RSUD Kanjuruhan Jadi Rumah Sakit Rujukan, Tingkatkan Fasilitas-SDM

Plt Bupati Malang HM Sanusi (kiri) saat menabuh gong raksasa sebagai tanda diresmikan Museum Ganesya di area tempat wisata Hawai Waterpark Malang, Desa Banjararum, Kec Pakis, Kab Malang

Kab Malang, Bhirawa
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, sehingga perlu dilakukan penambahan fasilitas dan menambah Sumber Daya Manusia (SDM).
Hal itu dilakukan agar rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang type B tersebut, yang juga sudah berstatus Badan Layanan Umum (BLU) bisa menjadi rumah sakit rujukan regional, Sehingga dapat menampung pasien dari luar daerah, seperti rumah sakit yang lainnya yang ada di Jawa Timur.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Malang HM Sanusi, Jumat (12/7), seusai meresmikan Museum Ganesya di area tempat wisata Hawai Waterpark Malang mengatakan, untuk menjadikan RSUD Kanjuruhan seperti rumah sakit yang lainnya, maka perlu dilakukan penambahan fasilitas untuk mendukung pelayanan kesehatan pada pasien, terutama pada SDM-nya.  “Untuk itu perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh terkait kondisi eksisting dan kebutuhan pengembangannya,” ujarnya.
Sedangkan terkait dengan anggaran, dia menegaskan, Pemkab Malang akan mendukung sepenuhnya, agar RSUD Kanjuruhan bisa menjadi rumah sakit rujukan regional, dan tidak hanya bisa menampung pasien dari Kabupaten Malang saja, tapi  juga bisa menampung pasien dari luar daerah. Selain itu, pelayanan kesehatan juga termasuk bagian utama setelah pendidikan.
“Oleh karena itu, upaya peningkatan pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas pembiayaan, setelah sektor lain seperti pembangunaninfrastruktur. Sehingga RSUD Kanjuruhan diharapkan dapat beroperasi secara ideal di tahun 2020 mendatang,” kata Sanusi
Menurutnya, untuk mendukung RSUD Kanjuruhan menjadi rumah sakit rujukan, maka diperlukan dukungan pendanaan, yaitu melalalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Selain membiayai peningkatan pelayanan kesehatan, biaya tersebut juga untuk meng-cover warga yang kurang mampu, yang tidak sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Sehingga untuk melangkah ke sana, maka perlu dibangun sistemnya.
Sanusi mencontohkan, salah satu RSUD type B di Jawa Timur yakni RSUD dr Iskak Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, saat ini menjadi rumah sakit rujukan regional di empat daerah, yaitu Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Kediri, dan Blitar. Karena rumah sakit tersebut memiliki pelayanan prima, sehingga pasien dimudahkan dengan pelayanan, dan pasien cepat dilakukan penanganan oleh para medis maupun tenaga dokter, terutama pada masyarakat yang kurang mampu. Sebab, sistem yang digunakan RSUD tersebut, yaitu menerapkan layanan pendaftaran daring dan touch line atau bisa dilakukan secara online.
“Sedangkan pendapatan yang diterima RSUD dr Iskak Tulungagung, pada 2014 mencapai Rp 130,297 miliar dan 2018 mencapai Rp 260,45 miliar dengan cost recovery rate 104,20 persen,” ungkapnya.
Dengan pelayanan prima yang dilakukan RSUD dr Iskak, kata dia, maka pihaknya pun akan melakukan perubahan sistem pelayanan kesehatan di RSUD Kanjuruhan. Selain nantinya cepat dalam menangani pasien, juga akan menambah pendapatan rumah sakit sebagai Penadapat Asli Daerah (PAD), yang sekaligus sebagai rumah sakit rujukan regional. Sehingga harus ada penambahan fasilitas, serta meningkatkan SDM baik itu para medis maupun tenaga dokter. [cyn]

Tags: