Puasa Media Sosial

Oleh:
Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang.

Bulan puasa ternyata tak menyurutkan sejumlah pengguna media sosial (medsos) untuk bikin gaduh. Unggahan pesan berupa ujaran kebencian dan berita bohong (hoax) masih terus diproduksi. Hoax politik lewat medsos juga semakin bikin panas suasana, terutama jelang pengumuman resmi hasil pilpres dan pileg oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Untuk itu pada bulan puasa Ramadan ini puasa medsos juga menjadi penting dilakukan.
Bulan Ramadan beberapa pihak mengajak puasa medsos. Seruan untuk puasa medsos dilakukan guna menciptakan suasana adem. Segala bentuk berita bohong (hoax) jelang hingga pasca pemilu yang lalu sudah bikin panas suasana. Medsos telah menjadi kompor selama proses politik berlangsung. Kini saatnya suasana adem diciptakan oleh semua pihak, khususnya para pengguna medsos.
Melalui beragam platform medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram, Line, hingga WhatsApp, kabar kebencian dan berita bohong terus diproduksi dan dibagi-bagi. Sejumlah kabar yang tak jelas kebenarannya itu tak sedikit yang jadi sumbu tersulutnya perseteruan di tengah masyarakat. Tak sedikit pihak yang menghujat merebaknya hoax di medsos. Namun tak banyak orang yang mampu membendung beragam narasi kebencian itu.
Medsos yang idealnya menjadi sarana membangun pertemanan justru menjadi pemicu merebaknya bibit-bibit kebencian. Medsos yang seyogyanya menjadi sarana tumbuhnya kohesi sosial justru memicu keterbelahan sosial. Medsos yang mestinya jadi lem perekat persatuan itu kini justru jadi sarana perpecahan.
Narasi Cepat Saji
Beragam narasi diproduksi sejumlah orang dan diviralkan melalui medsos. Kalau pesan-pesan yang diunggah dan beredar di medsos itu sebuah pesan bijak yang bermanfaat mungkin tak jadi soal. Namun narasi yang banyak muncul lewat medsos justru lebih banyak yang tak punya manfaat positif. Tak jarang beragam narasi yang beredar di medsos dibuat dengan instan seperti layaknya makanan cepat saji.
Berbagai narasi yang dibuat dengan kilat tersebut kecenderungannya tanpa memperhatikan kebenaran terhadap informasi yang disampaikan. Hal ini diperparah oleh banyaknya pengguna medsos yang tanpa memeriksa akurasi informasi yang diterimanya dan dengan cepat turut membagi-bagikan informasi tak akurat tersebut. Sering narasi dalam medsos dibuat dalam waktu super cepat, disajikan dan diviralkan.
Lihat saja sejumlah pesan-pesan kesehatan yang tersebar lewat medsos, termasuk yang viral lewat whatsApp. Ternyata menurut hasil verifikasi sejumlah pihak, hampir 90 persen informasi kesehatan yang beredar di medsos itu tidak benar. Demikian halnya informasi seputar politik dan pemilu. Mayoritas informasi yang banyak viral bernada hasutan dan kebohongan. Hal inilah yang bikin berinteraksi melalui medsos bikin tak adem dan tak menyejukkan.
Tak jarang narasi yang dibuat oleh sejumlah orang dengan sengaja untuk menebar kegaduhan. Tak jadi penting bahwa narasi itu berasal dari sebuah kebohongan. Bahkan narasi kebohongan itu telah tersamarkan oleh viralnya pesan itu karena telah dibaca dan disebarkan oleh banyak orang. Dalam logika medsos, apa yang telah viral itu selanjutnya dipercaya sebagai sebuah kebenaran walaupun aslinya kebohongan.
Kalau sudah begini, lantas bagaimana menghentikan produksi dan merebaknya narasi cepat saji yang diusung lewat medsos? Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah stop narasi-narasi kebohongan itu cukup di gadget kita saja. Kita tak perlu perduli walaupun pada pesan yang kita terima itu meminta kita turut memviralkannya. Ketika kita tak ikut memviralkan pesan yang kita tak tahu kebenarannya tersebut maka narasi-narasi hoax itu lambat laun pasti akan sirna.
Narasi-narasi yang mampu menyulut kemarahan dan perpecahan terbukti telah cukup berdampak pada ketenteraman masyarakat. Lihat saja ratusan hoax yang ditemukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) setiap bulannya. Pada masa kampanye pemilu misalnya, produksi dan distribusi hoax semakin masif dan tak terkendali. Perpecahan antar kubu yang sedang ikut berkontestasi semakin meruncing gegara narasi di medsos.
Menurut data dari Kominfo pada Bulan April 2019 ditemukan sebanyak 486 hoax. Dari jumlah itu sebanyak 209 termasuk dalam kategori hoax politik. Sepanjang bulan Agustus 2018 hingga April 2019 total ditemukan 1.731 hoax. Hoax politik yang beredar antara lain berupa kabar bohong yang menyerang capres-cawapres, parpol peserta pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

——– *** ———-

Rate this article!
Puasa Media Sosial,5 / 5 ( 1votes )
Tags: