Piala Dunia U-20

Prestasi sepakbola coba di-advokasi mencapai kejuaraan internasional, di luar kawasan (Asia Tenggara). Penyelenggaraan kejuaraan Piala Dunia U-20 (ke-23) tahun 2021 di Indonesia, akan menjadi tonggak prestasi. Beban itu akan dipikul bersama timnas U-16, U18, dan U-19. Timnas belia patut menjadi pengharapan prestasi sepakbola masa depan. Masih diperlukan peta jalan prestasi lebih sistemik, dengan konsekuensi anggaran lebih memadai.
Timnas U-16 akan memperdalam prestasi pada ajang Piala Asia di Bahrain. Sedangkan timnas U-19 memasang target posisi keempat Piala AFC tahun 2020, yang akan dimulai pertengahan Oktober tahun depan. Pada perhelatan Piala Dunia U-20, timnas belia akan berhadapan dengan 24 tim negara-negara peserta. Termasuk tim Argentina (6 kali juara), dan Brasil (5 kali juara). Timnas Garuda yunior, diuntungkan lolos “gratis” (tanpa kualifikasi), karena sebagai tuan rumah.
Dalam bidding tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021, di Shanghai, China, Indonesia berhasil menyisihkan Brasil, dan Peru. Indonesia menjadi satu-satunya wakil AFC (Konfederasi Sepakbola Asia). Itu setelah Myanmar, Thailand, dan negara-negara jazirah Arab, mengundurkan diri. Namun seluruh anggota AFC mendukung Indonesia. Bahkan anggota AFF (Asia Tenggara) juga siap membantu Indonesia sebagai tuan rumah.
Tidak mudah menjadi tuan rumah even kelas dunia. Pengajuannya menyertakan dokumen berisi 250 item, dilanjutkan eligibility (kepatutan), dan inspeksi lapangan. Konon, PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), memiliki peta jalan ke-prestasi-an. Yakni, melalui tiga fase: pengembangan, performa, dan kemenangan. Fase pertama (pengembangan) telah dilakukan melalui reformasi sistem kepelatihan, per-wasit-an, dan profesionalitas kompetisi seluruh jenjang usia.
Saat ini akan dimulai pelaksanaan fase kedua, performa. Yakni, melalui partisipasi dalam Piala Dunia U-20, dan Olympiade 2024. Andai bukan sebagai tuan rumah, partisipasi dalam Piala Dunia U-20, juga tidak mudah. Serta semakin tidak mudah bisa menembus Olympiade 2024, melalui kualifikasi kawasan (ASEAN), dan zona (Asia). Maka sesungguhnya, posisi sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20, bagai mandatory (keharusan). Sebagai jalan “potong kompas.”
Tidak sedikit anggaran yang dibutuhkan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Tetapi berbagai daerah yang akan menjadi lokasi tanding akan menyokong secara gotongroyong. Terutama perbaikan lapangan. Antara lain perbaikan kamar ganti (termasuk pengamanan super ketat), dan tempat duduk penonton dalam venue harus singgle seat (satu orang satu kursi) seperti dalam gedung bioskop. Selama ini penonton kelas ekonomi masih berupa “kursi” panjang tribun beton.
Beberapa daerah (propinsi, dan kabupaten kota) akan menjadi lokasi tanding World Cup U-20. Selain Jakarta (stadion Gelora Bung Karno), juga terdapat stadion Pakansari (Bogor), stadion Patriot, dan Wibawa Mukti (Bekasi), Si Jalak Harupat (Bandung), stadion Manahan (Solo), Mandala Krida (Yogya), Gelora Sriwijaya (Palembang), stadion I Wayan Dipta (Gianyar, Bali), dan Gelora Bung Tomo (Surabaya).
Gubernur Jawa Barat, Sri Sultan HB-X (Gubernur DI Yogya), dan Walikota Surabaya, menyatakan dukungan. Siaga memperbaiki stadion dengan anggaran APBD masing-masing (selain dukungan dari Perubahan APBN tahun 2020). Usai sukses penyelenggaraan Asian Games, pemerintah bertekad meng-advokasi prestasi olahraga berlanjut sampai Olympiade. Maka diperlukan sistem pembinaan prestasi ke-olahraga-an.
Dalam pesan khusus kepada kabinet baru (Menteri Pemuda dan Olahraga), presiden Jokowi secara khusus “titip” sepakbola. Dengan jumlah penduduk yang besar, seharusnya memiliki banyak potensi yang bisa dibina menjadi prestasi timnas men-dunia. Sesuai roadmap PSSI mentarget bisa tampil pada Piala Dunia 2034, bercokol pada 10 besar peringkat FIFA (saat ini masih peringkat 170).

——— 000 ———

Rate this article!
Piala Dunia U-20,5 / 5 ( 1votes )
Tags: