PLN ESDM Jatim Janji Tuntaskan Penerangan Listrik Masalembu 2020

Kadis ESDM Jatim, Setiajid saat bersama warga Masalembu bahas soal listrik penerangan

Surabaya, Bhirawa
Menjawab tuntutan dari Asosiasi masyarakat Masalembu pelanggan PLTD, PLN targetkan segera listriki Pulau Masalembu pada 2020 sesuai dengan hasil audiensi yang diselenggarakan di Dinas ESDM Jawa Timur, Rabu (25/09).
A Rasyid Naja Senior Manager General Affairs PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur mengatakan,
Audiensi yang terdiri dari PLN, Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur dan perwakilan masyarakat Masalembu menyepakati bahwa akan dibangunnya PLTS Komunal dengan baterai (Off Grid) berkapasitas 300 kWp. Alasan pemilihan pembangkit listrik tenaga surya ialah besarnya potensi energi matahari di Pulau tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, masyarakat setempat mendukung penuh upaya ini dengan memfasilitasi dan membantu proses survey, sosialisasi, pengadaan lahan, perijinan hingga tahap pembangunan PLTS nantinya.
Komitmen dan kesungguhan PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur untuk melistriki seluruh wilayah Jawa Timur selaras dengan target Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menargetkan pada tahun 2021 seluruh penduduk Jawa Timur dapat menikmati aliran listrik baik di daratan maupun kepulauan.
Selama ini masyarakat Masalembu mendapatkan sumber aliran listrik dari PLTD berkapasitas 500 kW yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep, Koperlindo. Jumlah pelanggan yang dikelola PLTD yakni sejumlah 656 pelanggan dengan panjang Jaringan Tegangan Menengah 1.735 kms, dan Jaringan Tegangan Rendah 4.450 kms
Apa yang disampaikan oleh PT PLN UID Jatim tetsebut adalah menjawab
Klaim sepihak Pemprov Jawa Timur terkait Elektrifikasi Jawa Timur, khususnya di Madura yang mencapai 98 persen, dipertanyakan Masyarakat Pulau Masalembu Kabupaten Sumenep.
Ahmad Juhari, Ketua Asosiasi Masyarakat Masalembu Peduli Listrik mengatakan, di wilayahnya listrik masih belum maksimal. Pelayanan listrik dengan tenaga diesel masih jauh dari layak. Listrik hanya mampu menyala selama 6 Jam, mulai pukul 17.30 hingga 23.30 WIB. “Pasokan listrik hanya cukup untuk menyala selama 6 jam, setelah itu ya gelap lagi,” ujar Ahmad Juhari disela-sela pertemuan dengan Kadis ESDM Jawa Timur.
Selain itu, listrik dengan diesel juga tidak mampu menjangkau seluruh rumah yang  ada di Masalembu. Dari sekitar 750 rumah, hanya 600 rumah yang teraliri listrik.  Persoalan lain yang muncul adalah ekonomi, khususnya bagi para nelayan Masalembu. Hasil tangkapan mereka tidak bisa tersimpan dengan baik, karena cold storage yang dimiliki tidak bisa dioperasikan.
“Nelayan yang paling merasakan dampak tidak adanya pasokan listrik, padahal sebagian besar Warga Masalembu bekerja sebagai nelayan. Hasil tangkapan yang melimpah akhirnya tidak bisa memberikan pendapatan yang maksimal, karena tidak tersimpan dengan baik,” ujar Ahmad Juhari.
Sementara beban lain yang dirasakan Warga Masalembu adalah biaya listrik yang sangat mahal. Tiap bulan masyarakat di kepulauan  tersebut harus membayar sekitar Rp.600.000 hingga Rp.900.000 kepada pengelola listrik diesel. Sejauh ini pihak warga sudah mengajukan permohonan kepada Pemprov Jatim maupun PLN Area Sumenep, namun belum ada respons.
“Kita sudah berjuang ke mana-mana mas, tapi belum berhasil. Pihak PLN juga masih sebatas menjanjikan survey terkait keinginan warga Masalembu mendapatkan aliran listrik,” tambah Juhari. Untuk pembangkit tenaga listrik sebenarnya banyak potensi yang bisa digarap, mulai tenaga surya ataupun angin.
“Kalau di Sulawesi bisa dibangun pembangkit listrik tenaga angin, mengapa di Masalembu tidak. Karena kita punya sumber dayanya, selain tenaga surya,” pungkas Ahmad Juhari.
Sementara itu Kadis ESDM Jatim, Setiajid menjanjikan akan secepatnya mengambil langkah koordinasi dengan instansi terkait, termasuk dengan PLN agar harapan adanya listrik di Pulau Masalembu bisa terwujud.
“Nanti secepatnya saya sampaikan ke Gubernur agar ada percepatan pembangunan pembangkit listrik di sana,” ujar Setiajid. (ma)

Tags: