Perguruan Tinggi Bentuk Paguyuban Mahasiswa Papua

Rektor Unitomo Bachrul Amiq saat berdiskusi dengan mahasiswa Papua di gedung Proklmasi, Senin (19/8) lalu.

Langkah Sikapi Konflik Mahasiswa Papua
Surabaya, Bhirawa
Sejumlah perguruan tinggi melakukan pendekatan strategis menyikapi konflik mahasiswa Papua terutama yang terjadi Asrama Mahasiswa papua Jl Kalasan, Surabaya beberapa waktu lalu.
Salah satunya di Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya. Dalam meyakinkan mahasiswanya, Rektor Unitomo Bachrul Amiq menuturkan jika pihaknya sudah mengumpulkan mahasiswa Papua yang kuliah di tempatnya..
Dijelaskan Amiq, ada 11 perwakilan mahasiswa yang hadir dalam pertemuan tersebut serta bersepakat dengan pihak Unitomo untuk saling menjamin kejadian rasisme seperti telah terjadi di Asrama mahasiswa Papua jl Kalasan tidak mengganggu perkulihan.
Saat ini, kata Amiq,Mengingat ada sebanyak 76 mahasiswa Papua yang kuliah di tempatnya. Dan 26 mahasiswa baru yang akan menempuh pendidikan.
“Hari ini (kemarin) kita undang lagi untuk membentuk paguyuban mahasiswa Papua Unitomo. Himpunan ini akan menjembatani mahasiswa dan kampus. Terkait kendala dan hambatan selama kuliah,” tutur dia.
Sebab, ada beberapa kecenderungan mahasiswa Papua yang perlu dilakukan pembinaan khusus. Seperti adaptasi akademik maupun mahasiwa. Persoalan keuangan, yang berimbas pada absensi perkualihan.
“Kalau ada kesulitan mereka tidak mencari solusi. Tidak mau berkomunikasi dengan kampus tiba-tiba ndak masuk,” katanya.
Karena itu, dengan adanya paguyuban mahasiswa Papua, ia berharap agar mahasiswa Papua lebih fokus pada aspek akademiknya. Pasalnya, pihaknya menginginkan akan adanya pemerataan kualitas sumber daya manusia (SDM) di seluruh Indonesia. Jangan sampai ada SDM tertentu yang mengalami ketertinggal. Apalagi jumlah perguruan tinggi di Papua terbatas.
“Makanya Saya juga dorong untuk mereka aktif kuliah. Karena tujuannya adalah untuk menempuh pendidikan. Kalau sudah sarjana saya tegaskan mereka akan diberikan kesempatan khusus ketika kembali di daerahnya,”paparnya.
Sementara itu, Rektor Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya, Mulyanto Nugroho, menjabarkan sebagai kampus merah putih pihaknya menegaskan jika tidak membeda-bedakan, ras, suku atau etnis, dan agama. Pasalnya, Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, jadi bahasan rutin di kampunya.
“Selain mendidik di bidang akademik. Kita juga mendidik mahasiswa untuk cinta tanah air melalui mata kuliah penciri (pendidikan patriotism),”jelasnya.
Disinggung terkait paguyuban mahasiswa Papua, Untag sendiri sudah lama membentuk paguyuban tersebut. Tidak hanya ikatan mahasiswa Papua, melainkan juga Ikatan mahasiswa dari berbagai etnis. Seperti Madura, Maluku, hingga Timor Leste.
“Dalam organisasi itu, banyak aktifitas yang dilakukan. Senior memotivasi juniornya untuk semangat dalam menuntut ilmu agar bisa membangun daerahnya masing-masing,” urainya.
Langkah tersebut juga dikuatkan dengan pembangunan Fakultas Kedokteran, yang rencananya akan diisi sebanyak 80 persen dari mahasiswa dari Indonesia Timur. Semnetara sisanya, akan diisi mahasiswa dari pulau Jawa.
“Karena kita fokus penanganan penyakit di daerh timur, seperti malaria, dan pencernaan, kita prioritaskan mahasiswanya diisi oleh orang-orang Indonesia Timur. Langkah ini juga sebagai upaya kami untuk pemerataan kualitas SDM,”katanya.ina
Saat ini, di Untag sendiri total ada 88 mahasiswa yang berasal dari Papua. 15 mahasiswa merupakan mahasiswa baru yang akan menempuh pendidikan tahun ajaran 2019 ini. [ina]

Tags: