Saat Santri Raih Olimpiade Matematika di Thailand

Salsabila Meisefiani dan Muhammad Rohim Peraih Olimpiade matematika di Thailand.

Disambut Bak Pahlawan Saat Tiba di Pompes Zainul Hasan Genggong
Kab Probolinggo, Bhirawa
Santri Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo kembali mengukir prestasi di kancah internasional. Kali ini, dua santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) Zaha Genggong berhasil meraih medali pada ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) yang diselenggarakan di Phuket, Thailand beberapa waktu lalu.
Dua santri yang mengikuti ajang bergengsi tersebut adalah Salsabila Meisefiani dan Muhammad Rohim. Salsabila yang duduk di bangku kelas VIII meraih Bronze Medal. Sementara Muhammad Rohim meraih Merit Medal.
Kepala MTs Zaha Genggong KH Mohammad Hasan Naufal, Selasa (9/4) malam, mengaku bangga sekaligus bersyukur atas torehan prestasi gemilang yang diukir dua santrinya itu. Awalnya dirinya pesimis dua santrinya itu bisa untuk meraih medali. Sebab ribuan peserta TIMO berasal dari 21 negara Asia bahkan Eropa.
“Alhamdulillah, medali bronze sudah cukup. Saya berharap yang akan datang akan lebih baik lagi. Genggong untuk umat, melangkah ke internasional, pokoknya teristimewa,” ungkap ulama muda ini.
Ustadz Hazbullah Rohman, penanggung jawab Olimpiade di MTs Zaha Genggong mengatakan, prestasi dua santri tersebut merupakan hasil dari proses pendidikan yang telah dilakukan oleh pihak madrasah. Jauh sebelum ada TIMO, para santri memang dibekali pengetahuan dan bimbingan sebagai persiapan menghadapi olimpiade.
“Ketika seleksi nasional pada 13 Oktober tahun lalu, dua santri kami ini meraih medali perak dan perunggu, sehingga berhak meraih tiket ke grand final di Thailand. Sejak saat itu juga bimbingan kami tingkatkan,” ungkapnya.
Salsabila Meisefiani dan Muhammad Rohim tampak bersinar. Betapa tidak, keduanya disambut bak pahlawan saat tiba di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wajar saja sambutan sekolah begitu hangat. Itu, setelah keduanya baru selesai mengikuti olimpiade matematika yang digelar di Phuket, Thailand, pada 5-8 April.
Keduanya disambut oleh seluruh jajaran guru dan siswa MTs, serta pengasuh PP Genggong KH Mohammad Hasan Naufal. Keduanya kemudian diarahkan ke Masjid Al-Barokah pesantren setempat. Sebelum ke masjid, keduanya diajak ke makam Kiai Sepuh KH Mohammad Hasan. Setelah itu, baru sambutan terkait keberhasilan mereka menggema.
Rohim, sapaan akrab Muhammad Rohim mengatakan, ia sangat bersyukur atas apa yang diraihnya itu. Menurutnya, apa yang didapatkan itu merupakan sebuah keberhasilan bersama. Yaitu, semua siswa dan terutama pondok pesantren. “Saya sangat senang sekali,” katanya tak mampu menyembunyikan kebanggaannya.
Baik Rohim maupun Salsabila, tidak menyangka berhasil menyingkirkan peserta dari negara lain. “Sebenarnya saya tidak menyangka bahwa akan mendapatkan medali. Tetapi, saya yakin saja bisa dan menanamkan pada diri saya mampu untuk bersaing,” tuturnya.
Remaja kelahiran Desa Brumbungan Kidul, Kecamatan Maron itu mengatakan, peserta olimpiade itu terdiri atas perwakilan 21 negara dari Asia dan Eropa. Mereka bersaing menjadi yang terbaik di bidang Matematika. “Yang ikut sekitar 21 negara dari Asia dan Eropa. Mereka semua pintar-pintar. Jadi, agak canggung sebenarnya,” katanya.
Namun, ia tetap meyakinkan dirinya agar tetap bisa mampu bersaing. Latar belakang sebagai santri, tak membuat keduanya ciut nyali. Terbukti, berkat keyakinan dan doa, mereka mampu meraih medali dalam olimpiade itu.
Ditanya soal kesulitan dan kendala selama berada di negeri gajah putih, Rohim mengaku tidak ada. “Kami belajar dan menghafal rumus-rumus dalam matematika. Kendala bahasa tidak ada. Kan di pondok sudah dipelajari. Di sana menggunakan bahasa Inggris,” jelasnya. [Wiwit AP]

Tags: