Saatnya Membumikan Takwa

Asri Kusuma Dewanti

Asri Kusuma Dewanti

Ramadan kembali menghampiri seluruh penjuru umat Islam di bumi ini, tanpa terkecuali muslim Indonesia. Marhaban ya Ramadan, selamat datang wahai Ramadan.  Atmosfer dan gempita Ramadan begitu kental terasa. Ramadan di Indonesia terasa begitu khas dan unik. Fakta tersebut bisa dibuktikan dari banyaknya kegiatan tadarus, sedekah, iktikaf dan berbagai ibadah serta amal kebajikan yang akhirnya nanti disempurnakan dengan zakat fitrah di akhir Ramadan.

Kriminalitas dan kejahatan masif kian merebak di mana-mana dan bisa kita lihat dan rasakan saat ini. Melihat carut-marut kehidupan bangsa yang dari waktu ke waktu tidak pernah terselesaikan secara tuntas, sekiranya ada beberapa hal yang bisa menjadi harapan kita bersama dalam Ramadan kali ini yang bisa diwujudkan.

Pertama, besar harapan melalui puasa kali ini perlu dijadikan momen untuk mengagendakan hancurnya moralitas bangsa ini. Ketakwaan tidak lagi sekadar berwujud serpihan nilai yang hanya bermanfaat bagi pelaku, tapi akan jadi sistem kokoh yang akan membuahkan hasil besar bagi perubahan kehidupan umat.

Oleh sebab itu mari kita memasuki bulan Ramadan kali ini dengan tidak menyiakan-nyiakan makna bulan suci ini. Merujuk Alquran, Allah mensyariatkan puasa kepada orang-orang beriman masa kini ataupun masa lampau untuk menjadikan kita bertakwa (la’allakum tattaquun).

Kedua, mari gema Ramadan saat ini tidak sekadar kita meriahkan secara ritual saja, tetapi besar harapan bisa membawa perubahan sikap dan perilaku masyarakat menjadi pribadi yang takwa. Alquran, surat Al Baqarah ayat 183 menyebutkan dengan tegas tujuan puasa adalah untuk mengantarkan setiap muslim menjadi insan-insan yang bertakwa.

Sekiranya melalui perwujudan harapan tersebut, Insya Allah mampu menjadikan republik ini tidak semakin tenggelam di pusaran krisis moral dan akhlak yang sedang marak sekarang ini. Sebab dengan kesadaran ini, kita ini bisa belajar akan pentingnya nilai ketakwaan, yang pada akhirnya bisa mengantarkan bangsa ini pada karakter dan nilai  ketakwaan.

Karakter takwa yang secara sederhana bisa dimaknai sebagai corak pribadi yang selalu menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah dalam setiap gerak langkah kehidupan, sesungguhnya adalah jaminan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil aalamin).

Ironisnya, ketakwaan sering diidentikkan sekadar kerajinan menjalankan ritual agama, semacam ketekunan menjalankan salat malam, seringnya mengkhatamkan Alquran, kesinambungan beriktikaf di masjid dan sejenisnya. Penekanan pada transformasi nilai-nilai luhur ke dalam sikap dan perilaku kurang diperhatikan.

Implementasi nilai-nilai ketakwaan di ranah publik juga kurang mendapat ruang cukup luas untuk diupayakan secara sungguh-sungguh. Lebih dari itu, ukuran keberhasilan puasa sering hanya dikaitkan dengan kesemarakan tadarus Alquran di masjid-masjid. Paling banter, indikator yang digunakan terkadang hanya diukur dari banyaknya penutupan tempat hiburan atau penyisiran minuman keras. Kerajinan menjalankan berbagai ibadah tentu penting dan mutlak.

Namun, lebih penting lagi adalah bagaimana umat Islam dapat menangkap makna di balik semua ibadah itu dan bermujahadah mengaktualisasikannya dalam kehidupan sosial. Dengan begitu, makna itu menemukan titik labuhnya dalam kehidupan.*

 

Oleh : Asri Kusuma Dewanti

Pengajar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Rate this article!
Saatnya Membumikan Takwa,5 / 5 ( 1votes )
Tags: