Porprov dan Pemerataan Prestasi Atlet Jatim

Oleh :
Husnun N Djuraid
Wakil ketua KONI Kota Malang, pendidik di Universitas Muhammadiyah Malang

Gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Jatim sudah berakhir dengan closing ceremony yang megah di Stadion Bumi Wali Tuban. Sepekan sebelumnya Porprov dibuka dengan sangat meriah di Stadion Surajaya Lamongan. Tidak ada gading yang tak retak, selalu ada kekurangan dari gelaran pesta olahraga yang melibatkan lebih dari tujuh ribu atlet dari seluruh Kota dan Kabupaten di Jatim. Tapi Porprov tahun menorehkan beberapa catatan yang sangat menarik. Kalau sebelumnya perolehan medali selalu didominasi oleh Surabaya dengan jumlah yang sangat besar, kini distribusi medali mulai merata di semua daerah.
Kalau dalam Porprov 2015 di Banyuwangi ada beberapa daerah yang tidak kebagian medali – perunggu sekalipun – tapi dalam Porprov kali ini semua daerah kebagian medali. Kota Surabaya yang selalu dominan dengan perolehan medali yang mencolok, kini mulai menurun. Dalam Porprov di Banyuwangi, ibu kota Jatim itu meraih 118 emas tapi dalam Porprov tahun ini meraih 113 medali emas, atau berkurang lima medali emas. Meskipun demikian, Surabaya masih tetap yang terbaik dibanding daerah lain di Jatim.
Pemerataan medali bagi semua peserta Porprov ini merupakan indikasi adanya peningkatan prestasi olahraga di daerah. Ghirah pembinaan mulai tampak hasilnya. Para kepala daerah mulai menyadari pentingnya prestasi olahraga bagi mengatrol nama dan gengsi daerah.
Peningkatan prestasi justru dialami oleh daerah-daerah yang selama ini berada di bawah Surabaya. Kota Kediri tercatat mengalami prestasi yang fantastis dengan menggeser Kota Malang yang selama ini menjadi langganan runner up di belakang Surabaya. Hal yang sama juga dialami Kabupaten Sidoarjo yang melonjak ke posisi ketiga, sedangkan kota Malang justru terlempar ke posisi keempat.
Daerah-daerah lain seperti Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Banyuwangi, Lamongan dan Bojonegoro juga mengalami pen ingkatan. Perubahan periode Porprov dari dua tahun menjadi dua tahun, bisa jadi penyebab menurunnya prestasi di satu sisi, tapi di sisi lain justru meningkatkan prestasi. Daerah yang sudah terbiasa dengan kompetisi yang ketat, justru mengalami stagnasi ketika kompetisi itu diubah menjadi emat tahunan. Regenarasi atlet tidak bisa berjalan dengan lancar. Banyak atlet yang tidak bisa diturunkan karena usianya sudah melebihi batasan. Padahal pada Porprov sebelumnya masih menunjukkan prestasi yang baik.
Sebaliknya, periode empat tahun ini justru menguntungkan pembinaan jangka panjang. Daerah bisa lebih leluasa melakukan rekrutmen atlet sekaligus membinanya. Kurun waktu empat tahun dianggap cukup untuk melahirkan atlet berprestasi yang direkrut tanpa prestasi sama sekali.
Salah satu keputusan penting dalam bidang olahraga yang dicanangkan gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa adalah mengubah pelaksanaan Porprov dari empat tahun menjadi tiap dua tahun. Dua tahun mendatang, saat Porprov digelar di Jember, akan terjadi persaingan yang sangat ketat diantara peserta. Atlet yang mampu berprestasi tahun ini, masih ada yang bisa diturunkan dua tahun yang akan datang karena usianya masih di bawah 21 tahun, batasan usia peserta Porprov.
Hal yang sama juga terjadi pada atlet yang belum berprestasi pada Porprov kali ini, dua tahun mendatang mereka akan mencapai prestasi puncak. Waktu dua tahun dianggap cukup untuk berlatih ekstrakeras untuk mencapai prestasi puncak. Para atlet yang tahun ini meraih perunggu, perak atau belum meraih medali sama sekali, dua tahun yang akan datang akan bisa unjuk gigi. Tentu saja, dengan pola latihan dan pembinaan yang berkesinambungan. Ketika Poprov berubah menjadi dua tahunan, tidak ada waktu jeda bagi pembinaan. Waktu dua tahun dianggap cukup untuk menyiapkan prestasi atlet pada puncaknya.
Tentu saja tidak ada lagi waktu luang untuk bersantai. Waktu akan terus mengejar, harus dimanfaatkan dengan maksimal. Begitu pulang dari Porprov VI, para pembina sudah harus memutar otak menyiapkan strategi untuk meraih medali sebanyak-banyaknya pada Porprov mendatang. Strategi pembinaan prestasi harus dicanangkan sejak sekarang. Seleksi atlet sudah harus dilakukan. Apakah atlet lama masih bisa dipertahankan atau mencari atlet baru.
Kepedulian Kepala Daerah
Banyak yang menduga prestasi yang dicapai suatu daerah karena dukungan anggaran dari APBD yang besar. Memang olahraga tak bisa dipisahkan dari biaya, tapi tidak semua daerah berprestasi didukung dengan anggaran yang besar. Dana memang penting, tapi bukan segalanya. Kreatifitas dan semangat para pembina menjadi faktor penting dalam pembinaan prestasi. Hasil Porprov VI harus dijadikan bahan evaluasi menatap even berikutnya. Tentu semua itu harus ditunjang dengan dana yang cukup.
Di sinilah peran kepala daerah sangat penting, memberi anggaran yang cukup dan menyediakan fasilitas olahraga yang baik. Empat daerah penyelenggaran Porprov VI, membangun sport center yang bagus. Fasilitas itu bukan saja untuk Porprov, tapi juga untuk even selanjutnya. Semangat untuk berlatih akan berlipat karena ditunjang fasilitas yang baik. Selain fasilitas, anggaran tahunan untuk pembinaan prestasi olaharaga tak kalah pentingnya.
Melihat hasil yang dicapai dalam Porprov, tampaknya daerah harus memilih skala prioritas cabang olahraga yang akan dikembangkan prestasinya.
Saat ini sudah ada maping prestasi cabang olahraga di berbagai daerah. Misalnya, Surabaya pusat prestasi olahraga air, Kota Malang balap sepeda, Kota Kediri atletik dan angkat besi, juga kota-kota lain. Ada juga cabang olahraga yang prestasinya merata di semua daerah. Strategi memilih cabang olahraga unggulan ini penting untuk bisa memaksimalkan prestasi. Tahu tentang kekuatan sendiri dan kekuatan lawan. Olahraga yang memiliki kans untuk meraih medali di Porprov diberi perhatian lebih.
Bukan berarti menganak tirikan cabang yang lain, tapi ini bagian dari strategi dan penghargaan terhadap prestasi. Kalau cabang olahraga lain ingin mendapat perhatian – tentu dengan anggaran yang lebih besar – harus mampu menunjukkan prestasi. Akan terjadi kompetisi antarcabang olahraga untuk menunjukkan prestasi terbaik. Tidak ada prestasi tanpa kompetisi.
Wadah kompetisi untuk tingkat Jatim sudah diciptakan dengan periode waktu yang lebih pendek. Masing-masing daerah harus berlomba menyiapkan diri sejak sekarang agar tidak menanggung malu dalam Porprov VII di Jember, Lumajang, Situbondo dan Bondowoso dua tahun yang akan datang.

———– *** ————-

Tags: