Polda Jatim Bongkar Peredaran Kosmetik Ilegal Beromzet Miliaran Rupiah

Polda Jatim, Bhirawa
Subdit I Tipid Indagsi Ditreskrimsus Polda Jatim membongkar kasus dugaan tindak pidana peredaran kosmetik ilegal mengandung bahan berbahaya dan tidak memiliki izin edar. Bahkan, kosmetik yang beroperasi mulai 2017 ini per bulannya beromzet Rp 1,6 miliar.
Kasubdit I Tipid Indagsi Ditreskrimsus Polda Jatim, Kompol Suryono mengatakan, produk kosmetik bermerk KLT ini diproduksi perusahaan bernama PT Glad Skin Care. Perusahaan yang berlokasi di Jl Babatan Menganti, Surabaya ini memproduksi kosmetik yang mengandung mercury dan hidroquinone.
“Omzet per bulan dari penjualan kosmetik bermerk KLT ini sebesar Rp 1,6 miliar. Dan sudah beroperasi mulai 2017, dengan sasaran wilayah di Jatim,” kata Kompol Suryono, Kamis (24/10).
Suryono menjelaskan, dari hasil ungkap ini petugas menetapkan pimpinan atau Direktur PT Glad Skin Care berinisial MM sebagai tersangka. Selama 2017 sampai berhasil diungkap, Suryono mengaku, kosmetik merk KLT ini diedarkan di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Kediri dan di wilayah di Jatim.
“Peredarannya mulai 2017 di wilayah Jatim. Seperti di Kota Surabaya, Sidoarjo dan Kediri. Kami masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap MM untuk mengembangkan kasus ini,” jelasnya.
Masih kata Suryono, pengungkapan kasus ini bermula saat September 2019 didapati informasi terkait peredaran kosmetik tanpa izin dan mengandung bahan mercury dan hidroquinone. Selanjutnya pada 3 September 2013 dilakukan penyelidikan di Sidoarjo dan Kediri, ditemukan fakta peredaran kosmetik merk KLT tanpa izin.
Dari hasil ungkap itu, Polisi menyita barang bukti kosmetik merk KLT dari penjual berinisial YY sebanyak 2.294 pcs pemilik salon kecantikan berinisial NC dengan barang bukti 10 pcs kosmetik merk KLT dan dari karyawan berinisial S sebanyak 136 pcs kosmetik merk KLT.
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, sambung Suryono, tersangka dipersangkakan Pasal 196 Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Adapun ancaman hukumannya pidana penjara paling lama 10 tahun, dan denda paling banyak Rp 1 miliar.
“Tersangka juga disankakan Pasal 197 Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Dengan ancaman hukumannya pidana penjara paling lama 15 tahun, dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar,” tegas Suryono.
Sementara itu, Kasi Inspeksi Badan POM Surabaya, Siti Amanah menambahkan, produk kosmetik yang bisa diedarkan harus memiliki izin edar berupa notifikasi kosmetik. Sementara kosmetik bermerk KLT tersebut tidak memiliki izin edar, sehingga dipastikan ilegal.
“Harus melalui BPOM untuk diedarkan, dan harus memiliki izin edar berupa notifikasi kosmetik. Registrasinya harus ada, sedangkan pada kosmetik ini (KLT) tidak ada nomor izin edarnya. Jadi secara legalitas tidak terdaftar atau tidak meiliki izin edar,” tambahnya.
Tak hanya itu, sambung Siti, produk kosmetik bermerk KLT tersebut mengandung bahan berbahaya, yaitu merkuri dan hidroquinone. “Merkuri memang memiliki efek untuk memutihkan kulit. Namun, lama kelamaan, bahan berbahaya tersebut bisa menyebabkan kanker kulit. Sehingga produk tersebut ditarik dari pasaran,” pungkasnya. [bed]

Tags: