Ratusan Petani Tembakau Datangi Kantor Perwakilan PT Bentoel Madura

Tembakau berunjuk rasa di depan kantor perwakilan PT. Bentoel di Pamekasan yang mendapat pengamanan personil Polres Pamekasan. [syamsudin/bhirawa]

(Dugaan Permainan Kontrak Pembelian)

Pamekasan, Bhirawa
Seratusan Petani tembakau yang berasal dari wilayah kabupaten Sampang dan Pamekasan, Madura, mendatangi kantor perwakilan PT Bentoel di Jalan Jokotole Pamekasan.
Mereka meminta pertanggungjawaban atas kontrak Surat Tanda Pembelian (STP) oleh pihak Bentoel yang diduga ada permainan.
Massa menggunakan empat buah kendaraa pick up ini sempat mendatangi gudang tembakau di Desa Sentol. Yakni meminta ketegasan pihak Bentoel tentang harga tembakau dan kapan dijadwal pembelian. Menurut mereka (Petani, Red) yang masuk dalam kemitraan pabrik rokok ini, kini sudah melakukan panen Tembakau.
“Kami tidak mau berbuat rusuh, kedatangan kami ke sini hanya ingin meminta pertanggungjawaban oleh pihak Bentoel perihal STP. Karena kami, para petani sudah memanen dan melaksanakan perajangan Tembakau,” ucap salah satu orator aksi.
Atas desakan peserta aksi, pihak perwakilan pembelian dari PT. Bentoel, memperkenankan 10 orang untuk membahas tuntutan tersebut, sejumlah Petani harus terpaksa menunggu di luar pagar sambil berorasi dan membentangkan poster bertulis “Bentoel Group Harus Bertanggung Jawab Petani” dan spanduk bertulis “Tidak ada kata2 SPT di Madura, *TOLAK BENTOEL*”,
Beberapa menit kemudian 10 orang utusan petani, keluar dari kantor perwakilan itu. Bahwa pihak Bentoel akan mengkordinasikan soal harga dan jadwal pembelian Tembakau ke pihak perusahaan berada di Malang.
“Janji mereka, pihak Bentoel akan memproses 10 hari dari sekarang per tanggal 01/09/2019 katanya mulai di buka. Dan serakang masih mau dilaporkan ke Malang,” kata H.Nawawi korlap aksi menjelaskan kepada awak Media usai dengan disaksikan pengunjuk rasa, Kamis (22/08).
Selanjutnya, Nawawi juga petani Tembakau menandaskan, pihaknya mempercayakan permintaan pertanggungjawaban itu. Namun bila molor dan tidak ada kejelasan dari kesepakatan bersama ini. Mereka, para petani akan melakukan aksi langsung ke kota Malang.
“Kalau Tembakau kami sampai tidak dibeli, maka kami yang akan ke Malang mengadakan aksi besar-besaran,” tegas H. Nawawi, di luar pagar kantor perwakilan Bentoel.
Namun, ketika wartawan hendak melakukan wawancara ke pihak PT. Bentoel, oleh petugas Satpam setempat dilarang masuk. Bahkan pagar pintu masuk utama tertutup rapat dan dijaga ketat oleh 3 orang Satpam yang mengawasi wartawan yang melakukan tugas peliputan.
“Jangan masuk mas tidak boleh, kami melaksanakan tugas. Tolong mundur mas,” kata salah satu Satpam dibalik pagar kantor perwakilan PT. Bentoel. [din]

Tags: