Sasar Tiga Pilar, OPOP Libatkan SMK dan Industri

Proses audiensi atau paparan OPOP juga dihadiri beberapa instansi terkait. Seperti Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Plt. Kadis Pendidikan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan tim penyusun grand desain OPOP Jatim.

Surabaya, Bhirawa
Program One Pesantren One Product (OPOP) akan jadi garapan serius Pemprov Jatim tahun ini. Untuk merealisasikan program tersebut, Gubernur Khofifah menunjuk Universitas Nahdlatul Ulama (Unusa) untuk menggarap pemberdayaan produk-produk pesantren melalui penguatan branding dan koperasi.
Dikatakan Rektor Unusa, Prof Jazidie untuk merealisasikan program tersebut pihaknya akan melibatkan SMK berbasis pondok pesantren. Dengan konseptual design yang ditawarkan diharapkan mampu dalam penguatan branding yang akan digarap dalam program OPOP. Yaitu melalui tiga pilar yang menyasar pada santri preneurship, pesantren preneurship yang berbentuk penguatan koperasi. Dan terakhir socio pesantren yang akan menyasar alumni atau lulusan pesantren.
“Produknya nanti harus dimaknai fisik dan service. Karena sangat tergantung pada proposal yang diajukan dan sangat teekit erat dengan potensi lokal dn budaya sekitar pesnatren,”ujar dia.
Misalnya, pesantren A di salah satu daerah di Gresik yang mempunyai keunggulan produk kopiah dengan ciri khas daerahnya. Dalam penguatan branding, OPOP akan menggandeng beberapa pesantren yang mempunyai keungguln sama untuk bekerjasama. Yang nantinya akan diarahkn dalam bentuk koperasi.
“Pelibatan pendidikan jalur vokasional ini sejalan dengan arah RPJMN dalam rangka membekali lulusannya siap memasuki pasar kerja,”katanya.
Dijelaskan Prof Jazidie, adanya program OPOP dijelaskan gubernur bahwa program OPOP memang bukan merupakan janji kampanye. Akan tetapi perlu menjadi perhatian karena harapannya potensi pondok yang begitu besar di Jatim dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan di Jatim. Program OPOP ini merupakan upaya untuk pemberdayaan Ponpes dan lingkungannya dalam menuju kemandirian diberbagai bidang, katanya.
Melalui OPOP, sambung dia, gubernur berkeinginan agar SMK berbasis Ponpes bisa menjadi semacam Badan Layanan Umum Daerah. Sehingga mereka memiliki badan usaha dan mandiri.
Ditambahkan pembina OPOP, Ghofirin saat ini di Jawa Timur, jumlah SMK berbasis Ponpes berjumlah sekitar 600 sekolah. Separuh lebih sudah mengikuti pelatihan dalam pembelajaran menjadi wirausaha. Output nya, yakni pemberdayaan santri yang bertujuan menumbuhkan pemahaman dan ketrampilan santri dalam menghasilkan produk unik sesuai syariah yang berorientasi pada kemanfaatan dan keuntungan.
“Pemberdayaan dilakukan dengan beragam inovasi sosial, berbasis digital teknologi dan kreativitas secara inklusif,”papar dia.
Kedepan, untuk mengoptimalkan program OPOP pihaknya juga akan menggandeng pihak industri untuk penguatan branding. [ina]

Tags: