Sampah Plastik dan Ancaman Kehidupan Kekinian

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Keberadaan sampah plastik saat ini bukan masalah main-main, sudah menjadi masalah dunia sehingga pemerintah harus bertindak cepat agar keberadaan sampah plastik dapat dikendalikan. Baru-baru ini Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) secara resmi KPTG (Kantong Plastik Tidak Gratis) yaitu mengenakan biaya penggunaan kantong plastik belanja di ritel modern kepada konsumen. Mulai 1 Maret 2019 mengenakan biaya penggunaan kantong plastik minimal 200 rupiah kepada pembeli. Kebijakan ini merupakan wujud keprihatian atas jumlah sampah khususnya sampah plastik yang tidak terkendali sehingga membutuhkan aksi luar biasa, minimal untuk mengurangi volume sampah plastik yang terus meningkat pesat. Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut sehingga laut bak (Tempat Pembuangan Akhir) TPA sampah raksasa.
Saat ini Indonesia menjadi menyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Kondisi ini kian mengkawatirkan mengingat beberapa perairan laut Indonesia yang didalamnya hewan laut telah tercemar limbah plastik sehingga sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Keberadaan bahan plastik yang ada di dalam tubuh hewan tersebut tetap tidak akan mudah terurai dan tidak mudah hancur, hanya hewannya saja yang menjadi bangkai namun plastiknya tidak hancur, inilah yang menyebabkan racun menyebar kepada makhluk hidup lainnya. Lebih ironis bila dikonsumsi kembali oleh manusia akan menyebabkan berbagai penyakit hingga berujung kematian. Salah satu contoh adanya kerang hijau di perairan teluk Jakarta terpapar limbah berbahaya. Hasil sampel penelitian menunjukkan bahwa biota laut yang dikonsumsi warga Jakarta dan sekitarnya terkontaminasi limbah yang didalamnya terdapat kandungan limbah partikel plastik. Selain itu beberapa waktu yang lalu ditemukan seekor ikan paus sepanjang 9,5 meter mati di kawasan perairan Wakatobi Sulawesi Tenggara dimana dalam perut ditemukan botol, penutup galon, sandal, botol parfum, bungkus mi instan, gelas minuman, tali rafia, karung terpal, kantong kresek, dan lain-lain.
Hal ini jika dibiarkan maka akan memakan korban yakni gangguan kesehatan bahkan mengancam keselamatan manusia dan lingkungan. Karakteristik sampah plastik sulit terurai oleh mikroorganisasi melalui proses pembusukan seperti hal sampah organik. Sejatinya sampah plastik bak teorisme lingkungan dimana mampu membunuh manusia dan lingkungan melalui pencemaran secara berkelanjutan. Di sisi lain secara faktual dewasa ini jumlah penyakit tidak menular terutama jenis kanker dan kerusakan syarat tubuh terus meningkat. Memang dibutuhkan pembuktian melalui serangkaian penelitian yang telah detail terkait pengaruh langsung dampak sampah (mikroplastik) terhadap kesehatan tubuh manusia. Jenis sampah plastik memiliki bahan dasar mikroplastik atau nanoplastik (ukuran yang sangat kecil dibandingkan dengan mikroplastik) yang ditemukan antara lain polypropylene, nilon, dan polyethylene terephthalate (PET), yang digunakan untuk membuat tutup botol. Zat tersebut memicu penyakit kanker, penurunan jumlah sperma, dan beberapa risiko lain Partikel yang berukuran sama atau lebih kecil dari sel manusia berpotensi menjadi bahaya karena dapat diserap dan masuk aliran darah. Secara kajian ilmiah juga menunjukan bahwa ancaman bahaya sampah plastik memiliki durasi waktu hingga berdampak langsung pada manusia karena salah satu sifatnya adalah terakumulasi secara terus menerus.
Kegagalan Pendidikan Kita?
Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini hampir tidak ada kegiatan keseharian yang lepas dari plastik. Dengan kata lain kehidupan manusia sangat bergantung dari bahan plastik dengan segala bentuk dan kemasan. Karena sifatnya yang praktis, kuat, elastis, tahan lama, dan murah menyebabkan industri maupun masyarakat luas memilih berbagai produk dari bahan plastik sehingga penggunaannya kini secara masif dan massal. Kondisi tersebut tidak diimbangi dengan perilaku dan pengelolaan sampah yang benar. Perilaku hidup bersih dan sehat terutama pada aspek perilaku masyarakat membuang sampah di Indonesia masih mengkawatirkan, padahal hampir semua tahu bahwa sejak dini melalui pendidikan di pra-sekolah dan sekolah dasar telah diajari dan dididik untuk membuang sampah di tempat sampah, namun ternyata seiring dengan berjalannya waktu juga diperparah tidak adanya contoh ketauladan dalam perilaku membuang sampah maka pendidikan sadar sampah hanya sebatas pelajaran belum membentuk sebagai sebuah kepribadian seseorang.
Di sisi lain, pemerintah dinilai masih lemah dan belum tegas atas perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarang. Padahal sudah banyak aturan yang mengatur sekaligus ancaman sanksi namun lagi-lagi hanya sebagai macan kertas. Kondisi tersebut mudah dibuktikan ketika di pasar tradisional, keramaian hingga even-even tertentu dimana pasca acara terlihat banyak sampah berserakan yang menimbulkan bau tidak sedap dan menganggu estetika serta mengancam timbulnya penyakit akibat sampah. Semoga dengan fenomena ini dapat menjadi pelajaran berharga agar kehidupan kita dan anak cucu terus terjaga dari dampak ancaman sampah terutama sampah plastik. Kesadaran bersama menjadi kunci dalam mengendalikan keberadaan sampah yang setiap tahun terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup masyarakat.

——— *** ———-

Tags: