Ratusan Warga Jadi Tuban Tolak Survei Seismik 3D PHE-TEJ

Dihadapan para pejabat dan Pertamina Hulu Energi Tuban East Java (PHE-TEJ), para warga Desa Jadi Kecamatan Semanding Tuban, saat melakukan aksi penolakan di Balai Desa Setempat.

Tuban, Bhirawa
Ratusan Warga Desa Jadi Kecamatan Semanding Tuban, Ngeluruk Munir Kepala Desa (Kades) setempat, di kantor desa. Petinggi desa ini diminta netral dan memihak kepentingan rakyat, dalam kegiatan survei seismik 3D Blok Tuban Pertamina Hulu Energi Tuban East Java (PHE-TEJ) (28/10).
Para warga juga menegaskan, bahwa kedatangan mereka ke Kantor Desa merupakan inisiatif sendiri bukan undangan sosialisasi seismik PHE-TEJ dan warga sepakat menolak ada kegiatan pencarian cadangan sumber minyak tersebut.
“Kami menolak seismik karena tak pernah ada sosialisasi,” kata Alim Mutamam dihadapan Muspika Semanding, Pemdes Jadi, Dinas Lingkungan Hidup dan PHE TEJ.
Alim Mutamam yang menjadi juru bicara warga menegaskan, kalau penolakan warga bukan tanpa sebab. Di desa lain yang telah berlangsung seismik, terjadi kerusakan misalnya di Desa Talun, Pucangan Kecamatan Montong, maupun Padasan dan Karanglo Kecamatan Kerek.
Tidak hanya itu, adanya sumber air yang mati setelah seismik misal di Dusun Tileng Desa Talun, dan Dusun Gaplok Desa Jetak. Dari kejadian di desa lain, warga Jadi minta kegiatan seismik dihentikan.
“Kami menyayangkan Pemdes, kenapa tak ada sosialisasi terlebih dahulu sebelum ada kegiatan,” terangnya.
Warga juga meninta kejelasan dari PHE dan Pemdes soal penghitungan lahan yang menjadi lokasi seismik. Tak kalah penting, warga menyayangkan suara Sekdes Astro yang akan menutup lokasi tambang rakyat.
Menanggapi tuntutan warganya, Kades Munir menjelaskan, jika sosialisasi seismik telah dilakukan pada 22 Agustus 2019. Waktu itu karena ada acara keluarga, pihaknya pulang dari kantor sekitar pukul 13.00 Wib. Setelah itu dilanjutkan sosialisasi seismik.
“Sosialisasi sudah dilakukan PHE. Setuju dan tidak setuju adanya seismik silahkan sampaikan ke Pemkab, Muspika Semanding maupun PHE,” pinta Kades Munir.
Sementara Sekdes Jadi, Astro menampik jika pernah berstatmen soal penutupan tambang kumbung. “Siapa yang bilang mau menutup. Kita belum tahu seismik seperti apa,” tegasnya.
Setelah dua pejabat desa menanggapi, perwakilan warga masih menyampaikan tuntutanya.
Pada kesempatan yang sama, Danarji Camat Semanding, mengatakan setelah dijelaskan oleh Pertamina, jika ada yang dikhawatirkan dipersilahkan untuk bertanya.
Karena, survei ini dalam rangka untuk mendapatkan kecukupan BBM. Tugas dari Pertamina untuk mencari sumber baru migas, karena kebutuhan orang saat ini tak terlepas dari BBM.
“Andai kata sehari SPBU tutup atau tidak ada suplai tentu masyarakat akan ramai. Oleh karena itu, Pemerintah menugaskan Pertamina untuk mencari sumur baru minyak,” sambung mantan Camat Bancar.
Pemkab berpesan kepada Pertamina untuk tidak merugikan masyarakat. Sekaligus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat. Disisi lain, selama tidak dirugikan masyarakat diharapkan untuk mendukung.
“Pertamina harus mendengar saran masukan yang baik dari warga Jadi,”
Apa saja sampaikan ke Pertamina supaya bisa berhati-hati. Sekaligus menjelaskan detail apa itu survei seismik 3D.
Sementara itu, Ir. Bambang Irawan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tuban takut jika informasi seismik 3D Blok Tuban yang diterima warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding keliru. Salah satu argumen yang kurang masuk akal, yaitu jika kegiatan seismik berdampak pada berkurangnya unsur hara tanah.
“Saya lulusan pertanian. Kalau ada yang bilang unsur hara tanah berkurang gara-gara seismik silahkan buktikan,” kata Bambang dihadapan ratusan warga.
Bambang menegaskan, instansinya yang ngurusi dampak seismik PHE-TEJ. Dan jika ada dampak dari seismik silahkan laporkan ke Pemkab.
“PHE hanya meneliti potensi minyak, kalau seismik selesai nanti ditutup lagi. Jadi tidak ada limbah atau apapun itu. Pertamina tidak mencari air. Jika terbukti mencari air, laporkan saya,” pintanya.
Lebih dari itu, Pertamina hanya melihat di bumi Jadi ada minyak atau tidak setelah itu pindah ke tempat lain. Jika di dalam bumi Jadi ada lapangan minyaknya dikedalaman 50 Km, maka itu jauh dari sumber mata air.
“Intinya kalau warga kena dampak tidak ada ganti rugi dari Pertamina, silahkan datang ke kami,” pintanya.
Perwakilan PHE, Abdul Arif dalam paparan yang tak sampai selesai menjelaskan, jarak aman kegiatan seismik adalah 100 meter dari rumah dan sumber air. Apabila ada tim yang abai komitmen tersebut, bakal diberhentikan.
“Titik mana saja yang disurvei kurang dari 100 meter. Timnya akan kami pecat,” janji Arif.
Pada akhir pertemuan yang sempat terjadi ketegangan, akhirnya telah ada titik temu. Hasil mediasi tertutup disepakati dibentuk tim pemantau seismik dan pemberian Corporate Social Responsibility (CSR).
Humas PHE TEJ, Muhammad Ulin Najah bersyukur warga dapat menerima dengan kesepakatan harus didata ulang serta warga ikut mengawal berjalannya pekerjaan sampai selesai atau ada tim pemantau seismik dari waga yang telah di tunjuk.
“Kami juga akan memberikan sumbangan CSR kepada warga desa,” janjinya.
Adapun tim pemantau seismik terdiri dari perwakilan Dusun Telogo Nongko, Kamituwo Saiful Abidin dan Salam. Dusun Jadi diwakili Kamituwo Junaedi dan Warjiran. Perwakilan Dusun Selang, Kamituwo Siswanto dan Suwadi. Terakhir di Dusun Genbul diwakili Kamituwo Siti Masrurotun.
Ditegaskan Ulin, dua poin lain yang disepakati babwa tim pemantau bersama petugas seismik akan melakukan pendataan ulang jalur lintasan kabel. Sekaligus menjelaskan ke warga satu persatu sejelas jelasnya, dan mengkoordinir keinginan masyarakat (menolak/menerima).
“Melakukan pendataan lubang bor di lahan warga dan menjauhkan dari pemukiman warga serta lokasi tanbang kumbung,” terangnya.(Hud)

Tags: