RAA Soeroadiningrat V dan Raden Djamilun, Robin Hood-nya Jombang

Lukisan Cak Luk Jombang tentang sosok Bupati Jombang Pertama, RAA Soeoadiningrat V dan saudaranya, Raden Djamilun. [arif yulianto]

Cerita Bupati Jombang Pertama
Jombang, Bhirawa
Periode awal pemerintahan Kabupaten Jombang, ternyata memiliki sejarah tentang saudara yang mempunyai hubungan adik dan kakak pada masa pemerintahan Bupati Jombang pertama pada periode 1910-1930. Adik dan kakak dari satu ayah yang sama itu yakni, RAA Soeroadiningrat V yang merupakan Bupati Jombang pertama yang akrab disebut dengan Kanjeng Sepuh, dengan saudaranya dari lain ibu yakni, Raden Djamilun. Keduanya kemudian memilih jalan perjuangan yang berbeda dalam konteks memperjuangkan nasib rakyat pada era pemerintahan Kolonial Belanda.
Cerita tentang Kanjeng Sepuh banyak ditulis di sejumlah literature. Salah satunya seperti yang ada di buku biografi Para Bupati Jombang yang ditulis oleh Fahruddin Nasrulloh, Dian Sukarno dan Yusuf Wibisono pada 2010 yang lalu. Namun cerita tentang Raden Djamilun hampir belum pernah ditulis secara detail dalam literatur-literatur.
Menurut sejahrawan Jombang Dian Sukarno, berdasarkan keterangan dari pihak keluarga bupati jombang pertama, baik RAA Soeroadiningrat maupun Raden Djamilun merupakan kakak beradik. Namun dari keduanya, siapakah yang merupakan saudara tua (kakak) dan yang muda (adik), Dian Sukarno sendiri menyampaikan hal itu masih debatebel.
“Kakak beradik beda ibu, istilahnya kalau di kerajaan kan ada permaisuri sama selir. Kanjeng Sepuh dari jalur utama (permaisuri) dan Raden Djamilun dari selir,” ujar Dian Sukarno kepada Bhirawa, Jumat (30/8).
Dikutip dari buku biografi bupati Jombang tersebut, Bagus Badrun (RAA Soeroadiningrat) diangkat oleh Pemerintah Belanda menggantikan ayahnya RAA Soeroadiningrat IV sebagai Regent atau Adipati di daerah Sedayu, Gresik pada kurun waktu 1884-1910 sebelum menjabat kedudukan yang sama di wilayah Jombang pada periode berikutnya.
Pengangkatan RAA Soeroadiningrat V sebagai Adipati Sedayu menimbulkan kecemburuan dikalangan saudarnya. Salah satu di antaranya yang kurang setuju yakni saudara lain ibu bernama Raden Djamilun. Kelak Raden Djamilun memposisikan diri sebagai oposan RAA Soeroadiningrat V hingga menjadi Regent atau Adipati di Jombang.
RAA Soeroadiningrat merupakan keturunan ke-15 dari Brawijaya ke-V, Raja Majapahit terakhir. Dan Raden Djamilun merupakan saudara lain ibu dari Kanjeng Sepuh yang merupakan putra dari RAA Soeroadiningrat IV (Regent Sedayu). Diceritakan Dian Sukarno, kedua kakak beradik ini masing-masing memiliki kesaktian.
RAA Soeroadiningrat V kemudian diangkat secara resmi sebagai Bupati Jombang oleh Pemerintah Belanda pada 1910. Orang yang membawa beselit/Surat Keputusan (SK) pengangkatan RAA Soeroadiningrat V sebagai Bupati Jombang dari Batavia saat itu yakni soerang penghulu asal Sumobito, Jombang bernama Imam Zahid yang disebut Dian Sukarno tak lain merupakan buyut dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).
Saat memasuki era Pemerintahan Bupati Jombang pertama yang dipimpin oleh Bupati RAA Soeroadiningrat (Kanjeng Sepuh) pada 1910-1930, muncullah juga disitu cerita tentang aksi Raden Djamilun yang diibaratkan oleh Dian Soekarno sebagai ‘Robin Hood’-nya Jombang dalam hal yang nyata. Berbeda dengan legenda dua ‘Robin Hood’ dari Jombang yakni Maling Cluring maupun Maling Gentiri yang merupakan cerita tutur, kata Dian Sukarno, cerita tentang Raden Djamilun ini lebih nyata.
“Pola geraknya seperti Sunan Kalijaga ketika masih bernama Raden Said. Karena melihat penderitaan rakyat yang serba kekurangan, kalau Brandal Lokajaya (Raden Said) mencuri harta orang tuanya dan para pejabat untuk dibagikan kepada rakyat miskin, kalau Raden Djamilun ini mencuri harta para petinggi Belanda untuk diberikan kepada rakyat miskin. Tahu-tahu hasil curian ini sudah ada di depan rumah rakyat paling miskin,” papar Dian Sukarno.
Aksi Raden Djamilun ini kemudian diketahui oleh Belanda. Namun pemerintah Belanda tidak bisa berkutik lebih jauh karena Raden Djamilun sendiri merupakan saudara dari RAA Soeroadiningrat V yang memiliki jasa besar hingga mendapatkan predikat ‘Reader de Oranje’ atau Kepala Pemerintahan Teladan pada era Pemerintahan Kolonial Belanda.
“Sehingga Raden Djamilun tidak pernah diproses di ‘Landraad’ (Pengadilan Belanda) karena jasa saudaranya (RAA Soeroadiningrat V) ini. Jadi Belanda masih melihat (jasa) RAA Soeroadingrat V,” tutur Dian Sukarno.
Makam RAA Soeroadiningrat, Bupati Jombang pertama terdapat di Kompleks Makam Keluarga di Pulo, Jombang. Sementara kata Dian Sukarno, dirinya hingga saat ini juga masih dalam proses pencarian keberadaan makam Raden Djamilun. “Ada yang cerita, dimakamkan di daerah Sedayu bersama para leluhurnya,” tutur Dian Sukarno.
Sosok RAA Soeroadiningrat dan Raden Djamilun ini pernah dilukis dalam lukisan realis oleh Lukmanul Chakim (Cak Luk), pelukis asli Jombang berasal dari Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Jombang pada sekitar 2017 lalu dalam Peringatan Hari Pahlawan 10 November di depan Taman Makam Pahlawan Jombang. Menurut Cak Luk, lukisan ini dibuatnya dalam tempo waktu selama dua jam tanpa ada gambar ataupun foto pembanding.
Pada foto lukisan yang diabadikan oleh wartawan media ini di rumah Cak Luk di Studio Sabrang, Gebangmalang, Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Minggu (25/8) ini, sosok RAA Soeroadiningrat digambarkan menggunakan baju hitam dan menggunakan blangkon, di dadanya terdapat sejumlah lencana.
Sementara sosok Raden Djamilun digambarkan memakai baju dengan blangkon di kepala serta memakai cadar. Dibelakang kedua sosok juga dilukiskan sebuah Pendopo Kabupaten dan Bendera Merah Putih. [arif yulianto]

Tags: