Rumah Zakat Luncurkan Gerakan Gelombang Wakaf

Rumah Zakat meluncurkan gerakan baru bernama Gerekan Gelombang Wakaf. Gerakan ini merespon belum tergarapnya potensi besar wakaf uang di Indonesia.

Surabaya, Bhirawa
Rumah Zakat meluncurkan gerakan baru untuk terus menebar kebaikan bagi Indonesia dan dunia. Saat ini Rumah Zakat mulai dengan Gerakan Gelombang Wakaf. Gerakan ini menandakan langkah besar Rumah Zakat untuk memujudkan visi menjadi filantropi zakat, infaq, shadaqah, wakaf dan kemanusiaan.
“Filantropi itu diwujudkan dalam bentuk rumah sakit, klinik, sekolah, 5323 desa berdaya, 200 hektar lahan produktif, serta 50000 UMKM di seluruh Indonesia,” tutur CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, Selasa (12/2).
Menurut Nur Efendi, Gerakan Gelombang Wakaf ini merupakan sebuah respon dari data yang dikeluarkan oleh BWI (Badan Wakaf Indonesia), yang menyebutkan bahwa potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp180 triliun. Sedangkan wakaf uang yang baru dimanfaatkan baru mencapai Rp400 miliar.
Minimnya pemanfaatan ini, kata Nur Efendi, dilatarbelakangi oleh minimnya edukasi wakaf di Indonesia. Di masyarakat yang hanya mengenal wakaf dalam bentuk harta tidak bergerak saja. Seperti berupa wakaf tanah dan bangunan.
“Padahal disatu sisi dalam aturannya, wakaf bisa berbentuk uang, emas, mobil, dan barang lainnya yang bisa digunakan untuk kepentingan sosial, bahkan apabila wakaf dikelola dengan baik oleh lembaga wakaf atau nazhir, hasil dari wakaf produktif tersebut bisa mensejahterakan masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Untuk itu, lanjut Nur Efendi, salah satu fokus kampanye Gelombang Wakaf adalah memberikan edukasi dan keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan yang dimulai dari generasi milenial terhadap program wakaf.
“Rumah Zakat akan mengedukasi masyarakat melalui seminar di seluruh Indonesia dan aktivasi melalui media sosial. Selain itu juga membentuk komunitas wakaf yang bertujuan untuk melibatkan generasi milenial yang jumlahnya kurang lebih 40 persen dari total penduduk Indonesia secara langsung dalam proses pelaksanaan wakaf,” kata Nur Efendi.
Dijelaskannya, potensi wakaf ini cukup besar. Tidak seperti zakat, wakaf tidak ada nisab. Jadi semua orang bisa berwakaf. Dengan adanya Gelombang Wakaf harapnya bisa mengajak siapapun untuk bisa berkontribusi membangun Indonesia melalui wakaf.
Wakaf, kata Nur Efendi, memiliki peluang besar untuk dapat dijadikan sebuah sumber yang menghasilkan produktivitas bagi masyarakt. Rumah Zakat telah membuktikan ini dalam kiprahnya selama 20 tahun dan mampu memberdayakan 30 juta penerima layanan manfaat, 18 sekolah, 8 klinik, dan 1.295 Desa Berdaya.
“Hal ini semakin diperkuat merujuk pada keadaan beberapa waktu terakhir, yang menunjukkan ekonomi syariah terus memainkan peranan penting dalam pembangunan Indonesia, terlebih Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar di dunia,” ungkapnya.
Selain ZIS (zakat, infaq, sedekah), katanya, ada satu potensi yang belum bisa dikembangkan dengan baik, yaitu wakaf. Saat ini Indonesia masih parsial dalam hal mengelola masalah zakat, infak, sedekah, wakaf pada ZIS saja. “Wakaf hari ini masih jauh dari apa yang diharapkan dan dimaksimalkan potensinya. Maka gerakan Gelombang Wakaf ini menjadi satu awalan pengoptimalan potensi zakat, infak, sedekah, wakaf secara keseluruhan,” pungkasnya. [iib]

Tags: