Sejarah DI/TII dan Pergulatan Batin Seorang Anak

Judul : Serat Cantigi
Penulis : E. Rokajat Asura
Penerbit : Mojok
Cetakan : Pertama, Maret 2018
Tebal : viii + 298 halaman
ISBN : 978-602-1318-66-9
Peresensi : Ratnani Latifah
Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Orang-orang pergerakan, sampai kapanpun akan tetap dicurigai. Membahayakan atau tidak membahayakan keberadaannya. Negeri ini tidak pernah mau belajar dari sejarah. Berapa banyak masyarakat buta huruf, yang tidak tahu apa-apa, kemudian dibantai hanya karena dianggap menjadi pendukung Partai Komunis. Padahal sudah jelas tak cukup bukti tentang keterlibatan mereka. (hal 85).
Novel ini menceritakan tentang pergulatan batin seorang anak yang ingin mengetahui jejak kehidupan sang ayah di masa lalu. Ajit-sang tokoh utama dalam kisah ini penasaran kenapa bapaknya diperlakukan istimewa atau khusus-di mana setiap pemilu tiba, bapaknya tidak pernah diberi hak untuk mengambil suara, bapaknya tidak terdaftar sebagai calon pemilih. Selain itu bapaknya juga sering dipanggil Kodim (Komando Distrik Militer), yang katanya berhubungan dengan masalah DI/TII.
Dari masyarakat, Ajit mendengar desas-desus bahwa ayahnya adalah salah satu anggota kelompok Darul Islam-sebuah organisasi yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia karena tidak pro dengan komunis. Kabar itu sungguh menganggu Ajit, apalagi tuduhan itu juga memengaruhi kehidupan Ajit di masyarakat. Ketika dia bertanya soal kebenaran fitnah tersebut, bapaknya tidak pernah menjelaskan masalah itu secara gamblang. Ajit hanya memahami sepotong-sepotong kisah sejarah yang setiap hari diceritakan bapaknya sebelum meninggal.
Tersebab itu, Ajit mencoba menelusuri setiap jejak ayahnya. Pernah suatu kali Ajit sengaja pergi ke Pesantren Cibatu, tempat bapaknya dulu menuntut ilmu. Selain itu Ajit juga mengorek informasi dari Pa Aji, kakeknya untuk mengetahui masa lalu bapaknya. Namun Pa Aji pun tidak menjelaskan secara detail soal masa lalu bapaknya. Ajit harus merangkai sendiri kepingan-kepingan informasi yang dia dapat dari sana-sini. Seperti yang dia dapat dari salah satu kenalan guru bapaknya.
“Pada saat negeri dikuasi orang-orang gila, tak akan diterima kalau kita tidak gila atau ikut-ikutan gila. Tapi itu bukan satu-satunya jalan agar tetap hidup di negeri orang gila. Dan bapakmu telah memilih jalan yang terakhir.” (hal 92).
Berbekal potongan-potongan kisah itulah, Ajit mulai berusaha untuk membuktikan bahwa bapaknya tidak terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Namun sayangnya dalam rangka pembuktian itu banyak pihak-pihak tertentu yang berusaha menggagalkan rencananya. Selain mengisahkan pergulatan batin Ajit, kisah ini juga dibumbui kisah romance antara Ajit-Kang Rahmat-Andini-yang tidak kalah seru dan menarik. Meski porsinya memang tidak banyak namun kisah ini mampu mengundang tanya dan membuat penasaran.
Secara keseluruhan novel ini sangat menarik, apalagi pembaca seperti dilibatkan langsung dalam jalinan cerita. Gaya bahasanya ringan dan mudah dipahami. Alur maju mundur yang digukana penulis, menambah rasa penasaran bagaimana akhir kisah ini. Kemudian lokalitas budaya dalam kisah membuat wawasan kita bertambah. Dan tidak kalah menarik saya suka dengan nilai-nilai religi yang termaktub di sini. Sederhana namun mengena.
Novel ini sedikit banyak mengingatkan saya dengan novel “Lingkar Tanah Lingkar Air” karya Ahmad Tohari yang sama-sama memuat tema Daruh Islam. Namun tentu saja banyak konsep berbeda yang ditawarkan dari dua penulis ini. Jika Ahmad Tohari lebih menjabarkan bagaimana suasana peperangan, pengejaran para anggota Darul Islam, E Rokajat lebih menonjolkan kisah Ajat yang bertualang untuk mengungkap sejarah Darul Islam. Akan tetapi keduanya sama-sama menarik dan membuka pengetahuan baru tentang sejarah Daruh Islam juga pandangan lain tentang keberadaan organisasi tersebut.
“Secara objektif dalam tataran konsep Darul Islam punya tujuan yang bagus, agar syariat bisa ditegakkan. Tapi konsep itu terlalu prematur ketika diaplikasikan. Ada kesan ingin memanfaatkan suasana chaos secara politis terutama untuk di daerah tempat konsep itu digulirkan, yaitu Jawa Barat.” (hal 107). Selain itu melalui kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana cara menyikapi sebuah masalah.
Srobyong, 8 Maret 2019

———- *** ———-

Tags: