Pulang Student Exchange, 10 Siswa Smamda Siap Berbagi Pengalaman

Salah satu siswa yang ikut Program Pertukaran Pelajar di Negara Australia didampingi Ustadz Syuhada IA Gomes bersiap membagikan pengalamannya selama di tinggal di Negara Kangguru. [trie diana]

Surabaya, Bhirawa
Setelah mengikuti Program Student Exchange 2019 Partisipation Smamda GVGS (Goulburn Valley Grammar School) di Shapperton, Victoria, Australia, sejak 18 hingga 25 Februari lalu. 10 Siswa SMA Muhamamdiyah 2 (Smamda) Surabaya segera membagikan pengalaman dan ilmunya selama belajar di Negara Kanguru kepada teman – temannya.
Ke 10 siswa Smamda itu, Mellya Dewi Purnamasari, RA Faya Maulida Qannia, Zulfalehira Sri Dhuha Yacop, M Haykal Rafsanjani, Nadhira Soraya, Zahrah, Rayzan Rahmanada (keenamnya kelas X MIPA) Aurelia Asilah, Han’ts Naufal Abigail, Rafida Mahmud (ketiganya kelas XI MIPA), sedangkan Aini Saffana Amalia Subiro kelas XI IPS menyatakan sangat senang bisa belajar dengan siswa di sekolah GVGS. Meskipun ikut program pertukaran pelajar hanya satu pekan tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil dan diterapkan di sekolahnya bersama teman – temannya yang tidak ikut.
Menurut Rayzan Rahmananda, Ternyata mendalami sistem pendidikan di Negara Australia sangat menarik dan menyenangkan. Sebab belajar di Ausi-sebutan Australia lebih banyak praktiknya daripada teorinya, hal ini berbeda dengan pembelajaran di Negara Indonesia yang lebih banyak teorinya daripada praktiknya. Maka setelah pulang dari Australia akan sharing yang pengalaman yang baik – baik dengan teman di Smamda.
“Di Australia ketika pelajaran olah raga, saya langsung praktik olah raga Cano padahal di Indonesia tidak pernah memainkan olah raga air ini. Bahkan ketika mata pelajaran Biologi, kami diajak melihat di Fauna Park untuk mempelajari dan melihat fauna asli Australia. Dan untuk Humanity yakni belajar bersosialisasi dengan teman – teman kami langsung ditugasi untuk membuat karya tulis, bahkan saat itu juga harus dikerjakan dan dikumpulkan untuk dinilai,” papar Rayzan ketika ditemui saat memulai sekolah kembali.
Perbedaannya lagi, jelas Rayzan, ketika para siswa memilih jurusan IPA yang meliputi Mata Pelajaran Biologi, Kimia dan Fisika. Namun, ada salah satu mata pelajaran yang tidak disukai, misalnya Kimia. Namun tidak suka dengan Mata Pelajaran Kimia maka boleh tidak diambil, dan boleh dikombinasikan dengan jurusan Ilmu Sosial. Padahal kalau di Negara Indonesia pilihan subyek mata pelajaran sendiri ini tidak diperbolehkan.
Rayzan juga mengaku sangat beruntung bisa ikut program pertukaran pelajar di Negara Australia. Sebab bisa meningkatkan kemampuan berbahasa inggrisnya dengan lebih baik lagi dan lebih sopan. ”Bagaimana cara berbahasa yang sopan dan yang baik juga sudah dipelajari ketika bersosialisasi dengan para guru di sana dan teman – teman di Australia,” tandasnya.
Sementara itu, guru pendamping para siswa, Ustadz Syuhada IA Gomes MPdI menjelaskan, selama di Australia harus memberikan pendampingan yakni mendampingi kegiatan belajar dan tugas – tugas yang diberikan GVGS, mengawasi ibadah para siswa, juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Serta membagi para siswa ke dalam kelas – kelas yang ada di GVGS, agar 10 siswa peserta program pertukaran pelajar tidak hanya terkonsentrasi dalam satu kelas saja.
Namun, Ustadz Gomes-sapaan akrabnya, sangat terkesan dengan motivasi para siswa di Negara Australia, sebab motivasi belajarnya sangat tinggi. Bagitu pergantian mata pelajaran para siswa itu langsung pindah ke kelas yang dituju dengan cepat dan tidak ada yang terlambat.
“Para siswa di Australia, moving classnya sangat tinggi. Sebab begitu ganti mata pelajaran mereka langsung pindah ke kelas – kelas yang sesuai mata pelajarannya, dan tidak ada yang terlambat. Sementara pihak sekolah toleransinya sangat tinggi. Buktinya, ada siswa muslim dari Afganistan, Pakistan dan India dan siswa Smamda, telah disediakan tempat khusus untuk salat. Sehingga bisa beribadah tanpa meninggalkan sekolahan,” jelas Ustadz Gomes. [fen]

Tags: