Selaraskan Program JKN, UMSurabaya Buka Prodi Farmasi

Ketua L2DIKTI wilayah VII, Prof Soeprapto (dua dari kanan) menyerahkan SK Menristekdikti terkait ijin pembukaan Prodi Sarjana Farmasi kepada Rektor UMSurabaya Dr dr Sukadiono.

Penerimaan Mahasiswa Baru Dibuka Tahun Ajaran 2020
Surabaya, Bhirawa
Peluang kerja lulusan apoteker atau farmasi akan semakin meningkat. Hal itu seiring dengan adanya regulasi baru terkait sistem jaminan kesehatan nasional (JKN) yang mengharuskan semua tempat layanan kesehatan harus memiliki tenaga apoteker. Sementara di sisi lain, saat ini kebutuhan tenaga apoteker di banyak layanan kesehatan masih belum mempunyai tenaga apoteker.
Hal itu yang yang kemudian mendorong Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) untuk mendirikan program studi (prodi) Sarjana Farmasi. Rektor UMSurabaya, Dr dr Sukadiono menuturkan diharapkan dengan dibukanya prodi Sarjana Farmasi diharapkan menjadi wahana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang siap dalam menghadapi era 4.9. khususnya pada sektor kesehatan. Kendati begitu, diakuinya, jika kebutuhan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan untuk prodi Sarjana Farmasi ini.
“Kita juga sedang mengejar moratorium (farmasi,red). Kita prosesnya (pendirian prodi) sudah lama. Tapi tinggal melengkapi SDM yang (lulusannya) linier. Kalau sarana prasarana kita tidak ada kendala. Karena sudah punya fakultas kedokteran dan prodi D3 teknik laboratorium. Jadi memang kendalanya di SDM,” ungkap dia, Senin (16/9).
Terkait penerimaan mahasiswa baru prodi Sarjana Farmasi, Sukadiono mengatakan jika hal itu baru bisa dimulai pada tahun ajaran 2020. Mengingat penyerahan SK ijin pembukaan program studi Farmasi dari Kemenristekdikti bersamaan dengan kegiatan perkuliahan tahun ajaran 2019. “Ya maba (mahasiswa baru) sudah masuk selama seminggu ini. Jadi akan kita buka tahun depan untuk prodi Farmasi ini,” lanjut dia.
Lebih lanjut, Sukadiono juga mengungkapkan ke depan pihaknya juga mentargetkan pendirian prodi profesi apoteker. Namun tentu saja, hal itu tidak lepas dari peningkatan kualitas prodi sarjana farmasi. “Minimal kita fokus di peningkatan kualitas. Akreditasi B. dalam tenggat waktu tidak lama juga ke akreditasi A agar bisa buka prodi profesi apoteker,” urainya.
Menurut Sukadiono, lulusan farmasi memiliki peluang kerja yang sangat luas. Karena tidak hanya bergerak di apotek. Karena apoteker sendiri mempunya berbagai karakteristik. Seperti apoteker klinik, apoteker komunitas, apoteker pendidikan dan apoteker industri.
“Terkait regulasi sistem JKN nantinya rumah sakit tipe B akan membutuhkan 3 apoteker, dan rumas sakit tipe C kebutuhannya 8. Jadi memang kebutuhannya sangat tinggi. saya kira ini sangat prospek,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2DIKTI) wilayah VII, Prof Soeprapto menjelaskan pembukaan prodi harus dimunculkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kendati begitu, akreditasi di prodi lama juga harus terus dinaikkan.
“Jangan terus berhenti di prodi lama. Tapi tidak mengembangkan prodi baru yang dibutuhkan masyarakat,” tutur dia.
Secara umu, kata dia, untuk menaikkan akreditas program studi minimal pemenuhan sarana-prasarana, dan tenaga dosen yang tidak hanya lulusan S2 tapi juga S3 untuk peningkatan akreditasi B.
“Untuk S3, kalau punya 30-40 persen dosen lulusan S3 ini juga akan berpengaruh pada akreditasi kampus nya,” jabarnya.
Disinggung terkait tenaga dosen yang tidak mempunyai jabatan fungsional dan mencapai 4ribu hingga 8 ribu dosen, Prof Soeprapto menguraikan jika hal itu faktor dari yayasan yang tidak memaksa dosen untuk meningkatkan kualitasnya.
“Dan hal ini harus dipahami seluruh perguruan tinggi. Karena jabatan fungsional (dosen) ini penting bagi pengembangan perguruan tinggi dan akreditasi. Sayaratnya mudah minimal S2 dan punya jurnal nasional untuk bisa naik ke A,” pungkasnya. [ina]

Tags: