan cara menghargai hasil karya seni mereka dengan cara ikut membeli. ”Karena dibalik kekurangan fisik, ternyata mereka memiliki sense of art yang tinggi dan belum tentu orang normal bisa menghasilkan karya seni seperti yang mereka hasilkan ini,” kata Fini.
Diharapkan mereka bisa lebih mandiri melalui ilmu batik dan rajutnya dan bisa membagi ilmu yang sudah mereka dapatkan ini dengan teman – teman dari kalangan mereka. Permasalahan utama mereka saat terjun ke tengah masyarakat adalah kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Diharapkan permasalahan ini bisa sedikit terselesaikan dengan program semacam ini.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo, Dewi Korina mengungkapkan, kegiatan CFD yang mengambil tema Guru Kompeten, Siswa Unggul ini dilakukan sekaligus untuk memperingati Hari Guru Nasional, sebagai bentuk apresiasi dan mengingatkan kepada para guru untuk meningkatkan kompetensi dirinya karena tantangan ke depan semakin berat.
“Pesan yang ingin kami sampaikan, tadi kami melibatkan beberapa remaja untuk mensosialisasikan tentang pentingnya pendidikan dan meminta masyarakat ikut mensupport anak – anaknya untuk sekolah minimal 12 tahun serta mendorong anak-anak yang sudah drop out untuk kembali ke sekolah. Harapannya partisipasi sekolah bisa meningkat dan mutu pendidikan bisa semakin baik,” tambahnya. [wap]

Tags: