Ramadan Usai Pilpres

Drs H Choirul Anam Djabar

Oleh:
Drs H Choirul Anam Djabar
Ketua Jam’iyah Tilawatil Quran Provinsi Jatim

Beberapa hari setelah pilpres, kami memposting sebuah status di media sosial (Medsos) yang berbau politik, khususnya setelah pilpres. Salah seorang teman dari Jam’iyatul Qurra wal Huffadz langsung mengomentari postingan tersebut dengan ajakan bersatu karena menjelang Bulan Suci Ramadan. Karena teman tersebut adalah salah satu teman tim tadarus di RRI Surabaya, maka ia pun segera mengajak bersiap-siap bertadarus di RRI.
Populer juga di Medsos dan masyarakat luas, setelah Pilpres (yang terdiri dari pasangan 01 dan 02) dianjurkan agar 01 + 02 = 03 yang berarti ‘Persatuan Indonesia’. ‘Persatuan Indonesia’ adalah bunyi sila ketiga dari Pancasila, dasar Negara kita. Dan kita memang sangat dianjurkan untuk bersatu. Tanpa persatuan, sulit bagi Indonesia untuk bisa merdeka.
Karena itu, moment Ramadan ini sangatlah tepat untuk merajut kembali persatuan di antara kita. Setiap malam kita bertemu dengan keluarga, teman dan sahabat selama Ramadan. Baik pada saat berbuka puasa bersama, salat tarawih dan salat-salat fardu lainnya. Usai salat tarawih kita masih dipertemukan dengan tadarus. Belum lagi kegiatan salat malam.
Semua itu tentu membutuhkan keikhlasan untuk melupakan segala sesuatu berbeda. Kita harus buang jauh-jauh siapa pilihan presiden kita. Kita harus buang jauh-jauh partai apa yang kita pilih. Sebab tanpa hal ini, tentu silaturrahmi kita akan terganggu.
Silaturahmi ini sangat penting, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).Sebaliknya, orang-orang yang memutus silaturrahim. Maka Rasulullah Saw memberikan ancaman:”Orang yang memutuskan silaturrahim tidak akan masuk surga”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Sementara itu, dalam bulan yang mulia ini, umat Islam juga dianjurkan untuk berbagi kepada sesama manusia. Setelah merasakan sakitnya lapar, di saat berbuka kita berbagi makanan kepada sesama. Nah, dalam berbagi ini pun kita dituntut untuk tulus ikhlas, tidak pandang bulu, apakah yang kita beri harus yang sepilihan dengan kita atau tidak, separtai atau tidak, dan sebagainya dan seterusnya.
Keimanan seseorang diukur dari sikap empatinya kepada saudaranya. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Kamu tidak beriman, hingga kamu menyayangi saudaramu seperti menyayangi diri sendiri”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Orang yang mengaku beriman, tapi tidak mau berbagi, maka diragukan keimanannya.**

Rate this article!
Ramadan Usai Pilpres,5 / 5 ( 1votes )
Tags: