Polrestabes Surabaya Sita 5.250 Botol Jamu Herbal Tak Berizin

Kanit Tipidek Polrestabes Surabaya, AKP Teguh Setiawan menunjukkan ribuan botol jamu merk Binaraci di mobil pick up pengantar, Kamis (16/5). [Abednego]

Polrestabes Surabaya, Bhirawa
Unit Pidana Ekonomi (Pidek) Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil membongkar peredaran jamu herbal tak berizin. Uniknya, meski tak memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, jamu herbal bermerk Binaraci ini sudah sekitar enam tahun beredar di pasaran.
“Produksi jamu merk Binaraci ini di daerah Tongas Probolinggo. Sekitar kurang lebih 6 (enam) tahun, pemasaran jamu ini dilakukan di wilayah sekitar Probolinggo. Dengan konsumen terbanyak di wilayah Madura, khususnya Bangkalan,” kata Kanit Tipidek Polrestabes Surabaya, AKP Teguh Setiawan, Kamis (16/5).
Teguh menjelaskan, operasi pangan ini dilakukan Unit Pidek Satreskrim yang mendapatkan informasi bahwa ada minuman berupa jamu yang dipasarkan tanpa izin edar. Setelah memastikan informasi yang dimaksud, lanjut Teguh, tim kemudian melakukan penangkapan dua unit mobil pick up yang mengangkut minuman kesehatan berupa jamu yang tanpa dilengkapi dengan izin edar BPOM RI.
Sambung Teguh, kandungan atau bahan-bahan pembuatan jamu merk Binaraci ini memang terbuat dari bahan-bahan herbal. Seperti temulawak, kunyit, temu ireng, secang, kencur, kunci dan kayu angin. Bahkan jamu ini, oleh tersangka Marjonlis Dauly pemilik CV Loka Jaya Abadi diproduksi menggunakan tungku yang kemudian direbus.
“Memang bahan pembuatannya dari bahan herbal. Namun ini dikonsumsi oleh manusia, dan diawaijbkan harus memiliki izin edar. Yakni wajib di daftarkan di Balai POM, sehingga nantinya akan diuji apakah aman untuk dikonsumsi oleh manusia,” jelasnya.
Ditanya terkait adanya label BPOM di kardus kemasan jamu, Teguh menegaskan, setelah dicek di BPOM ternyata label tersebut tidak terdaftar. Oleh karena itu pihaknya melakukan penyitaan terhadap kurang lebih 5.250 botol jamu merk Binaraci.
“Memang label BPOM yang tertera dalam kardus Binaraci hanya sekedar tempelan saja, atau untuk mengelabuhi. Bahkan tersangka Marjonlis Dauly ini sudah memproduksi jamu Binaraci kurang lebih 6 (enam) tahun lamanya,” tegasnya.
Adapun barang bukti yang diamankan, yaitu dua unit mobil pick up merk Mitsubishi L300 dan Daihatsu, dua lembar surat jalan dari CV Loka Jaya Abadi, empat buah anak kunci dan 105 dus jamu merk Binaraci atau sebanyak 5.250 botol.
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 196 Jo Pasal 98 ayat (2) dan atau Pasal 197 Jo Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. “Ancaman hukuman pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 100 miliar,” pungkas Teguh. [bed]

Tags: