Ramadan dan Akhlaq Bermedia

Oleh :
Amarta Risna Diah Faza
Ketua Bidang Program Pendidikan & Ilmu Politik Monash Institute dan Ketua Umum Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Semarang 2017 – 2018

Kehadiran Ramadhan merupakan suatu keniscayaan. Bulan Ramadhan, yang selalu diidentikkan dengan syahru al-‘ibadah (bulan ibadah), syahru ash-shiyam (bulan puasa) bahkan bulan suci, menjadikannya berbeda dengan bulan-bulan lain. Ramadhan menjadi syahru al-‘ibadah, karena manusia diberi kesempatan untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Bahkan pahala orang yang beribadah selama Ramadhan pun dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Dikatakan sebagai syahru ash-shiyam, karena puasa merupakan ibadah paling utama di bulan Ramadhan. Berpuasa menjadi ibadah wajib yang harus dilakukan setiap harinya selama bulan ini. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus semata. Yang paling penting, manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Karena Ramadhan juga diibaratkan sebagai bulan suci, manusia juga dianjurkan untuk menabung pahala sebanyak-banyaknya. Baik ibadah yang berkaitan dengan hablun min Allah (hubungan dengan Allah) maupun hablu min An-Nas (Hubungan dengan manusia).
Manusia dianjurkan untuk menebar kebaikan di bulan suci. Sebagai imbalannya, pahala ibadah akan dilipatgandakan, berbeda ketika kita lakukan di luar bulan tersebut. Sebaliknya, menebar kebencian sangat dilarang karena bisa jadi akan menimbulkan perselisihan.
Menebar kebencian maupun melakukan perbuatan buruk di bulan Ramadhan, sejatinya telah menodai kesucian dari bulan suci itu sendiri. Puasa yang dijalani tentu akan sia-sia. Mengingat hadist Nabi yang menganjurkan untuk menjalankan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan, harusnya bisa kita kontekstualisasikan secara nyata.
Puasa berkualitas
Menjalankan amalan-amalan yang dianjurkan selama Ramadhan, berpotensi membuat puasa semakin berkualitas. Pada edisi Ramadhan, banyak sekali agenda religi – kalau boleh disebut agenda – kita temukan. Baik ceramah-ceramah untuk memperdalam ilmu agama, tadarus al-Qur’an, shalat tarawih dan lain sebagainya. Akan sangat merugi bagi umat yang menjalankan puasa sebatas menahan lapar dan haus semata.
Kalaupun memang belum bisa melakukan sebuah kebaikan, setidaknya jangan berbuat keburukan. Namun seringkali kita temukan bahkan kita lakukan perbuatan-perbuatan tercela yang tidak disukai Ramadhan. Yang marak terjadi akhir-akhir ini ialah saling menebar kebencian.
Era digitalisasi yang semakin canggih, membuat masyarakat sangat bergantung pada telepon pintar (baca : media sosial) setiap hari. Dalam setiap keadaan, layar telepon pintar menjadi pemandangan yang sering dilihat si empunya. Apabila digunakan dengan bijak, media sosial tentu memiliki banyak manfaat.
Realitanya, hanya beberapa gelintir orang saja yang bisa memanfaatkan media sebagaimana mestinya. Dapat kita saksikan pada postingan-postingan media (baik media sosial maupun media massa) yang ada. Kehadiran Ramadhan, tidak memiliki efek signifikan terhadap aktifitas menebar kebencian di berbagai media.
Peristiwa yang masih hangat sampai sekarang ini ialah prosesi pesta demokrasi. Pesta demokrasi – yang sering diidentikkan dengan pemilu, baik ditingkat pusat maupun daerah – telah dilaksanakan pada 17 April 2019 lalu. Hasil akhir dari prosesi pemilu, akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) selambat-lambatnya pada 22 Mei.
Puncak riuh rendah keributan, terjadi pasca pemungutan suara. Kedua pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden serta para pendukung, melakukan aksi saling menyerang satu sama lain. Yang tak kalah ramai, suasana keributan juga terjadi pada akar rumput.
Mengingat prosesi pemilu merupakan peristiwa penting dalam politik, media pun tak mau ketinggalan untuk ikut terlibat. Disaat seperti ini, media seharusnya menggunakan kuasa dengan bijak. Mengingat fungsinya sendiri, yakni sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi. Media memiliki peran penting dalam prosesi pemilu. Istilah klasiknya, media harus menjadi watch dog supaya pemilu terselenggara secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Terlepas dari pihak mana yang menang untuk saling adu klaim, kehadiran media bukan malah membantu untuk menetralisir ketegangan; malah justru membuat suasana semakin panas. Fokus liputan media, hanya diarahkan pada persaingan antar kubu atau partai semata.
Kepentingan pemilih pun kerap dilupakan. Seperti Kerbau dicocok hidungnya, media kali ini hanya sekedar mengikuti irama gendang yang ditabuh para kontestan pemilu. Harus diakui, pemilu kali ini telah meninggalkan catatan buram. Mereka yang tidak apatis terhadap prosesi pemilu, ikut larut dalam kebencian.
Di tengah riuh rendah suasana perdebatan politik, media harus menampakkan kuasanya yang berwibawa. Media dituntut untuk memainkan perannya. Media harus menyampaikan informasi kritis nan cerdas yang dibutuhkan publik. Bukan memuat liputan yang sarat akan kepentingan elit-elit politik. Media harus menunjukkan kuasanya sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi dengan turut andil dalam meredakan ketegangan.
Oleh karena itu, perlu kita perhatikan secara seksama tentang penggunaan media (baik pengguna media sosial maupun menguasa media massa). Ibarat pisau bermata dua, media dapat memberi manfaat, juga mendatangkan mafsadat. Manusia bisa mengakses berbagai informasi dengan mudah dan cepat.
Dengan banyaknya postingan media yang melakukan aksi saling serang, dapat berdampak buruk. Khususnya bagi para pengamat awam. Dengan datangnya bulan suci, manusia diharapkan untuk mengendalikan hawa nafsu. Memperbanyak amal ibadah, salah satunya dengan berhati-hati dalam menggunakan media. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

———– **** ————-

Rate this article!
Tags: