Revolusi Industri 4.0 Butuh SDM Berkualitas dan Kuasai IT

Jakarta, Bhirawa
Revolusi industri 4.0 yang sedang terjadi dan akan terus berkembang di masa depan, membawa konsekuensi pada jumlah, kualitas dan ketrampilan tenaga kerja. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan penggunaan teknologi informasi, internet dan big data.
Serta teknologi kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin, robotika, nanoteknologi, pencetakan 3D. Juga genetika dan bioteknologi, akan mempengaruhi pola dan perilaku tenaga kerja yang terlibat dalam industri 4.0. Semuanya berinteraksi dan terkait satu dengan lainnya.
“DI Indonesia diperkirakan 12% pekerjaan, akan tergantikan dengan adanya automatisasi. Perubahan permintaan tenaga kerja sektor industri, diperkirakan akan berlangsung secara bertahap. Kondisi ini memungkinkn pemerintah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan. Terutama calon tenaga kerja muda, sehingga bonus demografi yang meng-optimalkan peran tenaga kerja muda, dapat diraih,” ujar Menaker Hanif Dhakiri, usai menyerahkan Penghargaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan 2019, Senin (14/10).
Hadir beberapa Gubernur, Bupati dan Kadisnaker se Indonesia. Nampak Gubernur yang menerima penghargaan, seperti Gubernur Jateng Ganjar Prabowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Kalut dan Gubernur Sumbar.
Menurut Hanif Dhakiri, hasil proyeksi pekerjaan pada 2018 memperlihatkan bahwa peningkatan jenis pekerjaan seperti manajer dan profesional, tak secepat peningkatan pekerja manual yang andaikan kekuatan fisik, seperti buruh pertanian. jabatan dengan kenaikan terbesar lainnya adalah pramusaji, juru masak dan pekerja pengolahan.
Dilihat pada lapangan usahanya, penyerapan terbanyak pada pertanian, perdagangan dan industri pengolahan. Peningkatan yang cukup signifikan terhadap prestasi penyerapan tenaga kerja adalah sektor penyediaan akomodasi dan makanan minuman.
“Visi pembangunan 2045, ekonomi kreatif dan digital akan dipacu pengembangannya. Untuk itu tingkat pendidikan yang tinggi merupakan salah satu prasyarat dalam pengembangan kapasitas SDM nya. Dibutuhkan partisipasi Pemda agar SDM ekonomi kreatif di daerah bisa cepat terbangun, ” tambah Hanif Dhakiri.
Menyinggung masalah bonus demografi, disebutkan, tantangan Ketenagakerjaan dalam hal ini adalah tidak ter-manfaatkan nya potensi penduduk usia produktif. Yakni dengan adanya tingkat pengangguran yang di dominasi oleh pendidikan SMA/SMK. Penganggur terbuka lebih banyak pada kelompok usia muda 15-24 tahun. Setengah menganggur pada usia 20-34 tahun dan paruh waktu pada kelompok lansia 60 tahun.
“Penyiapan SDM berkualitas untuk meraih bonus demografi adalah dengan memahami kondisi SDM di masa depan. Ada 3 hal yang mempengaruhi tenaga kerja, yakni transisi demografi, kemajuan teknologi dan globalisasi. Konsekuensi dari transisi demografi ber- implikasi pada keuntungan ekonomi, yaitu pada saat terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja yang bila terserap dalam lapangan kerja, maka akan meningkatkan total output suatu negara. Ketika penduduk usia kerja bekerja maka akn terjadi akumulasi yang lebih besar. Karena tenaga kerja yang bekerja akan mampu mem perbesar tabungan dan investasi,” papar Hanif. [ira]

Tags: