Polrestabes Surabaya Tangkap Pasangan Suami Istri Pengedar Sabu

Wakasat Narkoba Polrestabes Surabaya Kompol Yusuf Wahyu (kanan) menunjukkan barang bukti sabu seberat 74,3 gram dan dua tersangka, Selasa (23/10).[abednego/bhirawa]

Polrestabes Surabaya, Bhirawa
Tim Satresnarkoba Polrestabes Surabaya meringkus pasangan suami istri (pasutri) pengedar narkoba jenis sabu di Surabaya. Kedua pasutri pengedar sabu ini adalah Prio Susanto (36) dan Erika Septiana (26).
Pasutri ini ditangkap di dalam rumah saat sibuk menimbang sabu yang hendak diedarkan. Tertangkapnya pasutri ini berdasarkan hasil penyelidikan polisi terkait informasi adanya pengedar sabu di Jl Krukah.
“Setelah kami intai, rupanya sabu tersebut dikirim ke rumah kedua tersangka,” kata Wakasat Narkoba Polrestabes Surabaya Kompol Yusuf Wahyu, Selasa (23/10).
Prio dan Erika, lanjut Yusuf, tak bisa berkelit saat digerebek. Sebab barang bukti sabu berada di depan mereka. Dari tangan keduanya, polisi mengamankan barang bukti berupa 30 poket sabu dengan berat 74,3 gram. Selain itu, petugas juga mengamankan uang hasil penjualan sabu senilai Rp 47 juta.
“Kami juga mengamankan dua buah timbangan elektrik, satu unit handphone yang berisi transaksi, buku tabungan hingga seperangkat alat isap,” jelasnya.
Ternyata selain mengedarkan sabu, sambung Yusuf, Prio juga menjadi pemakai aktif. Dalam menjalankan aksinya, Prio biasanya memesan narkoba dari seorang bandar asal Madura berinisial DL. Proses transaksi dilakukan dengan cara ranjau di kawasan Kedung Cowek Surabaya. Setelah itu, sabu dibawa pulang kerumah tersangka. Prio lantas menimbang sabu itu dibantu dengan istrinya Erika.
Paket narkoba tersebut dipecah menjadi paket hemat siap edar. Biasanya, sabu dijual ke sejumlah pelanggan di Surabaya. Untuk satu poket kecilnya, Prio menjual dengan harga Rp 250 ribu. Proses transaksinya juga sama, pelanggan mentransfer uang ke rekening tersangka
”Setelah uang masuk, tersangka lantas meranjau sabu di tempat yang sudah disepakati,” ucap Yusuf.
Sementara itu, kepada polisi tersangka Prio memgaku baru tiga bulan menjalankan bisnis narkobanya. Tukang service AC ini mengaku nekat menjadi pengedar lantaran butuh uang untuk biaya hidup sehari-hari.
“Penghasilan sebagai tukang service tak tentu. Apalagi saya harus membeli susu anak ketiga saya yang berumur dua bulan,” ungkapnya.
Sedangkan Erika tak menampik jika ia tahu bisnis suaminya. Dia kerap membantu meracik sabu tersebut menjadi poket kecil. Meski bisnis itu melanggar hukum, namun ia sama sekali tak keberatan lantaran uang yang dihasilkan sepadan.
“Saya kasihan dengan suami lantaran pekerjaannya yang tak menjanjikan, setelah ia jualan sabu saya membantunya,” ungkap wanita bertato ini.
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, keduanya dipersangkakan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) sub Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. [bed]

Tags: