Semalam Berpuisi F Aziz Manna di Galeri DKS

F Aziz Manna membacakan puisi di acara ‘Malam Berpuisi’ di Galeri DKS, Balai Pemuda Surabaya, Rabu (7/8) malam. [Gegeh Bagus Setiadi]

“Kekacauan dan Bencana Akibat Ujung Lidah Sendiri”
Surabaya, Bhirawa
Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya bekerja sama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menggelar ‘Malam Berpuisi’ di Galeri DKS, Balai Pemuda Surabaya, Rabu (7/8) malam.
Acara ini berupa pembacaan puisi karya penyair kondang F Aziz Manna yang termaktub dalam buku antologi ‘Jihwa Gra Van Cana’ terbitan Airlangga University Press (AUP), Juli 2019.
Penyair yang juga wartawan media online di Surabaya ini mengaku mengambil inspirasi Kakawin Arjunawiwaha untuk proses penciptaan puisi-puisi terbarunya. Utamanya pada bagian yang mengungkap kesaktian sekaligus kelemahan Niwatakawaca (raja para gandarwa), yaitu Jihwagra (ujung lidah).
“Kemudian saya gabungkan dengan kata Vancana, yang artinya tipuan atau kecurangan atau ilusi. Vacana ini memiliki akar cukup dalam pada tradisi Hindu-Budha, di mana pengaruhnya sangat kuat dengan kultur masyarakat Jawa,” ujar Aziz Manna.
Sarjana lulusan Jurusan Sejarah Unair menjelaskan, berdasarkan gabungan dua kata itu, melalui puisi menggambarkan situasi manusia yang mengalami kekacauan dan bencana akibat ujung lidah sendiri.
“Cinta, perpisahan, jarak. Bencana pada diri atau mikro kosmos ini memengaruhi pula lingkungan dan dunia atau makro kosmos. Manusia dan juga dunia yang ditinggalinya selalu mengalami samsara itu hingga tertusuk panah Pasupati,” tuturnya.
Dalam khasanah bahasa Jawa, Pasupati merupakan gabungan dua kata, pasu dan pati. “Pasu merupakan balung ing poking irung atau antaraning mata. Antaraning alis sadhuwuring irung. Sedangkan pati adalah kematian,” imbuh alumni Teater Gapus Unair ini.
Khasanah bahasa Jawa ini, menurut Aziz, mendapat titik temu dalam bentuk anak panah Pasupati yang digambarkan berujung bulan sabit. Sama dengan bentuk tulang hidung manusia. “Artinya, kesaktian dan kelemahan manusia, yang disimbolkan Niwatakawaca, itu ada pada diri sendiri,” tandasnya.
Sekadar diketahui, di bidang kepenyairan, pencapaian Aziz Manna sangat diperhitungkan dalam skala nasional. Buku puisinya yang berjudul ‘Playon’ diterbitkan oleh Pagan Press (2016) dan diterbitkan lagi oleh Grasindo (2016) memenangi penghargaan tertinggi Kusala Sastra Khatulistiwa dan mendapat hadiah uang Rp 50 juta.
Dalam acara besok, Aziz Manna bakal membacakan puisi berbarengan dengan penyair-penyair lain dari alumni dan mahasiswa Unair. Terdiri dari Trisna Eka (penyair dan wartawan Portaltiga.com), Mashuri (penyair dan staf ahli Balai Bahasa Jatim), Indra Tjahyadi (penyair dan dosen STKW), Kharis Junandharu (penyair dan vokalis Silampukau), Suryadi Kusniawan (penyair dan dosen UNIPA), dan lain-lain. Acara dimeriahkan musik dari Teater Gapus Unair.
Sementara itu, Komite Sastra DKS, Ribut Wijoto, menyatakan bahwa DKS siap memfasilitasi komunitas-komunitas sastra di Surabaya dan sekitarnya. “Surabaya memiliki kantong-kantong sastra yang berbasis di kampus. Kami tiap bulan menggelar acara Majelis Sastra Urban. Selain itu, ruangan Galeri DKS juga terbuka bagi siapapun yang menggunakan untuk kegiatan sastra,” katanya. [geh]

Tags: