Rasiyo Sindir Risma ‘Pemimpin Semau Sendiri’

Rasiyo Sindir Risma 'Pemimpin Semau Sendiri'Surabaya, Bhirawa
Debat publik kedua Pilwali Surabaya dengan tema Memperkokoh NKRI dan Wawasan Kebangsaan, menjadi ajang saling menjebak antar pasangan calon (paslon). Jebakan dibuat melalui pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah Kota Surabaya.
Kesempatan itu muncul dalam sesi tanya jawab paslon. Yang pertama melakukan ialah paslon nomor urut satu Dr Rasiyo-Lucy Kurniasari. Paklik Rasiyo sapaan akrabnya menanyakan kepada Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana terkait isi sebuah buku tentang Surabaya. Namun, Risma mampu menjawabnya.
Hal yang sama dilakukan paslon nomor urut dua. Untuk menguji wawasan kebangsaan Rasiyo-Lucy, Whisnu melontarkan pertanyaan tentang lokasi makam Sawunggaling dan warisan budayanya. Rasiyo pun mampu menjawab, bahkan mengaku sempat mengunjungi makam Sawunggaling secara langsung.
Akan tetapi, saat Rasiyo menjawab kalau Sawunggaling dimakamkan di Lidah Kulon, namun oleh Whisnu dibantah bahwa makam Sawunggaling justru berada di Lidah Wetan. “Makam Sawunggaling di Lidah Wetan,” kata Whisnu Sakti.
Sebaliknya saat Rasiyo mengkritisi terkait patung Cak Durasim yang tidak terawat, lalu oleh Whisnu Sakti pertanyaan itu dibalik, bukankah itu kewenangan Pemprov Jatim.
Selain itu kedua paslon calon Wali Kota dan wakil Wali Kota dalam debat publik kemarin malam saling mengumbar janji akan meningkatkan daya saing kota Surabaya sekaligus melibatkan kalangan muda dalam pembangunan. Dalam debat yang  dipandu oleh rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof M Nasih.
Calon wali kota (cawali) Surabaya nomor urut satu, Rasiyo akan menerbitkan peraturan walikota (Perwali) tentang penguasaan bahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing yang bekerja di Surabaya. Hal ini dilakukan untuk membentengi bahasa Indonesia dari arus bahasa asing.
Mantan sekretaris daerah provinsi (sekdaprov) Jawa Timur ini mengaku, pemerintah tidak bisa menutup diri terhadap arus pekerja asing yang masuk ke kota Pahlawan. Apalagi saat ini sudah memasuki pasar bebas. Namun, bagaimanapun pemerintah harus mampu membentengi diri atas arus budaya dari luar negeri.
“Caranya, kompetensi pekerja dalam negeri harus ditingkatkan. Sehingga mereka memiliki daya saing. Lalu, pekerja asing harus bisa berbahasa Indonesia,” katanya.
Dalam debat bertema kebangsaan ini, wakil wali kota (wawali) Surabaya, pendamping Rasiyo, Ning Lucy menambahkan, pihaknya akan menggelar program 1.000 kegiatan kreatif bagi anak muda. Kegiatan kreatif ini tidak hanya pada seni-seni pertunjukkan, tapi juga kegiatan yang mampu mendorong ke arah industri.
Artinya, semua lapisan masyarakat bisa merasakan langsung dampak ekonomi atas kegiatan seni itu. Selain itu, wisata di Surabaya juga akan tumbuh. Di Bandung misalnya, kegiatan seni di kota bunga ini tumbuh karena sudah menjadi industri.
“Pembangunan nanti yang akan kami lakukan tentu akan berpusat pada rakyat, salah satunya anak-anak muda,” paparnya.
Dalam debat sesi ketiga saling bertanya dan menjawab, antar paslon saling sindir. Rasiyo melontarkan pertanyaan yang menyindir gaya kepemimpinan Risma yang tidak mempedulikan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Provinsi Jatim memiliki tim pengendali inflasi daerah (TPID), tapi hanya Surabaya yang tidak menggunakan tim inflasi,” tanya Rasiyo.
Rasiyo juga menyinggung, saat upacara hari kebangkitan nasional setiap tahun digelar nyekar ke makam dr Soetomo.
“Ini bukti pemimpin yang tidak menghormati para pendahulu. Mestinya juga diakui bahwa pak Bambang DH dan Ridwan Kamil itu ikut membangun Surabaya. Apa salahnya mengakui jasa orang lain. Menghormati para leluhur dan pemimpin kita itu penting,” katanya.
Menjawab pertanyaan dan sindiran itu, Risma menjawab dengan lugas sesuai keyakinan kebijakannya dalam memimpin. Menurutnya, buat apa membentuk tim inflasi kalau hanya duduk-duduk menerima honor tanpa melakukan pengendalian inflasi secara riil.
“Kami melakukan dengan tindakan. Tanpa tim, kita bisa mengendalikan inflasi dengan melakukan operasi pasar secara langsung ke masyarakat. Untuk itu, di Surabaya tidak pernah terdampak krisis,” kata Risma.
Mendapat kesempatan, Rasiyo masih menyanggah pernyataan Risma. Menurut Rasiyo ketidakpatuhan Kota Surabaya dalam kebijakan pemerintah merupakan bentuk mengabaikan keutuhan NKRI.
“Seharusnya pemimpin itu tetap menjalankan kebijakannya mencerminkan keutuhan NKRI. Tidak kemudian semaunya sendiri,” katanya.
Meyakinkan Rasiyo, Risma menjawab bahwa budaya Pemerintah Kota Surabaya dalam kebijakan lebih mengedepankan turun ke masyarakat.
“Kita tidak mau jika harus membentuk tim yang nantinya malah menyedot anggaran. Semua bahan pokok turun, karena kinerja kami bagus dalam operasi pasar,” katanya. (geh)

Tags: