RSJ Sumberporong Lawang Bebaskan 144 ODGJ dari Pemasungan

Petugas RSJ Sumberporong Lawang bersama Muspika Bantur, Kabupaten Malang saat membebaskan penderita ODGJ warga Desa Bantur dari pemasungan

Kab Malang, Bhirawa
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumberporong Lawang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terus melakukan upaya dalam membebaskan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dipasung oleh keluarganya.
Sedangkan menurut data yang ada, bahwa di Kabupaten Malang terdapat 144 ODGJ yang dipasung oleh keluarganya, dan data ODGJ itu terhitung pada awal bulan Januari 2018 ini.
Dari total jumlah 144 ODGJ tersebut, 24 diantaranya sudah dibebaskan oleh keluarganya. Sedangkan 74 orang lainnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumberporong Lawang, 40 orang masih dalam kondisi dipasung, dan 6 orang dinyatakan meninggal dunia.
Hal ini telah dikatakan, Kepala Instalasi Promosi Kesehatan RSJ Sumberporong Lawang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Ayu Bulan Febry, Kamis (18/1), kepada wartawan.
Dijelaskan, jika di Kabupaten Malang ini terdapat 144 ODGJ yang sebelumnya dipasung oleh keluarganya. Sehingga dengan jumlah ODGJ yang telah dilakukan pemasungan, maka jumlah tersebut cukup tinggi. Namun, masih ada yang lebih tinggi ODGJ yang dipasung yaitu di Kabupaten Probolinggo, yang menempati urutan pertama di Jawa Timur (Jatim).
Berdasarkan data e-Pasung, lanjut dia, di Kabupaten Probilinggo mencapai 204 ODGJ. Rinciannya, 12 orang meninggal dunia, 77 orang menjalani rawat jalan, dan untuk sementara 20 lainnya masih dalam pasungan.
“Beruntung bagi 95 orang lainnya yang sudah dibebaskan dan mejalani perawatan di rumah sakit. Sedangkan data tersebut bisa dilihat secara online jadi real time,” ungkapnya.
Ayu menjelaskan, ada beberapa faktor, keluarga ODGJ memutuskan untuk memasung. Diantaranya, stigma negatif masyarakat mengenai ODGJ. Selain itu, juga mereka berasal dari keluarga tidak mampu atau faktor ekonomi. Sehingga untuk memutuskan memasung karena ODGJ dianggap menganggu masyarakat. Serta juga ditakutkan keluarga mereka, jika penderita gangguan jiwa itu hilang atau berjalan kaki tak tentu arah.
Agar keluarga ODGJ tidak melakukan pemasungan, kata dia, maka pihaknya bersama Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Kesehatan (Dinkes), dan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) melakukan berbagai langkah preventif. Salah satunya adalah melakukan penyuluhan kesehatan jiwa masyarakat di masing-masing desa. “Yang dalam hal ini, pihaknya juga bekerjasama dengan masing-masing sekolah, serta organisasi masyarakat (ormas) untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat terkait kesehatan jiwa. Dengan . tujuan untuk melakukan pembebasan pasung kepada ODGJ,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan, jika baru-baru ini, pihaknya bersama Dinsos, Dinkes, dan Muspika Bantur, Kabupaten Malang telah membebaskan seorang ODGJ warga Desa Bantur yang bernama Suhari. Dan dia dipasung keluarganya sejak 15 tahun, yang ditempatkan di ruangan sempit, dengan ukuran 2×2 meter. Sehingga semua aktivitas mulai makan hingga buang air besar dilakukan di ruang tersebut.
Dalam pasca pembebasan Suhari, kata Ayu, berlangsung cukup aman dan terkendali, karena keluarganya untuk dilakukan pembebasan dan pengobatan Suhari ke RSJ Sumberporong Lawang. “Namun begitu sampai ditempat pemasungan, lalu dilakukan pemeriksaan oleh dokter, ternyata pasien bisa dilakukan perawatan di rumah dengan alasan pasien tidak begitu berbahaya,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Bantur Tri Sulawanto membenarkan, jika ada seorang warganya yang menderita penyakit jiwa telah dilakukan pembebasan pasung, yang selama 15 tahun dipasung oleh keluarganya. Namun, dari pemeriksaan dokter RSJ Sumberporong Lawang, Suhari tidak dilakukan perawatan di rumah sakit, tapi cukup dirawat di rumah. “Hal ini yang telah membuat bingung keluarganya, karena dikhawatirkan mengamuk,” ujarnya. [cyn]

Tags: